Senin, 08 Februari 2016

MENELUSURI SELATAN BANDUNG

Lagi-lagi Bandung membuatku bosan. Mungkin karena tidak ada kegiatan yang terencana, karena tujuan utama pulang ke Bandung selalu hanya untuk liburan, menanggalkan beban, melepas rindu, dan bersenda gurau bersama keluarga. Seperti halnya ketika pulang ke Bandung tanpa direncanakan, hanya bertapa di Srewen seperti yang telah ditulis dalam Bertapa Di Musim Liburan, sisanya bertemu keluarga dan dipenuhi rasa bingung sampai mengerjakan apa yang bisa dikerjakan tanpa rencana.

Bertapa di Srewen membuatku ingat hal yang dari dulu selalu membuatku penasaran. Tempat tinggalku, Cicalengka, diapit oleh pegunungan dari arah utara dan selatan. Selalu membuatku penasaran, apa yang ada di balik pegunungan tersebut, apakah terdapat pemukiman, atau mungkin di balik gunung terdapat berlapis-lapis gunung. Jika melihat dari Srewen, bagian selatan Cicalengka adalah gunung, dan di baliknya ada gunung lagi, membuatku menghayal adanya pantai di balik gunung yang terlihat paling selatan. Saat itu juga internet menjadi solusi rasa penasaran, dan ternyata bagian selatan Bandung terdapat dua daerah berbeda, Garut dan jika tidak salah satu lagi Cianjur. Sementara rasa penasaran terpecahkan, dan aku agendakan untuk menelusuri bagian selatan Bandung.

Pagi hari di rumah membuatku bosan, televisi kurang membuatku terhibur, karena di Yogya terbiasa tidak menonton, dan telah sadar bahwa kebanyakan program televisi hanyalah ilusi yang dapat membuat pikiranku rusak. Ajak adikku bermain malah ditolak karena sibuk dengan gadget-nya, permainan anak kecil zaman sekarang, permainan kurang sehat lebih dicintai. Akhirnya, terbuka lebar kesempatan untuk menjalankan agenda menapaki selatan Bandung. Tas kecil, sarung tangan, dan kaki yang diselimuti kaus kaki hitam dengan alas sandal jepit merupakan pertanda bahwa aku telah siap meluncur dengan sepeda motor. Tak perlu GPS atau peta, bagiku perjalanan jarak jauh dengan kendaraan pribadi adalah tentang insting. Instinglah yang membuatku jarang tersesat, seperti ketika pertama kali memulai perjalan Yogya-Bandung, puji Tuhan bisa sampai ke rumah tanpa kendala dengan waktu yang cukup mengesankan, hanya 7 jam.

Bingung di awal untuk memilih jalan yang dapat membawaku ke balik gunung selatan. Sekitar enam atau tujuh tahun aku tidak bermain ke arah selatan. Terakhir yang paling aku ingat ketika masih SMA, dan mungkin setelahnya pernah ke selatan lagi, tetapi lupa. Yang aku ingat, satu-satunya akses ke balik gunung selatan adalah daerah Cijapati, daerah selatan jalur timur paling jauh yang dulu cukup sering aku tapaki. Masalahnya adalah bingung sedikit lupa jalan mana untuk ke daerah Cijapati, karena dari Cicalengka terdapat sekitar empat jalan yang dapat menembusnya. Aku putuskan jalan yang paling dekat saja, paling timur, jalan yang berawal dari rumahku, Warung Lahang-Nagrog-Cicalengka, menuju kampung tetangga Narawita, Cicadas, Bolang, lalu kecamatan tetangga Cikancung, hingga dapat sampai ke Cijapati.

Baru saja di Narawita sudah dibuat bingung, bulak-balik beberapa kali hanya untuk mencari pertigaan ke arah Cicadas. Seingatku, aku sudah sampai daerah pertigaan, tetapi membuatku heran karena tidak ditemukan. Jika terus ke arah selatan, maka tembusnya ke Nagreg, niat ke arah selatan malah berujung ke timur, makanya sedikit ragu jika terus lanjut ke arah selatan untuk mencari pertigaan. Dari pada tidak mendapatkan jawaban, aku coba untuk terus ke arah selatan, berharap pertigaan ditemukan. Hasilnya, pertigaan pun ditemukan dengan ekspresi heran, karena ingatanku berbisik bahwa pertigaan itu terlalu selatan dibandingkan pertigaan yang dulu pernah dijajal. Bukan masalah, yang penting sudah masuk jalan menuju Cicadas. Di Cicadas atau mungkin Bolang sempat dibuat bingung, tiba-tiba saja ada pertigaan. Dengan senang hati aku pilih jalur kanan, dan belum 50 meter hatiku ragu. Aku pikir jalur kiri lebih baik, walaupun seandainya salah jalan, tetapi perjalanan tetap menuju ke arah selatan. Putar balik untuk masuk jalur kiri sambil berpikir tentang jalur kanan yang sampai di daerah mana. Mungkin jalur kanan menuju daerah Cantel, detailnya lupa, tetapi aku cukup yakin dengan dugaanku.

Cikancung pun akhirnya dapat ditembus. Sambil tengok kanan kiri, membuka ingatan lama, mencari di mana letak rumah temanku yang tidak dapat aku temukan sepanjang perjalanan. Sedikit cerita dalam perjalanan Cicadas-Cikancung, mengenai masyarakat, khususnya kaum kecil, pemuda, dan ibu rumah tangga. Semoga aku terhindar dari sikap sombong, terdapat beberapa hal yang aku sesalkan dari mereka. Kaum muda terlihat seperti hilang jiwanya, hanya nongkrong bersama kawan-kawannya tanpa melakukan aktifitas yang lebih bermanfaat. Entah itu kebiasaan mereka dari dulu, atau terjadi pergeseran budaya. Mungkin mereka tidak mendapatkan sosok penggerak dalam melakukan hal berguna, karena sepintas terlihat kehidupan mereka saling menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal biasa. Kasihan kaum kecil yang mimpinya besar, tidak mendapatkan contoh baik dari pendahulunya, sehingga kemungkinan besar mimpinya tetap menjadi mimpi. Adapun ibu rumah tangga, sepertinya tidak memiliki pekerjaan lain selain nongkrong di depan rumah. Anggapanku bahwa semua pekerjaan rumah mereka sudah selesai, karena orang desa terkenal rajin dalam pekerjaan rumah. Pertanyaanku, tidak adakah hal berguna yang dapat dikerjakan selain nongkrong di depan rumah? Dilihat dari rumahnya sebagai bentuk harta mereka, cukup standar bagi kalangan menengah ke bawah, dan bagiku itu wajar karena sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Kemiskinan terjadi bukan hanya karena faktor negara, tetapi bisa juga karena apa yang dilakukan setiap individu. Pekerja keras berpotensi kaya, dan pemalas berpotensi miskin.

Jalur transportasi Cikancung cukup mudah bagiku, karena dulu sering main ke sana. Bingung beberapa kali ketika dihapadkan pertigaan adalah wajar, yang penting tidak berakibat fatal, dan beruntungnya selalu benar memilih jalur yang tepat ketika dihadapkan pertigaan. Awal jalan Cijapati ditemukan, sehingga perasaan tenang karena seingatku tidak ada lagi pertigaan yang akan membuatku bingung di sana. Semakin ke puncak, semakin penasaran tentang masjid yang dulu pernah menjadi tempat berteduh. Sayangnya masjid tidak ditemukan, padahal lokasinya di pinggir jalan dengan bangunan yang cukup besar, atau mungkin terlewat, sebagian keadaan di sana berubah. Hal yang tidak berubah di sana adalah kios-kios (sebagian lesehan) di pinggir jalan, tentunya perkebunan, dan hal paling berkesan adalah bau kotoran sapi yang semilir terbawa angin tercium hidung, padahal kandangnya cukup jauh dari jalan transportasi utama.

Cijapati (Dok. Pribadi),

Bagi para pemudik hari raya dari arah barat Bandung menuju timur, mungkin tidak asing dengan tulisan “jalan alternatif Jawa Tengah via Cijapati-Garut”. Itulah penampakan Cijapati, sebagai solusi pengurai kemacetan musim mudik yang awalnya biasa terjadi di Bandung bagian timur. Cijapati sedikit mirip Bukit Bintang yang ada di Yogya jalan Wonosari, dan di Bandung masih banyak tempat yang seperti Bukit Bintangnya Yogya. Jadi, matanglah dalam berpikir bagi orang-orang Bandung yang bersusah payah ke Yogya hanya untuk Bukit Bintang, di kampung halamanmu banyak.

Saatnya menghilangkan rasa penasaran yang selama ini dipertanyakan tentang sesuatu di balik gunung selatan. Belum pernah sebelumnya melakukan perjalanan lebih dari puncak Cijapati ke arah selatan, dan tentunya banyak hal baru yang akan ditemukan. Dalam perjalanan, belum sampai ujung jalan Cijapati, banyak anak-anak kecil pulang sekolah. Mereka jalan kaki, tidak ada transportasi umum. Sebagian kelompok anak-anak berteduh, beristirahat dari perjalanan menuju rumah dengan jarak yang cukup jauh. Aku berkata seperti itu karena memang sepanjang jalan hanya ada perkebunan, belum terlihat adanya tanda-tanda pemukiman manusia. Sejenak terheran ketika sebagian kelompok dari mereka melambaikan tangan. Aku tidak menanggapinya, karena dugaanku mereka melambaikan tangan pada kendaraan umum di belakangku. Maju sedikit ke depan, melihat ke kaca spion tidak ada satu pun kendaraan yang mengikuti di belakang. Di depan ada lagi sekelompok dari mereka melambaikan tangan, dan langsung kulihat kaca spion untuk memastikan bahwa mereka melakukan hal tersebut pada kendaraan umum di belakang, dan sekali lagi tidak ada. Ternyata mereka melambaikan tangan kepadaku supaya aku membawanya, secara non-formal diistilahkan dengan nebeng. Rasanya bersalah ketika aku tersadar bahwa mereka membutuhkan jasaku, tetapi aku mencampakkannya. Sambil mencoba membersihkan pikiran kotor, aku rasa apa yang aku lakukan tidak sepenuhnya salah. Seandainya aku memberikan tumpangan kepada sebagian dari mereka, maka tidaklah adil, karena di dalam satu kelompok terdapat lebih dari tiga orang yang jika membawa sebagian maka akan terjadi kecemburuan sosial. Lebih baik aku abaikan saja semuanya sambil tersenyum melihat semangat juang mereka, supaya terkesan adil, termasuk aku abaikan kelompok lain yang ada di depanku.

Di ujung jalan Cijapati, lagi-lagi dibuat bingung oleh pertigaan. Kali ini benar-benar bingung karena belum pernah ke daerah sana. Menentukan arah kanan-kiri tidak semudah sebelumnya, karena tepat di depan terdapat gunung. Bisa saja jalan menuju belakang gunung ke arah kiri ataupun kanan. Dengan meyakinkan diri, aku pikir jalur kanan hanya akan menghantarkanku ke Bandung bagian selatan sedikit barat, atau mungkin masuk Cianjur. Maka jalur kiri pun aku pilih, tidak peduli jika salah, walaupun seandainya salah tinggal cari pertigaan yang ada belokannya ke selatan. Sayangnya tidak semudah bicara, aku tidak paham arah mata angin yang ada di sana, tidak semudah Yogya yang patokannya gunung Merapi sebagai arah utara.

Belum ada tanda-tanda aku telah meninggalkan kawasan Bandung karena sebagian besar kendaraan berplat nomor D. Lihat alamat-alamat yang biasa terpampang di depan toko atau kantor, tidak ada yang jelas satu pun menurutku. Sedikit harapan terbuka ketika melihat plat sepeda motor Z, mungkin sudah sampai Garut, sayangnya masih ada kendaraan lain yang lalu lalang berplatkan D bahkan ada yang B, “daerah mana ini !?”. Kejelasan pun terbuka ketika melihat alamat di depan bangunan, jika tidak salah Bayongbong Garut. Sedikit senang karena sudah meninggalkan Bandung, tetapi rasa senang tidak berlanjut lama ketika dihadapkan pertigaan. Kali ini menurutku kanan lebih baik, dan melihat alamatnya Jl. Kadungora. Kemanakah aku akan berlabuh, aku tidak tahu, instinglah yang berkuasa pada saat itu.

Hal yang aneh, di sepanjang jalan didominasi kendaraan plat D dan B. Aku yakin ini Garut yang kendaraannya berplatkan Z, tetapi yang membuatku bingung kenapa plat Z nominalnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang lain. Dugaanku jalan tersebut adalah jalan utama antar kota-kabupaten-provinsi.  Lebih dari 10 kali aku pulang-pergi Yogya-Bandung menggunakan sepeda motor, tetapi sedikit pun tidak mengenal jalan itu. Mungkin jalan Kadungora adalah jalan utama Garut bagian selatan, dan aku biasanya lewat jalan utama Garut bagian utara. Berarti jalan utama sebenarnya tidak ada, karena ada jalan lain yang identitasnya utama. Sedikit informasi mengenai nama jalan Kadungora, mudah-mudahan bahasa Sundaku masih dapat dipertanggungjawabkan, menurutku kadungora diambil dari bahasa Sunda, merupakan gabungan dua kata, kadu ‘durian’ dan ngora ‘muda’. Dengan begitu Kadungora adalah durian muda.

Sambil melaju pelan, rencana perjalanan baru pun kembali dirancang. Tujuan utama tetap pantai, tetapi sedikit iseng berharap singgah di Cipanas Garut. Tidak ada satu pun penunjuk jalan yang mengatasnamakan Cipanas, malah yang sering terlihat adalah penunjuk arah menuju Tasik. Semakin menantang, dibayangi perasaan ragu ketika dihadapkan pada ketidakjelasan titik temu. Sedikit terbuka harapan ketika terdapat papan iklan di pinggir jalan yang menyatakan “hotel bla bla bla Cipanas sekitar sekian meter lagi”, lupa nama hotel dan jarak yang tertera pada papan. Benar-benar harapan yang sedikit, karena lagi-lagi ditemukan penunjuk arah yang tidak mencantumkan nama Cipanas.

Ketidakjelasan tidak mengurungkan niat perjalanku. Di tengah perjalanan terlihat papan penunjuk tempat wisata yang dulu pernah disinggahi. Candi Cangkuang atau Situ Cangkuang, entah mana nama yang benar sebagai nama utama tempat wisata, dan pastinya kedua nama tidaklah salah. Dari pada tidak menemukan kejelasan, lebih baik masuk dulu ke tempat wisata terdekat. Jalannya tidak terlalu buruk, bukan berarti baik juga, dengan ukuran yang cukup sempit sebagai jalur dua arah. Pikiranku jalurnya bakal mudah, tetapi kenyataannya tetap dihadapkan dengan beberapa pertigaan, dan di setiap pertigaan tidak ada papan penunjuk lokasi. Insting dan keberuntungan kembali menguasai kenyataan hidup, dan akhirnya tersenyum ketika sampai di lokasi tujuan. Candi/Situ Cangkuang, sekarang terkesan asing bagiku yang pernah berwisata ke sana. Memori lamaku membayangkan tempat yang dulu sepertinya lebih besar. Mungkin ingatanku seperti itu karena dulu masih kecil, sehingga setiap tempat yang disinggahi terkesan besar.

Candi/Situ Cangkuang (Dok. Pribadi),

Cukup ramai pengunjung yang didominasi oleh kendaraan plat B dan D, pengunjung dari Jakarta, Bandung, dan sekitar dari keduanya. Aku sendiri malas untuk masuk, dengan pertimbangan tiket dan bingung untuk melakukan aktifitas apa di dalam sana. Hanya menikmatinya di pinggir jalan sambil jajan dan berbincang-bincang dengan yang punya warung. Sambil membuka ingatan lama, dulu di tempat itu pernah menaiki rakit, memutari Candi sambil ditakut-takuti orang dewasa jika memasukkan tangan ke arca bakal ada yang gigit, dan hal paling berkesan adalah mengumpulkan keong kecil di selokan bersama guru ngaji perempuan yang menurutku terbaik, karena dia setia menemaniku sampai akhir walaupun mobil rombongan mau berangkat pulang. Tidak terlalu banyak masa lalu yang aku ingat. Aku sendiri tidak tahu umurku dulu berapa tahun, mungkin SD sebelum kelas 5. Penampakan wisata Cangkuang sekarang pun tidak sesuai dengan ingatan lamaku, bahkan aku tidak menemukan selokan tempat aku mencari keong.

Tidak memiliki alasan untuk berlama-lama di sana. Lebih baik segera melanjutkan misi utama untuk menemukan Cipanas dan berlanjut ke pantai. Setelah perjalanan cukup jauh, aku sampai di daerah yang bagiku tidak asing. Mungkin hanya mirip, karena memang ingatanku tentang tempat tersebut menuju jalan Wonosarinya Gunung Kidul. Tiba-tiba di tengah perjalanan kaca spionku terang berkaca-kaca, menandakan banyaknya kendaraan di belakang. Hal tersebut tidak menggangguku sama sekali, dan seperti biasa kendaraan dilajukan dengan pelan beserta hati yang tenang. Ternyata ketika kendaraan yang tadi di belakangku mulai menyalip, aku sedikit dikagetkan bahwa mereka adalah rombongan yang cukup banyak, dan sebagian dari mereka membawa bendera. Aku pikir mereka fans Persib karena warna biru yang khas. Setelah melihat lebih detail, warna bendera tidak hanya biru, serta lambang bendera dan tulisan di masing-masing baju mereka mengubahku menjadi lebih waspada. Bagaimana tidak waspada, mereka geng motor yang cukup ternama di Bandung, jumlah rombongan mereka cukup banyak sedangkan aku sendirian. Walaupun nyatanya satu pun tidak ada yang menggangguku, tetapi yang mengherankan adalah keberanian mereka konvoi di siang bolong. Dulu aku punya teman dari geng tersebut, dan dia tidak berani menunjukkan atributnya di depan umum, apalagi konvoi di siang hari yang memang sekalipun tidak pernah aku lihat. Hanya di Garut aku melihat geng motor ternama berani konvoi di siang hari. Dulu juga pernah lihat geng motor konvoi di siang hari, geng motor lain saingan dari geng yang tadi. Jika tidak salah, tempatnya di Majenang menuju Banjar, perbatasan Jawa tengah-Jawa Barat. Itu cukup mengganggu lalu lintas, cukup lama aku ngantri di belakangnya, dan dengan memberanikan diri aku salip saja semuanya. Dari hal tersebut, aku menyadari bahwa Bandung cukup aman dibandingkan wilayah-wilayah tetangganya, karena jarang ada geng motor ternama memamerkan atributnya, walaupun anggota gengnya cukup banyak.

Penantian lama yang dipenuhi ketidakpastian terbayarkan ketika melihat penunjuk arah menyatakan bahwa Cipanas sudah dekat. Memang benar, tidak lama ada pertigaan, dan motor pun di belokkan ke kanan. Melaju pelan mencari pemandian air panas yang cocok, tetapi malah dibuat bingung. Di luar bayangan, ternyata pemandian air panas tidak hanya satu, jumlahnya banyak dengan bangunan di masing-masing pemandian. Berharap menemukan yang cocok, bahkan sampai mentok ke jalan yang paling ujung. Sayangnya setiap bangunan bukanlah gayaku, dari pada bingung mendingan langsung pulang saja. Tidak ada satu dokumentasi pun yang diabadikan, karena tidak ada yang menarik untuk difoto, semuanya bangunan. Dulu sempat beberapa kali ke Cipanas bersama teman, tetapi aku tidak hapal jalannya. Waktunya pun malam, jadi sulit mengingat bagian-bagian dari perjalanan. Bahkan kolam air panas yang dulu disinggahi pun tidak tahu tempatnya di mana. Bayanganku tentang Cipanas, alamnya enak, ada tempat nongkrong lesehan dengan pemandangan yang bagus, dan aku pun berencana berlama-lama di sana jika sesuai dengan bayangan. Nyatanya bayanganku sirna setelah sampai ke sana.

Setelah dari Cipanas, misi perjalanan berubah menjadi kurang menarik. Aku putuskan untuk pulang, dan mampir di pom terdekat untuk ibadah. Perjalanan ini tidak membuatku kecewa karena misi paling utamanya sudah terpecahkan, melihat di balik gunung selatan Cicalengka Bandung. Perjalanan pulang aku rencanakan sedikit berbeda, dengan tidak mengambil jalur Cijapati, tetapi mengambil arah yang dapat tembus di Nagreg, timur Bandung. Ternyata jaraknya tidak jauh, belum jauh dari tempat pertama kali menemukan jalan Kadungora, dan tiba-tiba masuk di lingkar Nagreg. Dari Nagreg ke Cicalengka tidak jauh. Bahkan desaku saja, Nagrog, tetangga dekat kecamatan Nagreg. Katanya dulu Nagreg masuk dalam kecamatan Cicalengka, dan status Nagreg adalah desa/kelurahan sebagai bawahan tingkat pertama dari kecamatan. Tidak lama dilakukan pemekaran pemerintahan daerah, dan alhasil Nagreg pun menjadi kecamatan. Dampaknya, Cicalengka yang pernah berjaya di era ’90 akhir ke bawah semakin kehilangan taringnya, semakin tidak dikenal oleh masyarakat luar, bahkan mungkin minder jika dibandingkan dengan kecamatan bagian barat.

Sesampainya di rumah, tidak menyangka setelah melihat jam bahwa perjalanan cukup singkat. Hanya sekitar 3 atau 4 jam. Bahan bakar kendaraan tidak habis banyak, masih sisa banyak dari terakhir isi bensin sebelum berangkat perjalanan. Ternyata Bandung-Garut itu dekat, sedekat hatiku padamu (halah, busuk!), berbeda dengan apa yang dibayangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar