Lagi-lagi Bandung membuatku bosan. Mungkin karena tidak ada
kegiatan yang terencana, karena tujuan utama pulang ke Bandung selalu hanya
untuk liburan, menanggalkan beban, melepas rindu, dan bersenda gurau bersama
keluarga. Seperti halnya ketika pulang ke Bandung tanpa direncanakan, hanya
bertapa di Srewen seperti yang telah ditulis dalam Bertapa Di Musim Liburan, sisanya
bertemu keluarga dan dipenuhi rasa bingung sampai mengerjakan apa yang bisa
dikerjakan tanpa rencana.
Bertapa di Srewen membuatku ingat hal yang dari dulu selalu
membuatku penasaran. Tempat tinggalku, Cicalengka, diapit oleh pegunungan dari
arah utara dan selatan. Selalu membuatku penasaran, apa yang ada di balik
pegunungan tersebut, apakah terdapat pemukiman, atau mungkin di balik gunung
terdapat berlapis-lapis gunung. Jika melihat dari Srewen, bagian selatan
Cicalengka adalah gunung, dan di baliknya ada gunung lagi, membuatku menghayal
adanya pantai di balik gunung yang terlihat paling selatan. Saat itu juga
internet menjadi solusi rasa penasaran, dan ternyata bagian selatan Bandung
terdapat dua daerah berbeda, Garut dan jika tidak salah satu lagi Cianjur.
Sementara rasa penasaran terpecahkan, dan aku agendakan untuk menelusuri bagian
selatan Bandung.
Pagi hari di rumah membuatku bosan, televisi kurang membuatku
terhibur, karena di Yogya terbiasa tidak menonton, dan telah sadar bahwa
kebanyakan program televisi hanyalah ilusi yang dapat membuat pikiranku rusak.
Ajak adikku bermain malah ditolak karena sibuk dengan gadget-nya,
permainan anak kecil zaman sekarang, permainan kurang sehat lebih dicintai.
Akhirnya, terbuka lebar kesempatan untuk menjalankan agenda menapaki selatan
Bandung. Tas kecil, sarung tangan, dan kaki yang diselimuti kaus kaki hitam
dengan alas sandal jepit merupakan pertanda bahwa aku telah siap meluncur
dengan sepeda motor. Tak perlu GPS atau peta, bagiku perjalanan jarak jauh
dengan kendaraan pribadi adalah tentang insting. Instinglah yang membuatku jarang
tersesat, seperti ketika pertama kali memulai perjalan Yogya-Bandung, puji
Tuhan bisa sampai ke rumah tanpa kendala dengan waktu yang cukup mengesankan,
hanya 7 jam.
Bingung di awal untuk memilih jalan yang dapat membawaku ke
balik gunung selatan. Sekitar enam atau tujuh tahun aku tidak bermain ke arah
selatan. Terakhir yang paling aku ingat ketika masih SMA, dan mungkin
setelahnya pernah ke selatan lagi, tetapi lupa. Yang aku ingat, satu-satunya
akses ke balik gunung selatan adalah daerah Cijapati, daerah selatan jalur
timur paling jauh yang dulu cukup sering aku tapaki. Masalahnya adalah bingung
sedikit lupa jalan mana untuk ke daerah Cijapati, karena dari Cicalengka
terdapat sekitar empat jalan yang dapat menembusnya. Aku putuskan jalan yang
paling dekat saja, paling timur, jalan yang berawal dari rumahku, Warung Lahang-Nagrog-Cicalengka, menuju kampung tetangga Narawita, Cicadas, Bolang,
lalu kecamatan tetangga Cikancung, hingga dapat sampai ke Cijapati.
Baru saja di Narawita sudah dibuat bingung, bulak-balik
beberapa kali hanya untuk mencari pertigaan ke arah Cicadas. Seingatku, aku
sudah sampai daerah pertigaan, tetapi membuatku heran karena tidak ditemukan.
Jika terus ke arah selatan, maka tembusnya ke Nagreg, niat ke arah selatan
malah berujung ke timur, makanya sedikit ragu jika terus lanjut ke arah selatan
untuk mencari pertigaan. Dari pada tidak mendapatkan jawaban, aku coba untuk
terus ke arah selatan, berharap pertigaan ditemukan. Hasilnya, pertigaan pun
ditemukan dengan ekspresi heran, karena ingatanku berbisik bahwa pertigaan itu
terlalu selatan dibandingkan pertigaan yang dulu pernah dijajal. Bukan masalah,
yang penting sudah masuk jalan menuju Cicadas. Di Cicadas atau mungkin Bolang
sempat dibuat bingung, tiba-tiba saja ada pertigaan. Dengan senang hati aku
pilih jalur kanan, dan belum 50 meter hatiku ragu. Aku pikir jalur kiri lebih
baik, walaupun seandainya salah jalan, tetapi perjalanan tetap menuju ke arah
selatan. Putar balik untuk masuk jalur kiri sambil berpikir tentang jalur kanan
yang sampai di daerah mana. Mungkin jalur kanan menuju daerah Cantel, detailnya
lupa, tetapi aku cukup yakin dengan dugaanku.
Cikancung pun akhirnya dapat ditembus. Sambil tengok kanan
kiri, membuka ingatan lama, mencari di mana letak rumah temanku yang tidak
dapat aku temukan sepanjang perjalanan. Sedikit cerita dalam perjalanan
Cicadas-Cikancung, mengenai masyarakat, khususnya kaum kecil, pemuda, dan ibu
rumah tangga. Semoga aku terhindar dari sikap sombong, terdapat beberapa hal
yang aku sesalkan dari mereka. Kaum muda terlihat seperti hilang jiwanya, hanya
nongkrong bersama kawan-kawannya tanpa melakukan aktifitas yang lebih
bermanfaat. Entah itu kebiasaan mereka dari dulu, atau terjadi pergeseran
budaya. Mungkin mereka tidak mendapatkan sosok penggerak dalam melakukan hal
berguna, karena sepintas terlihat kehidupan mereka saling menganggap bahwa apa
yang mereka lakukan adalah hal biasa. Kasihan kaum kecil yang mimpinya besar,
tidak mendapatkan contoh baik dari pendahulunya, sehingga kemungkinan besar
mimpinya tetap menjadi mimpi. Adapun ibu rumah tangga, sepertinya tidak
memiliki pekerjaan lain selain nongkrong di depan rumah. Anggapanku bahwa semua
pekerjaan rumah mereka sudah selesai, karena orang desa terkenal rajin dalam
pekerjaan rumah. Pertanyaanku, tidak adakah hal berguna yang dapat dikerjakan
selain nongkrong di depan rumah? Dilihat dari rumahnya sebagai bentuk harta
mereka, cukup standar bagi kalangan menengah ke bawah, dan bagiku itu wajar
karena sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Kemiskinan terjadi bukan hanya
karena faktor negara, tetapi bisa juga karena apa yang dilakukan setiap
individu. Pekerja keras berpotensi kaya, dan pemalas berpotensi miskin.
Jalur transportasi Cikancung cukup mudah bagiku, karena dulu
sering main ke sana. Bingung beberapa kali ketika dihapadkan pertigaan adalah
wajar, yang penting tidak berakibat fatal, dan beruntungnya selalu benar
memilih jalur yang tepat ketika dihadapkan pertigaan. Awal jalan Cijapati
ditemukan, sehingga perasaan tenang karena seingatku tidak ada lagi pertigaan
yang akan membuatku bingung di sana. Semakin ke puncak, semakin penasaran
tentang masjid yang dulu pernah menjadi tempat berteduh. Sayangnya masjid tidak
ditemukan, padahal lokasinya di pinggir jalan dengan bangunan yang cukup besar,
atau mungkin terlewat, sebagian keadaan di sana berubah. Hal yang tidak berubah
di sana adalah kios-kios (sebagian lesehan) di pinggir jalan, tentunya
perkebunan, dan hal paling berkesan adalah bau kotoran sapi yang semilir
terbawa angin tercium hidung, padahal kandangnya cukup jauh dari jalan
transportasi utama.
Cijapati (Dok. Pribadi),
Bagi para pemudik hari raya dari arah barat Bandung menuju
timur, mungkin tidak asing dengan tulisan “jalan alternatif Jawa Tengah via
Cijapati-Garut”. Itulah penampakan Cijapati, sebagai solusi pengurai kemacetan
musim mudik yang awalnya biasa terjadi di Bandung bagian timur. Cijapati
sedikit mirip Bukit Bintang yang ada di Yogya jalan Wonosari, dan di Bandung
masih banyak tempat yang seperti Bukit Bintangnya Yogya. Jadi, matanglah dalam
berpikir bagi orang-orang Bandung yang bersusah payah ke Yogya hanya untuk
Bukit Bintang, di kampung halamanmu banyak.
Saatnya menghilangkan rasa penasaran yang selama ini
dipertanyakan tentang sesuatu di balik gunung selatan. Belum pernah sebelumnya
melakukan perjalanan lebih dari puncak Cijapati ke arah selatan, dan tentunya
banyak hal baru yang akan ditemukan. Dalam perjalanan, belum sampai ujung jalan
Cijapati, banyak anak-anak kecil pulang sekolah. Mereka jalan kaki, tidak ada
transportasi umum. Sebagian kelompok anak-anak berteduh, beristirahat dari
perjalanan menuju rumah dengan jarak yang cukup jauh. Aku berkata seperti itu
karena memang sepanjang jalan hanya ada perkebunan, belum terlihat adanya
tanda-tanda pemukiman manusia. Sejenak terheran ketika sebagian kelompok dari
mereka melambaikan tangan. Aku tidak menanggapinya, karena dugaanku mereka
melambaikan tangan pada kendaraan umum di belakangku. Maju sedikit ke depan,
melihat ke kaca spion tidak ada satu pun kendaraan yang mengikuti di belakang.
Di depan ada lagi sekelompok dari mereka melambaikan tangan, dan langsung
kulihat kaca spion untuk memastikan bahwa mereka melakukan hal tersebut pada
kendaraan umum di belakang, dan sekali lagi tidak ada. Ternyata mereka
melambaikan tangan kepadaku supaya aku membawanya, secara non-formal
diistilahkan dengan nebeng. Rasanya bersalah ketika aku tersadar bahwa
mereka membutuhkan jasaku, tetapi aku mencampakkannya. Sambil mencoba
membersihkan pikiran kotor, aku rasa apa yang aku lakukan tidak sepenuhnya
salah. Seandainya aku memberikan tumpangan kepada sebagian dari mereka, maka
tidaklah adil, karena di dalam satu kelompok terdapat lebih dari tiga orang
yang jika membawa sebagian maka akan terjadi kecemburuan sosial. Lebih baik aku
abaikan saja semuanya sambil tersenyum melihat semangat juang mereka, supaya
terkesan adil, termasuk aku abaikan kelompok lain yang ada di depanku.
Di ujung jalan Cijapati, lagi-lagi dibuat bingung oleh
pertigaan. Kali ini benar-benar bingung karena belum pernah ke daerah sana.
Menentukan arah kanan-kiri tidak semudah sebelumnya, karena tepat di depan
terdapat gunung. Bisa saja jalan menuju belakang gunung ke arah kiri ataupun
kanan. Dengan meyakinkan diri, aku pikir jalur kanan hanya akan menghantarkanku
ke Bandung bagian selatan sedikit barat, atau mungkin masuk Cianjur. Maka jalur
kiri pun aku pilih, tidak peduli jika salah, walaupun seandainya salah tinggal
cari pertigaan yang ada belokannya ke selatan. Sayangnya tidak semudah bicara,
aku tidak paham arah mata angin yang ada di sana, tidak semudah Yogya yang
patokannya gunung Merapi sebagai arah utara.
Belum ada tanda-tanda aku telah meninggalkan kawasan Bandung
karena sebagian besar kendaraan berplat nomor D. Lihat alamat-alamat yang biasa
terpampang di depan toko atau kantor, tidak ada yang jelas satu pun menurutku.
Sedikit harapan terbuka ketika melihat plat sepeda motor Z, mungkin sudah
sampai Garut, sayangnya masih ada kendaraan lain yang lalu lalang berplatkan D
bahkan ada yang B, “daerah mana ini !?”. Kejelasan pun terbuka ketika
melihat alamat di depan bangunan, jika tidak salah Bayongbong Garut. Sedikit
senang karena sudah meninggalkan Bandung, tetapi rasa senang tidak berlanjut
lama ketika dihadapkan pertigaan. Kali ini menurutku kanan lebih baik, dan
melihat alamatnya Jl. Kadungora. Kemanakah aku akan berlabuh, aku tidak tahu,
instinglah yang berkuasa pada saat itu.
Hal yang aneh, di sepanjang jalan didominasi kendaraan plat
D dan B. Aku yakin ini Garut yang kendaraannya berplatkan Z, tetapi yang
membuatku bingung kenapa plat Z nominalnya lebih sedikit dibandingkan dengan
yang lain. Dugaanku jalan tersebut adalah jalan utama antar
kota-kabupaten-provinsi. Lebih dari 10
kali aku pulang-pergi Yogya-Bandung menggunakan sepeda motor, tetapi sedikit
pun tidak mengenal jalan itu. Mungkin jalan Kadungora adalah jalan utama Garut
bagian selatan, dan aku biasanya lewat jalan utama Garut bagian utara. Berarti
jalan utama sebenarnya tidak ada, karena ada jalan lain yang identitasnya
utama. Sedikit informasi mengenai nama jalan Kadungora, mudah-mudahan bahasa
Sundaku masih dapat dipertanggungjawabkan, menurutku kadungora diambil dari
bahasa Sunda, merupakan gabungan dua kata, kadu ‘durian’ dan ngora ‘muda’.
Dengan begitu Kadungora adalah durian muda.
Sambil melaju pelan, rencana perjalanan baru pun kembali
dirancang. Tujuan utama tetap pantai, tetapi sedikit iseng berharap singgah di
Cipanas Garut. Tidak ada satu pun penunjuk jalan yang mengatasnamakan Cipanas,
malah yang sering terlihat adalah penunjuk arah menuju Tasik. Semakin
menantang, dibayangi perasaan ragu ketika dihadapkan pada ketidakjelasan titik
temu. Sedikit terbuka harapan ketika terdapat papan iklan di pinggir jalan yang
menyatakan “hotel bla bla bla Cipanas sekitar sekian meter lagi”, lupa
nama hotel dan jarak yang tertera pada papan. Benar-benar harapan yang sedikit,
karena lagi-lagi ditemukan penunjuk arah yang tidak mencantumkan nama Cipanas.
Ketidakjelasan tidak mengurungkan niat perjalanku. Di tengah
perjalanan terlihat papan penunjuk tempat wisata yang dulu pernah disinggahi.
Candi Cangkuang atau Situ Cangkuang, entah mana nama yang benar sebagai nama
utama tempat wisata, dan pastinya kedua nama tidaklah salah. Dari pada tidak
menemukan kejelasan, lebih baik masuk dulu ke tempat wisata terdekat. Jalannya
tidak terlalu buruk, bukan berarti baik juga, dengan ukuran yang cukup sempit
sebagai jalur dua arah. Pikiranku jalurnya bakal mudah, tetapi kenyataannya
tetap dihadapkan dengan beberapa pertigaan, dan di setiap pertigaan tidak ada
papan penunjuk lokasi. Insting dan keberuntungan kembali menguasai kenyataan
hidup, dan akhirnya tersenyum ketika sampai di lokasi tujuan. Candi/Situ
Cangkuang, sekarang terkesan asing bagiku yang pernah berwisata ke sana. Memori
lamaku membayangkan tempat yang dulu sepertinya lebih besar. Mungkin ingatanku
seperti itu karena dulu masih kecil, sehingga setiap tempat yang disinggahi
terkesan besar.
Candi/Situ Cangkuang (Dok. Pribadi),
Cukup ramai pengunjung yang didominasi oleh kendaraan plat B
dan D, pengunjung dari Jakarta, Bandung, dan sekitar dari keduanya. Aku sendiri
malas untuk masuk, dengan pertimbangan tiket dan bingung untuk melakukan
aktifitas apa di dalam sana. Hanya menikmatinya di pinggir jalan sambil jajan
dan berbincang-bincang dengan yang punya warung. Sambil membuka ingatan lama,
dulu di tempat itu pernah menaiki rakit, memutari Candi sambil ditakut-takuti
orang dewasa jika memasukkan tangan ke arca bakal ada yang gigit, dan hal
paling berkesan adalah mengumpulkan keong kecil di selokan bersama guru ngaji
perempuan yang menurutku terbaik, karena dia setia menemaniku sampai akhir
walaupun mobil rombongan mau berangkat pulang. Tidak terlalu banyak masa lalu
yang aku ingat. Aku sendiri tidak tahu umurku dulu berapa tahun, mungkin SD
sebelum kelas 5. Penampakan wisata Cangkuang sekarang pun tidak sesuai dengan
ingatan lamaku, bahkan aku tidak menemukan selokan tempat aku mencari keong.
Tidak memiliki alasan untuk berlama-lama di sana. Lebih baik
segera melanjutkan misi utama untuk menemukan Cipanas dan berlanjut ke pantai. Setelah
perjalanan cukup jauh, aku sampai di daerah yang bagiku tidak asing. Mungkin
hanya mirip, karena memang ingatanku tentang tempat tersebut menuju jalan
Wonosarinya Gunung Kidul. Tiba-tiba di tengah perjalanan kaca spionku terang
berkaca-kaca, menandakan banyaknya kendaraan di belakang. Hal tersebut tidak
menggangguku sama sekali, dan seperti biasa kendaraan dilajukan dengan pelan
beserta hati yang tenang. Ternyata ketika kendaraan yang tadi di belakangku
mulai menyalip, aku sedikit dikagetkan bahwa mereka adalah rombongan yang cukup
banyak, dan sebagian dari mereka membawa bendera. Aku pikir mereka fans Persib
karena warna biru yang khas. Setelah melihat lebih detail, warna bendera tidak
hanya biru, serta lambang bendera dan tulisan di masing-masing baju mereka
mengubahku menjadi lebih waspada. Bagaimana tidak waspada, mereka geng motor
yang cukup ternama di Bandung, jumlah rombongan mereka cukup banyak sedangkan
aku sendirian. Walaupun nyatanya satu pun tidak ada yang menggangguku, tetapi
yang mengherankan adalah keberanian mereka konvoi di siang bolong. Dulu aku
punya teman dari geng tersebut, dan dia tidak berani menunjukkan atributnya di
depan umum, apalagi konvoi di siang hari yang memang sekalipun tidak pernah aku
lihat. Hanya di Garut aku melihat geng motor ternama berani konvoi di siang
hari. Dulu juga pernah lihat geng motor konvoi di siang hari, geng motor lain
saingan dari geng yang tadi. Jika tidak salah, tempatnya di Majenang menuju
Banjar, perbatasan Jawa tengah-Jawa Barat. Itu cukup mengganggu lalu lintas,
cukup lama aku ngantri di belakangnya, dan dengan memberanikan diri aku salip
saja semuanya. Dari hal tersebut, aku menyadari bahwa Bandung cukup aman
dibandingkan wilayah-wilayah tetangganya, karena jarang ada geng motor ternama
memamerkan atributnya, walaupun anggota gengnya cukup banyak.
Penantian lama yang dipenuhi ketidakpastian terbayarkan
ketika melihat penunjuk arah menyatakan bahwa Cipanas sudah dekat. Memang
benar, tidak lama ada pertigaan, dan motor pun di belokkan ke kanan. Melaju
pelan mencari pemandian air panas yang cocok, tetapi malah dibuat bingung. Di
luar bayangan, ternyata pemandian air panas tidak hanya satu, jumlahnya banyak
dengan bangunan di masing-masing pemandian. Berharap menemukan yang cocok,
bahkan sampai mentok ke jalan yang paling ujung. Sayangnya setiap bangunan
bukanlah gayaku, dari pada bingung mendingan langsung pulang saja. Tidak ada
satu dokumentasi pun yang diabadikan, karena tidak ada yang menarik untuk
difoto, semuanya bangunan. Dulu sempat beberapa kali ke Cipanas bersama teman,
tetapi aku tidak hapal jalannya. Waktunya pun malam, jadi sulit mengingat
bagian-bagian dari perjalanan. Bahkan kolam air panas yang dulu disinggahi pun
tidak tahu tempatnya di mana. Bayanganku tentang Cipanas, alamnya enak, ada
tempat nongkrong lesehan dengan pemandangan yang bagus, dan aku pun berencana berlama-lama
di sana jika sesuai dengan bayangan. Nyatanya bayanganku sirna setelah sampai
ke sana.
Setelah dari Cipanas, misi perjalanan berubah menjadi kurang
menarik. Aku putuskan untuk pulang, dan mampir di pom terdekat untuk ibadah.
Perjalanan ini tidak membuatku kecewa karena misi paling utamanya sudah
terpecahkan, melihat di balik gunung selatan Cicalengka Bandung. Perjalanan
pulang aku rencanakan sedikit berbeda, dengan tidak mengambil jalur Cijapati,
tetapi mengambil arah yang dapat tembus di Nagreg, timur Bandung. Ternyata
jaraknya tidak jauh, belum jauh dari tempat pertama kali menemukan jalan
Kadungora, dan tiba-tiba masuk di lingkar Nagreg. Dari Nagreg ke Cicalengka
tidak jauh. Bahkan desaku saja, Nagrog, tetangga dekat kecamatan Nagreg.
Katanya dulu Nagreg masuk dalam kecamatan Cicalengka, dan status Nagreg adalah
desa/kelurahan sebagai bawahan tingkat pertama dari kecamatan. Tidak lama
dilakukan pemekaran pemerintahan daerah, dan alhasil Nagreg pun menjadi
kecamatan. Dampaknya, Cicalengka yang pernah berjaya di era ’90 akhir ke bawah
semakin kehilangan taringnya, semakin tidak dikenal oleh masyarakat luar,
bahkan mungkin minder jika dibandingkan dengan kecamatan bagian barat.
Sesampainya di rumah, tidak menyangka setelah melihat jam
bahwa perjalanan cukup singkat. Hanya sekitar 3 atau 4 jam. Bahan bakar
kendaraan tidak habis banyak, masih sisa banyak dari terakhir isi bensin
sebelum berangkat perjalanan. Ternyata Bandung-Garut itu dekat, sedekat hatiku
padamu (halah, busuk!), berbeda dengan apa yang dibayangkan.














Tidak ada komentar:
Posting Komentar