Jumat, 06 November 2015

HUJAN PERTAMA DI PENGHUJUNG TAHUN 2015

Sudah cukup lama menanti datangnya hujan di tahun ini. Jika dipikir lagi, sepertinya hujan di musimnya yang lalu baru berhenti bulan kemarin, belum lama, tetapi tetap saja kemarau terasa panjang. Memang aku sedang berada di masa yang aneh, ketika waktu terasa berjalan dengan cepat, ketika di musim kemarau meminta hujan dan di musim penghujan meminta kemarau. Lebih tepatnya sedang berada di masa ketika banyaknya umat manusia yang melupakan Tuhan, terlihat ketika banyak manusia yang pandai mengeluh dari pada bersyukur.

Aku sempat ke Bandung di pertengahan september, dan kembali ke Yogya di akhir september. Sebenarnya dalam perjalanan ke Yogya turun hujan entah di daerah mana, mungkin Nagreg, Garut, atau mungkin Tasik, yang jelas jalannya berupa turunan yang berliku-liku. Aku anggap itu bukan hujan pertama yang aku rasakan, karena aneh, lebih terasa seperti kabut basah di pegunungan, walaupun suasana yang khas terasa waktu itu seperti bau tanah yang disertai sejuknya udara. Aku pikir hujan (yang aku anggap bukan hujan) itu adalah yang pertama kali, jalanan mendadak licin, motorku beberapa kali terpeleset, untungnya di malam yang tragis itu tidak menyebabkanku dan kendaraan sekitar mengalami kecelakaan.

Hal tersebut tetap saja bagiku bukanlah hujan pertama. Aku lebih suka menyebutnya sebagai kabut dengan efek basah yang cukup tinggi, dan datang menjelang musim penghujan. Hal baiknya adalah berupa pelajaran, ketika jalan raya cukup lama menghadapi musim kemarau dan sehari pun tidak tersentuh air hujan, kemudian terkena air pertama kali dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, maka jalan tersebut menjadi licin. Tetap waspada bagi para pengendara.

Awal nopember aku berada di Yogya dengan tujuan hidup yang tidak tertata. Mondar-mandir, di tempat ke utara, ke selatan, ke timur, dan kembali lagi ke tempat. Siang maupun malam rasanya gerah. Untungnya tempat tinggalku berada di pedesaan yang masih kaya dengan udara segar, tetapi anehnya masih terasa gerah, walaupun tak segerah di kota. Menjelang tanggal pertama di bulan nopember, aku merasa cukup menikmati gerah yang mulai terasa sebulan terakhir. Aku coba arahkan motor ke area pantai Gunung Kidul di malam hari, dan hasilnya cukup mengobati. Masih jauh dari pantai, udara sejuk sudah terasa di kulit, padahal kondisiku belum mandi. Mungkin beberapa menit lagi sampai ke area pantai, gerah yang aku rasakan sudah dirasa cukup terobati, motor pun diputar balik sebelum sampai di pantai tujuan, dan kembali ke arah kota Yogyakarta.

Besoknya aku pulang ke rumah. Kurang lebih dua hari aku di tempat teman, bosan, dan memang esok harinya adalah hari senin yang mengharuskanku datang ke kampus, makanya pulang. Sebelum nyampe rumah, di perjalanan tiba-tiba terlintas pikiran untuk mampir ke pantai selatan. Tanpa banyak pikir langsung arahkan saja ke sana, kebetulan jalurnya searah. Mungkin di daerah Pundong, kurang paham jalan Parangtritis kilometer berapa, jalanan basah seperti terkena hujan. Awalnya ragu jika itu bekas air hujan, tetapi percaya setelah tukang parkir di pantai bilang bahwa tadi hujan gerimis. Aku gagal merasakan hujan pertama di Yogya, dan lebih merasa gagal lagi ketika esok harinya di pagi hari sapa tetangga dan dia bilang bahwa di sini juga gerimis. Aku kemana saja, yang selama dua hari lebih di jalanan tetapi tidak mendapatkan setetes hujan pun.

Belum pernah aku merindukan hujan sangat dalam seperti ini. Mungkin karena di tahun ini sangat banyak duri yang menusuk hati, maka aku sangat merindukan hujan supaya rasa sakit dapat dihanyutkan.

Masih di awal nopember, baru saja masuk kampus di hari pertama aktivitas akademik, sore hari aku dapat kabar yang membuatku sangat ingin pulang ke Bandung. Hanya mengambil rompi, jaket, tas kecil, dan slayer, kemudian langsung pergi menuju Bandung. Seperti biasa pakai sepeda motor, suasana di jalan tidak terlalu ramai, dan yang paling biasa dirasakan ketika melakukan perjalanan di malam hari adalah udara yang kontras di masing-masing wilayah yang dilalui. Semakin mendekat tujuan, semakin dingin. Lebih enak lagi jika melakukan perjalanan di siang hari, yang semakin sejuk ketika mendekat ke lokasi tujuan. Yang paling berbeda di perjalanan malam itu adalah langit, suasanya sangat gelap, dan gelap tersebut seperti menghisap energi di sekitarnya. Walaupun tidak seperti perjalanan biasanya, tetapi yang disyukuri adalah bisa sampai tujuan dengan selamat.

Setelah mata terpejam cukup lama, di hari selasa langsung disuguhi mendung yang cukup merata dan gelap. Namun tidak terasa tanda akan turun hujan, sampai memberanikan diri merencanakan pergi ke Yogya di rabu malam, 04 Nopember 2015. Seperti yang direncanakan, aku bilang ke ibu di rabu malam bahwa aku mau pergi sekarang. Kelihatannya ibu kurang senang, dan benar saja tidak lama air hujan pun turun. Hujan pertamaku ternyata didapatkan di tempat kelahiranku. Aku batalkan niat untuk pulang malam itu, walaupun sebenarnya turun hujan tidak terlalu lama. Sejenak menikmati hujan pertama di malam hari, sambil memanjatkan syukur pada pembuat hujan.

Sebenarnya hujan seperti itu belum cukup untuk menghentikanku pergi ke Yogya dengan mengendarai sepeda motor. Ketika hujan lebat pun jika memang sudah terlintas di pikiranku untuk pergi, maka waktu itu juga aku pergi, dan itu pernah dilakukan. Hanya saja kali ini aku ingin mencoba memahami pertanda yang diberikan oleh alam. Di bulan ini tujuan hidupku lenyap, yang membuatku bingung untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Aku mempercepat jadwal kembali ke Yogya karena hanya telah mengatakan pada seseorang yang aku lebihkan dari pada orang-orang lain bahwa aku bisa menemaninya di hari kamis. Itu sebabnya aku berencana pergi di rabu malam. Mungkin hujan pertanda bahwa aku tidak boleh pergi di waktu itu. Awal hujan turun, aku ingin memastikan bahwa itu adalah pertanda dengan cara menghubungi orang yang menjadi alasanku untuk pergi ke Yogya. Memang benar pertanda, karena orang yang aku maksud sedikit pun tidak mengharapkanku serta tidak merasa senang jika aku berada di Yogya hari kamis, ekspresinya biasa saja, datar. Lebih baik aku perlama saja tinggal di Bandung, fasilitas hidup sangat nyaman bung dari pada hidup sendiri di Yogya.

Hujan pertamaku yang membuka mata hati. Terima kasih karena telah melunturkan ekspresi palsu dari orang-orang di sekitar. Kau membuatku lebih tegar.

Belum 24 jam berlalu, rencana untuk memperlama tinggal di Bandung telah aku langgar, atau mungkin bukan melanggar karena akan lebih menguntungkan rencana sebelumnya. Aku pikir harus cepat-cepat ke Yogya dan selesaikan skripsi supaya bisa lebih lama dan bebas tinggal di Bandung. Bukan Yogya yang membuatku bosan. Bukan juga kampus, teman-teman, atau tetangga rumah di Bantul yang telah membuatku bosan. Hanya saja karena aku merasa bosan tanpa alasan, tujuan hidupku hilang, dan tidak bisa membangun kembali tujuan hidup sebelum menyelesaikan skripsi. Jadi harus selesaikan skripsi secepatnya, supaya bisa terbang bebas dan kembali menemukan arah hidup. Kamis sore aku berencana pergi. Terlintas begitu saja pikiran untuk pergi di sore itu, tanpa rencana yang matang, terlintas ketika tiduran sambil nonton tv. Waktu itu juga aku langsung bangkit dan keluar untuk melihat langit. Tiba-tiba air hujan pun turun, hujan kali kedua, membuatku gagal pergi di sore itu. Aku tidak menganggap hujan itu sebagai pertanda buruk, karena aku sudah mempunyai tujuan yang jelas untuk pergi ke Yogya.

Tekadku sudah bulat, maka rencana perjalanan hanya aku tunda sampai malam tiba, tidak sampai membatalkannya. Tunggu adik kecilku terlelap tidur di kamarnya supaya tidak menyaksikan kepergianku ke Yogya. Malam tiba, aku rasa sudah saatnya untuk bilang ke ibu bahwa aku pergi sekarang. Seperti biasa ibu terlihat ragu, tetapi bagiku itu biasa, jika sudah berniat pergi maka tidak ada yang bisa menghalangi, dan ibu akan memaklumi. Sangat disayangkan, baru saja mau pakai atribut bersepeda motor, tiba-tiba hujan turun lagi. Hujan kali ketiga. Karena itu, aku anggap bahwa itu pertanda kali kedua, pertanda bahwa aku tidak boleh pergi. Aku pun tak tahu harus pergi ke Yogya kapan. Mungkin tunggu panggilan teman yang membutuhkanku di Yogya, tetapi aku sudah dilupakan di kampus, tidak ada yang membutuhkan jasaku lagi. Jika begitu, maka aku menunggu kata hati saja.

Hujan kali ini memberikanku suatu kisah yang isi ceritanya dibuat oleh diriku sendiri. Siapalah yang peduli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar