Aku hanyalah pandai menerima teori. Teori hanyalah teori, rangkaian kata-kata yang tercipta dari praktek, dari fakta yang tampak. Ada yang menyatakan bahwa teori merupakan salah satu pembentuk ilmu pengetahuan, tidak menjadi ilmu pengetahuan jika suatu fakta tidak dirumuskan di dalam teori.
Memahami berbagai teori membuatku muak. Terutama teori kehidupan, mengenai bagaimana kita menyikapi hidup terhadap diri sendiri maupun orang lain. Lebih tepatnya bukan hanya muak, tetapi munculnya rasa takut, ketidaksanggupan mempraktekkan teori yang dikuasai, karena praktek tidak semudah teorinya. Aku sadar di dalam diriku terdapat penyakit malas yang sudah akut. Bukan malas memahami suatu hal, tetapi lebih buruk lagi bahwa malasku ini dalam mempraktekkan suatu hal yang aku pahami. Menyadari berbagai teori yang anggap saja tidak pernah dipraktekkan, hanya membuatku takut, dibayangi ketakutan yang aku buat sendiri, yang aku pasang di dalam pikiranku sendiri.
Sambil menikmati sebatang rokok, aku menuliskan penyesalanku untuk meringankan beban yang tidak berguna di dalam pikiran. Beberapa hari tidak membeli rokok, bagiku itu hebat untuk seorang perokok berat. Karena temanku kemarin bertamu, dan membawa masalah untuk aku selesaikan, maka sekarang aku kembali membeli rokok untuk meringankan pikiran. Entah sugesti, kebiasaan, atau memang ada zat penenang di dalam rokok, setiap pikiranku dibebani masalah pasti rokoklah yang menjadi pertolongan pertama. Memang terlalu berlebihan, karena sebenarnya pertolongan pertama adalah Tuhan yang selalu berbisik di dalam hati. Akan tetapi, begitulah kenyataannya, yang tampak adalah rokok.
Tidak membeli rokok bukan berarti berhenti merokok. Cukup banyak persediaan tembakau yang aku timbun. Selama tidak membeli rokok, tembakau itulah penggantinya. Hanya membeli kertas rokok dengan harga yang sangat murah, maka kebutuhan asap rokok bagi paru-paruku bisa tercukupi. Bukan tanpa alasan aku melakukan semua itu. Keinginanku berhenti merokok cukup besar. Namun rokok sulit dilepaskan. Praktek tidak semudah teorinya. Aku paham teori tentang rokok, khususnya yang terkesan negatif. Dalam sebulan, sekitar 300 ribu rupiah lebih bisa keluar untuk rokok. Alangkah baiknya jika uang tersebut dikumpulkan sebagai modal pendidikan, usaha, ataupun ibadah. Dalam kesehatan, terbukti paru-paruku dua kali ambruk karena rokok, pertama berobat rutin selama enam bulan, kedua berobat rutin selama empat bulan, dan lebih sering lagi gejala penyakit paru-paru karena rokok yang aku tidak mau mengadukannya kepada dokter. Itu semua hanyalah teori yang belum sanggup aku praktekkan untuk membuatku berubah menjadi manusia yang lebih baik.
Perlahan-lahan tetapi pasti. Dimulai dari hal kecil, menjauhi kebiasaan membeli rokok, dan berharap bisa lanjut berhenti merokok. Bukan main, tembakau rasanya tidak lebih baik dari rokok bungkusan. Begitu juga efeknya, setelah merokok dengan tembakau sendiri kemudian mencoba rokok yang ada di warung, maka rasa rokok menjadi kurang enak, kurang greget. Walaupun sebenarnya itu pertanda baik, bisa menghindari kebiasaan membeli rokok mahal yang ada di warung. Itu baru percobaan awal dalam menghentikan kebiasaan merokok, wajar jika sekarang di saat stres membeli lagi rokok bungkusan di warung. Esok hari akan kembali menikmati tembakau sendiri, berhenti beli. Berharap bisa berhenti merokok. Alangkah indahnya manusia yang paru-parunya tidak dibebani oleh rokok.
Aku sangat menginginkan perubahan. Rindu pada hal-hal yang baik. Akan tetapi, sepertinya setan tidak menyukainya, dan menjadikanku merasa berat dalam mempraktekkan teori-teori yang bisa menjadikanku lebih baik. Ada saja rintangan untuk berubah. Sempat ragu untuk menyalahkan setan yang memberikan rintangan, karena bagiku setan tidak tertarik pada manusia pemalas sepertiku. Jadi aku lebih suka menyebutnya dengan melawan diri sendiri, tanpa menyalahkan setan, pihak lain, ataupun Tuhan sebagai pemberi dan penguasa kehidupan. Memang benar apa yang dinyanyikan Iwan Fals, bahwa perang itu melawan diri sendiri, dan sekarang aku lebih mengerti makna dari sepenggal sajak tersebut.
Rintangan yang datang itu disebabkan oleh diriku sendiri. Seperti kemarin, andai saja aku tidak menerima tawaran permintaan tolong dari temanku, mungkin sekarang masalahku tidak bertambah banyak. Aku tidak menyalahkan teman, bahkan aku berterima kasih karena membuatku menjadi orang berguna, orang yang bermanfaat bagi sesama manusia. Aku hanya menyalahkan diri sendiri, kenapa diriku seperti orang berguna yang tidak cerdas. Aku berhak menolak permintaannya, dan menyelesaikan pekerjaan pribadi terlebih dahulu yang semakin menumpuk. Padahal pernah suatu hari aku memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan pribadi sebelum menolong orang lain. Aku tidak tegas pada diri sendiri, dan jika seperti itu aku tidak akan pernah bisa untuk bersikap tegas kepada orang lain.
Masalah yang dibawa temanku belum ada solusinya. Bahkan ahli di bidangnya pun tidak mau menerima masalah seperti itu. Aku yang tidak tegas seperti kerasukan setan, bersikap sombong bisa menyelesaikan masalah itu. Lupa kalimat bijak, jika suatu urusan ditangani oleh yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Aku memang bukan ahli menyelesaikan masalah tersebut, bisa dikatakan aku hanyalah sebagai pertolongan pertama, yang mengerti di mana letak kesalahan di dalam masalah. Alhasil, aku yang mencoba mengatasi masalah malah menambah masalah, dan tentunya masalah untuk diriku juga. Mengadu kepada Tuhan dengan ekspresi sesedih apapun tidak ada gunanya, karena masalah tersebut bisa diselesaikan oleh usaha tangan manusia dengan ijin Tuhan.
Bukan sekali aku terjebak pada masalah tersebut. Karena itu aku bisa merumuskan suatu teori, jika menemukan masalah yang belum ada solusinya di masyarakat, maka bilang saja TIDAK BISA. Sayangnya selain pemalas aku juga pelupa, sehingga mengalami kembali keburukan yang sama. Semoga saja aku bukan si keledai yang selalu jatuh pada lubang yang sama.
Sebelum datangnya masalah yang dibawa temanku, hidupku cukup mengalami peningkatan pada arah yang baik. Ruangan rumah begitu bersih dan tertata rapih. Mandi sore di waktu yang bisa dikatakan ideal. Ibadah sesuai waktunya. Pengeluaran uang cukup teratur, baik, tidak berlebihan. Akan tetapi, semuanya berubah ketika aku menjadi sombong melihat masalah yang dibawa temanku. Waktuku kembali berantakan, dan kembali melakukan kebiasaan buruk. Aku harus mengendalikan diriku lagi sebelum segala yang aku punya semakin memburuk.
Selangkah lagi aku bisa menyentuh skripsi yang mulai berdebu karena sudah terlalu lama ditinggalkan, tetapi masalah baru datang, dan harapan menyelesaikan skripsi kembali pudar. Sekali lagi, aku tidak menyalahkan teman yang membawa masalah, bahkan aku berterima kasih karenanya. Sekitar seminggu penuh aku tidak merasakan dunia luar, tetapi karena masalah tersebut membuatku terpaksa keluar memutari kota dan bertemu banyak orang. Diam di rumah terlalu lama bagiku tidaklah baik, karena hal itu dapat menurunkan mental. Walaupun mempunyai alasan yang cukup baik, diam di rumah untuk memprogram ulang diri, merenung, menata diri, tetapi tetap saja itu tidak baik jika dilakukan terlalu lama. Terasa bahwa aku seperti kurang percaya diri, minder bertemu dengan banyak orang setelah seminggu hanya diam di rumah.
Dengan masalah itu, aku juga berterima kasih kepada temanku yang aku anggap masih mengakui keberadaanku di muka bumi. Aku berteman dengan banyak orang, tidak memberi sekat pada siapa pun untuk dijadikan teman. Bisa dikatakan bahwa aku salah satu yang mempunyai banyak teman di kampus dan sekitarnya dibandingkan teman-teman sekelas. Akan tetapi, manakah teman yang sebenarnya. Tidak ada satu pun yang memberiku kabar ketika jarang ke kampus dan lebih menyukai diam di rumah. Tidak ada satu pun teman yang mengingatku, kecuali temanku yang kemarin bertamu membawa masalah, tetapi menganggapku masih ada. Itu membuatku seperti sampah, orang buangan yang ada atau tidak ada pun tetap tidak menarik. Bahkan mantan kekasih yang telah membuangku, dan bulan kemarin seperti kembali memberikan perhatiannya kepadaku, sekarang menghilang kembali, tidak ada satu pun pesan untukku darinya.
Aku sekarang sampah, orang yang pernah berjaya, didekati dan dibutuhkan banyak orang, sekarang sudah dilupakan. Aku sadar, dulu namaku pernah menjadi salah satu yang diperhitungkan di kampus. Sampai rasanya bosan bertemu banyak orang, merindukan kesunyian, kehidupan yang tidak terlalu banyak melakukan percakapan dengan banyak orang. Hal itu aku lakukan, sedikit menjauh dari kehidupan kampus, dan hanya melakukan percakapan dengan kekasih. Bagiku kekasih tidak layak dijauhi sedikit pun, dan itu merupakan bentuk ketulusan dan keseriusanku untuknya. Akan tetapi, yang terjadi sekarang malah berujung hilang semua yang aku punya.
Manusia bagiku hanyalah penjilat. Mengacungkan jempol dan bertepuk tangan hanya kepada orang yang tampak melakukan kebaikan. Wajar jika Tuhan sering dilupakan, karena Dia tidaklah tampak, walaupun nyatanya kebaikan yang diberikan tidak terhitung, contoh kecilnya NAFAS. Manusia penjilat, sepertinya apapun yang tampak baik, walaupun dampaknya buruk, tetaplah itu dijilati. Sekarang tidak ada lagi manusia yang menjilatiku, dan aku berterima kasih karena mataku terbuka dalam menyikapi kemanusiaan. Karena hal itu, sekarang aku bisa bersikap tegas, berkata YA jika tidak membuatku rugi, dan berkata TIDAK jika membuatku rugi yang hanya membuang waktu berhargaku. Karena dulu aku selalu berkata YA pada orang lain, di mana pun dan kapan pun. Selalu ada kebaikan dalam hal apapun.
Malam minggu ini aku keluar rumah untuk menyelesaikan masalah baru, dan yang pertama keluar setelah berhari-hari diam di rumah. Mengendarai motor sambil memperhatikan orang-orang selama perjalanan, semuanya terlihat seperti hal baru yang pernah aku lihat. Setelah cukup lama melakukan perjalanan, mataku terbuka bahwa masalahku hanyalah bagian paling kecil dibandingkan dengan yang dimiliki orang-orang di sepanjang jalan.
Ini malam minggu, waktunya bersenang-senang, berkumpul keluarga, berkencan, beristirahat menunggu pagi yang indah di hari minggu. Masih ada saja yang bekerja di malam minggu yang sejuk ini setelah siang tadi turun hujan cukup deras. Aku pikir uang yang mereka dapat di malam minggu ini tidaklah besar, bukan berarti kecil, tetapi mengapa waktunya rela digadaikan untuk bekerja. Dugaan sementaraku menyatakan bahwa masalah keuangan mereka cukup buruk sehingga rela kerja di malam minggu. Atau mungkin kerja di malam minggu adalah kesenangan bagi mereka. Sepatutnya aku bersyukur dan bergembira ketika bisa menikmati malam minggu dengan kondisi uang yang lebih dari cukup, bukannya mengeluh bersedih menikmati masalah. Tukang parkir, kios-kios kecil, dan ladang pekerjaan lainnya aku pikir tidaklah besar penghasilannya, bahkan aku bisa menghasilkan uang lebih banyak dari mereka. Di balik itu semua, semuanya terlihat saling memiliki hubungan, seperti yang diskenariokan bahwa inilah kehidupan yang kamu anggap indah. Seandainya para pekerja itu tidak bekerja di malam minggu, mungkin suasana terkesan sepi. Pekerja dan pengunjung yang membuat setiap malam minggu indah.
Akulah yang layak dikomentari kasihan di malam minggu ini, bukan mereka para pekerja. Terlihat kasihan karena aku hanya termenung mengeluhkan masalah yang sebenarnya waktu bisa diisi dengan hal yang baik. Aku tidak ingin menjadikan waktu malam minggu dipenuhi keluh kesah. Hati yang sedang bersedih terpancing menangis ketika perjalanan pulang melihat banyak pasangan kekasih yang menaiki kendaraan. Jadi ingat kekasihku yang dulu, rindu masa ketika berkencan di hampir setiap malam. Jika tidak berkencan, kami selalu saling mengirimkan pesan. Masa yang dipenuhi keindahan, tetapi sedikit pun tidak memperhatikan keadaan sekitar. Tidak peduli kehidupan orang lain yang bisa dijadikan pelajaran berharga, selama diri digembirakan asmara.
Sampai di rumah, mantan kekasihku masih ada di pikiran. Rindu hal-hal yang dulu pernah dilakukan. Berharap ada satu pesan masuk ponsel darinya, supaya beban hidupku sedikit ringan. Terlintas untuk terlebih dahulu mengirim pesan, supaya tidak menunggu hal yang tidak pasti, karena pesan yang diharapkan dikirim olehnya adalah tidak pasti, bahkan mustahil dia mengirimkan pesan. Akan tetapi, tidak mungkin aku mengirimkan pesan kepadanya, sudah cukup harga diriku diinjaknya dengan cara membuangku tanpa alasan yang jelas. Alasan yang paling jelas yang aku buat sendiri adalah dia membuangku karena aku sudah tidak menarik. Sampah jarang menarik bagi manusia, dan tidak mungkin dijadikan kekasih. Aku harus melupakannya, tidak perlu mencintai orang yang sedikit pun tidak memikirkanku. Aku terlalu mencintainya, sampai sekarang.
Kata “terlalu” bagiku tidaklah baik, mungkin mantan kekasihku membuangku karena aku terlalu mencintainya.
Hatiku kosong, rindu keramaian yang menyenangkan. Salah satunya berkencan dengan kekasih. Akan tetapi, itu bukan satu-satunya alasan, mungkin aku merindukan orang-orang yang menganggapku ada. Tidak mungkin aku mendapatkannya di tanah Yogya, karena aku harus fokus menyelesaikan skripsi. Walaupun skripsi beres, tetap tidak mungkin aku membangun keramaian di Yogya, hanya akan membuang-buang biaya hidup. Aku harus menyelesaikan skripsi, pulang ke kampung halaman, kemudian membangun keramaian di tempat lain, tentunya dengan jiwa yang lebih tegas.
Sambil menikmati sebatang rokok, aku harus menjadikan malam minggu ini menjadi baik, bukan penyesalan yang penuh keluh kesah. Lebih baik aku mengambil pelajaran dari apa yang aku lihat di luar rumah, dan menuliskannya di atas kertas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar