“Terlalu lama berbaring hanya akan membuat diriku semakin
berkarat.”
Marwan Hadid, entah apa alasan orang tuaku memberikan nama
itu. Aku juga belum pernah bertanya tentang namaku kepadanya, bukanlah tema
menarik sebagai bahan obrolan antara orang tua dan anak. Lebih tepatnya kami cukup
buruk dalam hal komunikasi, jadi wajar jika bahan obrolan adalah seperlunya
saja. Sekarang, tentang nama yang diberikan orang tua masih membuatku
penasaran. Apakah mereka memberi nama menurut pengetahuannya, mengerti makna
dari nama, terinspirasi dari seorang tokoh, atau mungkin mereka dapat namaku
dari saran seseorang yang berilmu. Cukup heran bagiku tentang nama anak orang
tuaku, karena sepengetahuanku nama yang diberi adalah nama yang lebih dahulu pernah
dipakai tokoh-tokoh cukup ternama, kecuali nama kedua adikku yang belum aku
ketahui pernah dipakai oleh siapa. Seperti nama kakakku yang persis dengan nama
penulis dari Persia (Iran), dan namaku pernah dipakai oleh pejuang besar bagi
pendukungnya sekaligus teroris bagi pihak yang merasa terteror.
Sejak kecil aku sudah belajar bahasa Arab, dari pengenalan huruf, membaca, menulis, pembentukan kata, gabungan antar kata, sampai penerjemahan. Dulu sudah sadar bahwa namaku berasal dari bahasa Arab, terutama nama belakangku, Hadid ‘besi’. Aku cukup yakin dengan dugaanku semenjak pertama kali mengetahuinya dari nama surat dalam al-Qur`an. Akan tetapi, yang masih jadi keraguan adalah nama depanku, Marwan, belum ditemukan kepastian tentang bentuk dan makna yang tepat. Pernah terpikirkan jika nama depanku merupakan bentuk ism makan (nomina tempat) atau zaman (nomina waktu) dari akar tiga konsonan r-w-y (baca: rawā, dalam fi’l mād mujarrad ‘verba dasar lampau’). Kemungkinan maknanya ‘perjalanan’ atau ‘menceritakan’ (diubah dalam bentuk nomina tempat/waktu). Itu dugaan masa kecilku yang sebenarnya sudah penuh keraguan karena dihadapkan pada dua bentuk nomina dan tentunya empat makna.
Sepertinya bahasa Arab sudah ditakdirkan untuk menyertaiku
di setiap tahapan pendidikan. Tak pernah lepas, walaupun aku masuk ke sekolah
umum dan bukan berasal dari keluarga islami (maskud: pesantren/ulama/kental
Islam). Adapun sekarang, dengan sadar menerima kenyataan karena pilihanku juga,
aku masuk perguruan tinggi dengan program studi Sastra Arab. Skripsiku
berhubungan dengan pembentukan verba bahasa Arab, dan mengharuskanku mendalami
materi morfologi umum dan morfologi Arab yang tidak dibatasi verba maupun
nomina. Dari pendalaman materi skripsilah aku paham bahwa sebagian besar kata
dalam bahasa Arab dibentuk dari akar konsonan, setiap konsonannya dominan
berjumlah tiga dan sebagian berjumlah empat. Hampir setiap kata Arab yang aku
temukan, bahkan yang tidak diketahui maknanya, bisa aku pahami berasal dari
akar apa. Namun, rasanya tidak berguna ketika tidak mengetahui akar dari nama
depanku. Nama yang sulit, atau mungkin pengetahuanku masih sangat kurang. Jadi
memaklumi diri sendiri jika skripsi tak kunjung usai, karena akar dari nama
depanku saja belum aku ketahui.
Bukan tanpa alasan jika aku tidak mengerti nama depanku.
Bentuknya cukup unik, kamus Arab pun tidak memuatnya (mungkin ada di kamus yang
belum aku sentuh). Untuk mengetahui bentuk aslinya, maka aku cari di internet
nama Marwan dengan bahasa Arab. Lazimnya nama Marwan untuk nama orang tertulis مروان (m-r-w-alif-n)
/marwān/, dan tidak ada tulisan lain. Karena itu, dugaan masa
kecilku rontok seketika, bentuknya jelas berbeda. Dengan bentuk seperti itu, tidak mungkin
berasal dari akar tiga konsonan r-w-y. Penasaran jawaban dari google translate, مروان /marwān/ diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Indonesia,
ternyata hanya ditawarkan satu jawaban, Marwan. Niat menerjemahkan bahasa
asing, malah keluar jawaban nama Marwan dalam aksara latin yang secara pelafalan
sama dengan bahasa Arab.
Sebenarnya,
jika acuannya pelafalan, maka bisa muncul banyak dugaan mengenai makna Marwan. Sebagian contoh seperti
dugaan masa kecil yang menawarkan empat makna. Contoh lain yang belum lama aku
temukan bermakna ‘koral’ dan ‘batu api’,
kelas kata nomina
plural, berasal dari akar tiga konsonan m-r-w. Akan tetapi, tetap saja
semuanya menjadi omong kosong jika melihat bentuk tertulis yang lazim dipakai
orang Arab sebagai namanya, karena memang bentuknya berbeda. Cari di internet
dengan situs almaany.com, situs pemaknaan kata Arab ke Arab yang cukup ampuh,
tetapi tidak memberikan jawaban. Belum puas, cari di situs morfologi Arab
andalanku ElixirFM, quest.ms.mff.cuni.cz/cgi-bin/elixir/index.fcgi, dan ternyata jawaban yang
diberikan tidak beda dengan google translate. Namun, keunggulannya situs
tersebut menunjukkan akar dari nama depanku. Bentuknya berasal dari akar tiga
konsonan m-r-` (` = hamzah).
Bermodalkan dugaan akar yang telah diketahui, kamus pun
dibuka, mencari kata apa saja yang dibentuk dari akar tersebut. Dari sekian
banyak kata yang dibentuk dari akar m-r-`, satu pun tidak ada yang
mengatasnamakan Marwan, tetapi cukup mengagumkan melihat setiap makna dari
kata-kata tersebut. Beberapa
makna yang muncul berkenaan dengan baik, bermanfaat, enak, kejantanan,
keberanian, orang, dan serigala. Cukup hebat, bagiku berkesan, dan
kemungkinan besar makna Marwan tidak jauh dari makna-makna tersebut. Aku coba
rangkai semua makna tersebut menjadi satu kesatuan, yaitu “orang
pemberani dengan kejantanannya bagaikan serigala, baik
dan bermanfaat yang selalu membawa perasaan enak terhadap
sekitarnya”. Menurutku keren, tetapi mungkin bagi orang lain
terkesan alay dan aku tidak peduli. Nama yang berat, terlalu besar bagi
pemalas sepertiku, lebih berat lagi jika disandingkan dengan Hadid ‘besi’. Besi
sifatnya bermanfaat dan kuat. Jika dipikir lagi, Marwan dan Hadid memiliki
karakter yang sama, tentang kekuatan, keberanian, dan bermanfaat. Tidak lupa
keramahan, karena baik dan enak tidak jauh beda dengan keramahan. Semua besi juga
ramah, tidak pernah marah pada siapapun yang memegangnya. Dipegang orang baik sikapnya
ramah, dan dipegang orang tidak baik pun tetap ramah. Benda mati.
Itu semua hanya dugaan. Kepastian dipegang oleh Hadid
‘besi’, dan Marwan tetap belum ditemukan kepastiannya yang mungkin maknanya
jauh berbeda dengan saudara-saudara sekata yang dibentuk dari akar m-r-`,
walaupun sebenarnya perbedaan makna Marwan tidak akan terlalu jauh dengan
saudara-saudaranya. Permasalahan lain yang muncul adalah penggabungan Marwan
Hadid. Jika kedua kata tersebut adalah idiom, maka dugaanku yang pasti maupun
yang belum pasti akan sangat tidak berguna. Karena biasanya idiom jauh berbeda maknanya
dengan makna dasar dari kata-kata pembentuknya. Layaknya dalam bahasa
Indonesia, idiom meja hijau bermakna pengadilan, bukan meja
berwarna hijau. Jangan dulu berpikiran jauh kepada idiom, mengenai frasa tarkib
wasfi atau idafi saja belum diketahui kejelasannya. Jika wasfi,
maka status Hadid sebagai sifat dari Marwan. Jika idafi, maka Hadid
sebagai tempat (lokasi, letak, atau apalah istilah yang tepat)-nya Marwan.
Kenapa juga aku harus memikirkan nama, abaikan, tetapi
pikiranku selalu dibayangi untuk menemukan jawaban. Dari sekolah dasar sampai
perguruan tinggi selalu dihantui nama. Apa mungkin Marwan bukan berasal dari
bahasa Arab, mungkin bahasa Arab kuno yang sudah dilupakan, mungkin juga
berasal dari bahasa Semit non-Arab, atau mungkin bahasa bangsa lain tetangganya
Semit. Arti dari sebuah nama. Sebagian tujuan pencarian makna nama untuk
mengetahui apakah karakter hidupku ini disebabkan faktor nama. Sebagian besar
orang yang aku kenal memiliki karakter yang sesuai dengan makna namanya. Ada
juga yang tidak sesuai, tetapi mungkin di masa depan karakternya berubah
menyesuaikan nama yang disandangnya. Orang-orang bernama Marwan, internet
memberiku jawaban bahwa nama itu dimiliki orang-orang terpandang, minimal
dikagumi orang-orang di sekitarnya. Begitu juga Hadid, tidak sedikit orang
hebat bernamakan Hadid, biasanya berhubungan dengan art, kemudian artist.
Ada juga yang memakai nama Marwan Hadid, sampai google dipenuhi oleh orang yang
satu ini, membuat namaku tidak muncul sedikit pun di bagian depan. Sayangnya
media membuat tokoh tersebut terkesan busuk, dengan mencantumkan gelar teroris.
Setidaknya dengan gelar tersebut menandakan bahwa dia cukup disegani,
pengaruhnya besar dan luas.
Adapun aku, entah bakal jadi apa di masa depan. Baru
dihadapkan kisi-kisi makna nama saja sudah bungkuk bermuka suram. Rasa tidak
percaya diri muncul ketika mental diriku menyikapi bahwa namaku terlalu besar. Aku
hanyalah pemalas. Apanya yang pemberani, jantan, bermanfaat, baik, dan enak,
semua gelar tersebut tidak pantas bagi pemalas, jika ditujukan bagi serigala
memang pantas, tetapi bukan aku. Seandainya aku ditakdirkan untuk menghadapi
hal besar yang memerlukan gelar-gelar tersebut, aku menyerah saja, ganti nama
lebih baik sepertinya. Lagi pula, apa yang bisa dilakukan orang sepertiku? Mencari
asal, bentuk, dan makna nama sendiri saja tidak mampu. Percuma belasan tahun
berkutat dengan bahasa Arab, semuanya omong kosong, dihantui Marwan, Marwan,
Marwan, dan Marwan. Kenapa juga namaku
harus kearab-araban? Kenapa tidak dari Sunda saja? Tidak ada kepastian, hanya
ketidakjelasan.
Betapa kasihan aku yang sekarang, aku saja prihatin pada
diriku sendiri yang lemah, kehilangan jiwa, taring, dan cakarnya. Rasanya lebih
hebat diriku yang dulu ketika berumur di bawah 20 tahun. Karakterku yang dulu
rasanya tenang, ringan, damai, periang, tak takut walaupun harus memanjat
tebing terjal berjarak belasan meter. Dulu, apapun yang aku bayangkan dan
direncanakan sebagian besar terjadi di masa depan, tentunya semuanya masa lalu
bagi waktuku yang sekarang. Percaya diri, yakin semua hal yang aku bayangkan
akan terjadi, walaupun tak tahu kapan waktu hal itu akan terjadi, tetapi
sebagian besar yang aku bayangkan selalu terjadi. Bukan berarti bisa membaca
masa depan, hanya Tuhan yang paham masa depan, dan aku hanya bisa berhayal. Apa
yang dulu aku bayangkan dan terjadi adalah hal-hal yang bagiku besar, bukan
sesuatu yang mudah dilakukan banyak orang, hal yang sebanding dengan makna nama
yang aku sandang. Hebatnya, dulu tidak risih ketika menyikapi apa yang
dibayangkan. Hanya bersikap tenang, bahkan mungkin sejenak lupa, dan jika ingat
hanya sekilas menggerutu “hal itu akan berada dalam genggamanku”.
Ada apa denganku yang sekarang? Mungkin pemikiranku yang
sekarang lebih dewasa, sehingga setiap apapun yang dibayangkan adalah
kemustahilan, lebih rasional. Bersikap hati-hati, tidak percaya diri, penuh
pertimbangan, rasa takut, dan semua perasaan yang tidak layak bagi penyandang
nama Marwan Hadid. Dewasa adalah baik, tetapi jika tidak lebih baik dengan
hidupku yang dulu, maka semuanya buruk. Apa mungkin aku yang dulu lebih dewasa
dari pada diriku yang sekarang? Ada kalanya aku ingin kembali ke masa lalu,
masa yang tidak pernah takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Inilah
aku yang sekarang, dipenuhi pikiran tentang masa depan yang sebenarnya tidak
perlu dipikirkan. Masa depan adalah ketiadaan, dan jika memikirkannya berarti
hanya memikirkan kekosongan belaka. Masa depan itu misteri. Buruknya, pikiran
tentang masa depan hanya membuatku murung, takut tanpa aksi untuk menggenggam
bayangan yang dibayangkan. Itu semua membuatku bingung harus melakukan apa.
Selain aktifitas wajib seperti makan, minum, ibadah, bersih-bersih, tidak ada
lagi hal lain yang aku lakukan selain murung. Pemurung yang ditakuti masa
depan, hanya bisa berbaring dan merenung tanpa aksi yang tampak. Benar-benar
terjadi perkataan orang dewasa yang sering aku dengar waktu kecil, bahwa jadi
orang dewasa itu tidak enak. Padahal dulu aku selalu ingin menjadi orang
dewasa.
Walaupun aktifitas sekarang adalah murung bermalas-malasan,
tetapi nyatanya hatiku selalu berontak bahwa kehidupan seperti itu bukanlah
gayaku. Selalu saja harus bangkit dari lemahnya raga ketika terbaring,
mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan. Satu-satunya bagian hidupku yang tidak
mampu berbohong adalah hati, walaupun sering kali ragaku menguasainya untuk
berbaring. Hati adalah bagian kehidupan tak nampak, layaknya pikiran. Mungkin
hatiku yang berkobar semangat gerak adalah bentuk dasar dari nama. Karakter
hati dibentuk oleh makna nama Marwan Hadid. Hasshh... Apa yang dipikirkan orang
tuaku dengan memberikan nama Marwan Hadid? Apa yang diharapkan oleh mereka?
Yang jelas setiap orang tua ingin melihat anaknya menjadi orang hebat, entah
apapun bentuk aksinya yang penting terkesan hebat.
Tidak sepenuhnya berubah aku yang sekarang dengan aku yang
dulu. Aku yang sekarang masih selalu melakukan kebiasaan lama, membayangkan
diriku di masa depan, dan cukup yakin apa yang dibayangkan dapat aku genggam.
Perbedaannya adalah cara menyikapi, dan tentunya lebih hebat aku yang dulu. Aku
selalu membayangkan bahwa diriku akan menghadapi hal seperti dalam tulisan Arah Hidup. Jelasnya, terbayang bahwa diriku akan menghadapi hal besar, non-profit
bagiku secara harta benda, tetapi dampaknya cukup luas bagi umat manusia dan
bumi. Bukan tentang tahta, status sosial, atau ketenaran yang dapat memberiku
rumah besar beserta mobil mewah. Namun, sayangnya yang aku bayangkan sekarang
masih buram, hanya bayangan bahwa aku akan menghadapi hal besar, tidak seperti
dulu yang jika membayangkan sesuatu selalu disertai bentuk yang jelas di dalam
pikiran.
Di umurku sekarang, masih berputar tanpa titik temu tentang
apa yang harus aku lakukan. Pernah diputuskan bahwa aku akan memulai semuanya
dengan mendalami agama, dan sudah mulai dilakukan. Jika hanya itu, mungkin
sampai umur 30 tahun masih mendalami agama tanpa mengerjakan aktifitas lain,
padahal antrian agenda cukup panjang. Keinginanku cukup bervariasi, tidak
banyak, hanya saja setiap agenda bercabang dan memerlukan proses yang tidak
sebentar, karena setiap keinginanku cukup besar. Banyaknya keinginan disertai pula
dengan banyaknya penderitaan. Sesuai dengan penggalan lirik Seperti Matahari, “keinginan
adalah sumber penderitaan” (Iwan Fals). Justru bagiku penderitaan
adalah bagian dari bumbu kenikmatan hidup. Nikmati saja setiap nafas di dalam
detik-Nya, dan bersyukur kepada-Nya supaya keindahan hidup tetap terjaga. Tidak
mungkin aku melancarkan semua agenda jika melakukannya satu persatu. Dua atau
tiga aktifitas dilakukan bersamaan mungkin hasilnya cukup baik. Akan tetapi,
aktifitas apa yang harus dilakukan di samping mendalami agama?
Sudah sepantasnya di waktuku sekarang untuk menikah, tetapi
menentukan apa yang dikerjakan saja masih bimbang. Menikah bukan hal sederhana,
bukan tentang kekayaan dan kesenangan, tetapi tentang kesanggupan menafkahi,
menjaga, dan meluangkan waktu. Menafkahi, untuk sementara aku hanya mampu
mengusahakan makanan dan pakaian, belum sampai membelikan rumah dan tabungan
masa depan. Menjaga, seberat apapun pasti diusahakan, hanya menjaga, tetapi di
zaman yang mendewakan uang seperti sekarang ini mungkin akan sedikit kewalahan.
Meluangkan waktu, hal yang mungkin sedikit merepotkan, berpotensi mengubah
setiap agendaku. Untuk melancarkan setiap agenda, aku harus mencintai setiap
aktifitas dalam agenda sebanding cinta yang diberikan kepada istri. Sempat
tergiur opini yang tersebar di masyarakat, bahwa pernikahan memberikan
keajaiban, meringankan setiap tujuan yang diusahakan. Itu opini orang lain dan
bukan gayaku, karena ketakutanku jika nantinya berujung kesengsaraan bagi calon
istri, menghalangi bahkan mungkin menghapus setiap mimpi besarnya yang
direncakan sebelum pernikahan. Apa nikmatnya pernikahan jika melihat orang yang
dicintai merasa terpuruk.
Tragisnya, setiap agendaku merupakan aktifitas non-profit
secara keuangan. Agendaku hanyalah tentang kepuasan diri, kepuasan yang sampai
jika melihat orang-orang sekitar tersenyum, jika melihat alam bernyanyi, jika
burung-burung menari. Agenda yang bukan romantis, tetapi realistis,
menanggalkan setiap angan-angan indah untuk kepentingan pribadi yang sebenarnya
hanyalah kekosongan dan berpotensi menjadikan manusia depresi. Agenda yang tidak
menarik bagi para gadis zaman sekarang. Mungkin akan menyulitkanku untuk
menikah karena kesulitan mencari pasangan hidup. Aku tidak peduli, itu urusan
Tuhan, setiap orang berbeda, aku yakin tidak semua gadis dikuasai sisi romantis
di dalam dirinya.
Ah... nama. Membuatku bingung tentang apa yang harus aku
lakukan. Aku adalah nama, dan nama adalah aku. Mengeluh tidaklah memberi
jawaban, nikmati saja nama yang dimiliki sebagai berkah yang mesti
dipertanggungjawabkan. Seharusnya aku bersyukur, nama Marwan Hadid merupakan
salah satu faktor penyebab terjadinya mimpi-mimpi besar yang sering dibayangkan,
bahkan sebagian mimpi sudah didapatkan. Terima kasih kepada orang tuaku karena
telah memberikan nama Marwan Hadid. Nama yang pernah membuatku malu di sekolah
dasar, karena terkesan aneh, dan lebih menganggap keren nama temanku yang
diambil dari bahasa Sunda dan nama-nama modern. Nama yang sekarang aku anggap
hebat, memberi keajaiban bagiku sebagai penderita gejala diabetes, ginjal,
liver, jantung, bahkan yang sudah jelas seperti lambung usus dan paru-paru,
semua penyakit tidak memberikan pengaruh yang menjadikanku lemah, dan rasanya
sedikit pun aku tidak menderita penyakit. Nama yang selalu membuatku tegar,
sesuai dengan karakter makna nama yang sementara telah aku dapat. Nama yang
menjauhkanku dari ego pribadi, dan mementingkan ego bagi kepentingan sekitar.
Aku tidak akan berusaha untuk menanyakan makna dan
tujuan nama kepada orang tua, aku sendiri yang akan mencari jawabannya. Dengan
caraku sendiri, melakukan aksi setiap agenda, bukan murung terbaring yang hanya
membuatku semakin berkarat. Karena Marwan Hadid tidak akan mengecewakan pemberi
nama, penyandang nama, orang-orang yang menyebutnya, terutama kepada Tuhan yang
menetapkannya kepadaku. Marwan Hadid adalah aku, dan aku adalah Marwan Hadid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar