Hanya ada dua hal yang bisa membuatku rusak untuk saat ini,
kisah asmaraku dengan seorang wanita dan sebatang rokok. Mungkin di masa depan
kedua hal tersebut tidak lagi menjadi sumber masalah, karena sekarang sedang
senang-senangnya menjalankan proyek penataan kehidupan baru, salah satunya
berhenti merokok. Adapun mengenai asmara dengan wanita, saat ini aku sedang
dilatih dan selalu diuji oleh seorang wanita yang selalu membuat keputusan
sendiri, selalu menyimpulkan persoalan asmara tanpa dibicarakan denganku
terlebih dahulu. Tentunya hal itu selalu membuatku bingung dan menimbulkan rasa "ahhh... sudahlah".
Mari bahas satu persatu, dan rokok sebagai yang pertama diceritakan, karena aku terlebih dahulu mempunyai kisah asmara dengan rokok dari pada wanita. Terlalu benci bisa jadi cinta, mungkin itulah penyebab hubunganku dengan rokok. Pernah suatu saat aku mengucapkan sumpah yang tidak perlu, bahwa aku benci rokok dan tidak akan pernah menikmatinya. Sumpah yang aku ucapkan bukan ketika aku berada di sekitar keluargaku. Walaupun sebenarnya keluarga besarku adalah perokok berat, semua lelaki yang umurnya di atas 15 tahun pasti menghisap rokok, tetapi bagiku itu bukanlah masalah. Sumpah yang diucapkan ketika aku tinggal di asrama, umur ketika duduk di bangku kelas satu sampai kelas dua SMP. Dulu aku sempat di pesantren sekitar 2 tahun, dan pindah sekolah ketika kelas tiga karena alasan yang masih dirahasiakan sampai saat ini.
Lingkungan asrama menetapkan aturan tidak boleh merokok bagi
para siswanya. Bahkan setiap minggu selalu ada bai’at yang salah satu
poinnya menyatakan ?an lā ?adkhana ‘aku tidak akan merokok’. Bai’at seperti
janji yang harus diucapkan oleh semua siswa. Diucapkan serentak pada upacara
rutin, seperti upacara di sekolah-sekolah umum. Yang benar-benar membuatku
bersumpah bukanlah di dalam ucapara itu, tetapi karena risih melihat siswa lain
yang membuat kenakalan dengan menghisap rokok, khususnya siswa senior. Membuatku
berpikir, apa yang ada di dalam sebatang rokok, sampai ada siswa yang berani
melanggar janji yang diucapkan setiap minggunya. Sepertinya mereka merasa keren
jika melanggar aturan. Aku bersikap risih karena dulu hidupku cukup disiplin,
ada rasa ingin diakui oleh pihak lain bahwa hidupku ini baik. Karena itulah aku
mengucapkan sumpah yang tidak perlu tentang rokok.
Di penghujung kelas dua, aku mulai bertindak liar, terjadi
begitu saja, mungkin karena hormon mulai bertambah, atau mungkin sedang
menginjak masa transisi dari masa kecil menuju dewasa. Liburan tiba, aku pun
pulang ke rumah untuk melepaskan rindu bersama keluarga. Setelah beberapa hari,
ada teman lama yang menawari rokok, yang langsung aku terima tawarannya, dan
langsung mencari tempat gelap di malam hari yang jauh dari keramaian. Itulah rokok
pertamaku, yang memaksaku membeli korek gas untuk dibawa kemana pun supaya
mudah menyalakan rokok.
Tahun ajaran baru tiba, dan aku pergi ke asrama dengan
membawa barang yang tidak biasa dibawa, korek gas. Di perjalanan sempat menghisap
rokok, menandakan bahwa hidupku mulai candu pada sebatang rokok. Temanku di
asrama pernah bertanya hal yang membuatku kaku, ketika aku memainkan korek dia
bertanya mengenai diriku yang merokok dengan korek itu. Dengan nada kaget aku
jawab bahwa korek itu untuk obat nyamuk, dan dia percaya dengan sedikit
bercanda. Tahun ajaran baru tidaklah berlangsung lama, karena aku memutuskan
untuk pindah sekolah. Pulang ke rumah tanpa sepengetahuan orang tua, dan sampai
rumah tidak ada siapa-siapa dengan pintu terkunci. Sambil merenung di belakang
rumah, aku memikirkan hidupku yang mulai berhubungan dengan rokok, dan aku
memutuskan bahwa itu tidak baik, sampai melemparkan korek gas sejauh mungkin. Aku
pikir itu kisah terakhirku dengan rokok, tetapi nyatanya tidak. Di sekolahku
yang baru lebih parah lagi menyikapi rokok, hampir semua temanku nakal, yang
membuatku kembali berhubungan dengan rokok.
Dimulai dari sekolah yang baru, aku dinyatakan pecandu rokok
sampai sekarang. Beberapa kali paru-paruku ambruk, bahkan dinyatakan oleh
dokter mulai berlubang, tetapi tetap saja tidak bisa melepaskan rokok. Sempat beberapa
minggu berhenti merokok di masa SMA karena sistem pernapasanku terasa berat. Akan
tetapi, itu tidak berlangsung lama, aku mulai memegang rokok lagi karena
kebiasaanku bermain di malam hari dengan teman-teman perokok.
Aku merasa rusak karena bagiku rokok sudah menjadi teman
sejati. Di saat cukup lama berpisah, maka rasa rindu muncul, dan dengan cara
apapun harus mendapatkan sebatang rokok. Walaupun di malam hari menjelang
pagi, aku rela pergi ke mini market 24 jam dengan jarak kiloan meter untuk
mendapatkan rokok. Bayangkan saja ketergantungan yang tidak sehat ini, aku
tidak bisa berpikir tanpa rokok. Otak terasa encer jika menghadapi persoalan
sambil menghisap rokok, seperti foto Einstein sambil merokok dengan pipanya. Itu
tidak membuatku bangga, karena yang seharusnya dicontoh dari Einstein adalah
baiknya, dan jangan dicontoh apa yang terasa buruk. Tidak hanya rindu rokok ketika menghadapi persoalan, jika
sedang stres ataupun emosi, maka rokoklah yang menjadi peredamnya. Ketika merasa
dingin, pasti rokoklah yang menjadi penghangat tubuh. Perputaran hidupku terasa
monoton, permasalahan yang berujung dengan sebatang rokok, yang sebenarnya
hanya menambah masalah.
Ketergantungan pada hal yang tidak baik, dan berpengaruh
pada jutaan jiwa manusia. Aku salah seorang yang dibuat bingung, antara
menentang rokok dan membiarkannya beredar di pasaran sampai hari kiamat tiba. Sudah
jelas merokok menyebabkan kerugian bagi penggunanya, baik dalam segi kesehatan
maupun finansial, walaupun terdapat sedikit nilai positif seperti yang tadi aku
bicarakan. Akan tetapi, bagaimana nasib para karyawan pabrik rokok yang
jumlahnya banyak jika peredaran rokok dihapus. Bagaimana juga nasib para
petani tembakau jika peredaran rokok dihapus. Aku tidak bisa berkata banyak,
yang jelas aku harus mengubah diri sendiri terlebih dahulu untuk berhenti
merokok, dan tidak mau memaksa orang lain untuk tidak bergantung pada rokok. Adapun
yang ekonominya bergantung pada rokok, aku hanya bisa berkata bahwa itu
ketergantungan yang tidak baik, menjadikan rokok sebagai satu-satunya sumber
rezeki. Rezeki yang diberikan Tuhan tidak terbatas, tersebar luas di muka bumi.
Bersambung... (karena capek)
Untuk sementara, masalah yang berhubungan dengan wanita dapat dilihat dalam tulisan Wanita. Mudah-mudahan tulisan dapat dilanjutkan di kemudian hari.
Untuk sementara, masalah yang berhubungan dengan wanita dapat dilihat dalam tulisan Wanita. Mudah-mudahan tulisan dapat dilanjutkan di kemudian hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar