Sabtu, 12 Desember 2015

DUA HAL YANG MAMPU MEMBUATKU RUSAK

Hanya ada dua hal yang bisa membuatku rusak untuk saat ini, kisah asmaraku dengan seorang wanita dan sebatang rokok. Mungkin di masa depan kedua hal tersebut tidak lagi menjadi sumber masalah, karena sekarang sedang senang-senangnya menjalankan proyek penataan kehidupan baru, salah satunya berhenti merokok. Adapun mengenai asmara dengan wanita, saat ini aku sedang dilatih dan selalu diuji oleh seorang wanita yang selalu membuat keputusan sendiri, selalu menyimpulkan persoalan asmara tanpa dibicarakan denganku terlebih dahulu. Tentunya hal itu selalu membuatku bingung dan menimbulkan rasa "ahhh... sudahlah".

Mari bahas satu persatu, dan rokok sebagai yang pertama diceritakan, karena aku terlebih dahulu mempunyai kisah asmara dengan rokok dari pada wanita. Terlalu benci bisa jadi cinta, mungkin itulah penyebab hubunganku dengan rokok. Pernah suatu saat aku mengucapkan sumpah yang tidak perlu, bahwa aku benci rokok dan tidak akan pernah menikmatinya. Sumpah yang aku ucapkan bukan ketika aku berada di sekitar keluargaku. Walaupun sebenarnya keluarga besarku adalah perokok berat, semua lelaki yang umurnya di atas 15 tahun pasti menghisap rokok, tetapi bagiku itu bukanlah masalah. Sumpah yang diucapkan ketika aku tinggal di asrama, umur ketika duduk di bangku kelas satu sampai kelas dua SMP. Dulu aku sempat di pesantren sekitar 2 tahun, dan pindah sekolah ketika kelas tiga karena alasan yang masih dirahasiakan sampai saat ini.

Lingkungan asrama menetapkan aturan tidak boleh merokok bagi para siswanya. Bahkan setiap minggu selalu ada bai’at yang salah satu poinnya menyatakan ?an lā ?adkhana ‘aku tidak akan merokok’. Bai’at seperti janji yang harus diucapkan oleh semua siswa. Diucapkan serentak pada upacara rutin, seperti upacara di sekolah-sekolah umum. Yang benar-benar membuatku bersumpah bukanlah di dalam ucapara itu, tetapi karena risih melihat siswa lain yang membuat kenakalan dengan menghisap rokok, khususnya siswa senior. Membuatku berpikir, apa yang ada di dalam sebatang rokok, sampai ada siswa yang berani melanggar janji yang diucapkan setiap minggunya. Sepertinya mereka merasa keren jika melanggar aturan. Aku bersikap risih karena dulu hidupku cukup disiplin, ada rasa ingin diakui oleh pihak lain bahwa hidupku ini baik. Karena itulah aku mengucapkan sumpah yang tidak perlu tentang rokok.

Di penghujung kelas dua, aku mulai bertindak liar, terjadi begitu saja, mungkin karena hormon mulai bertambah, atau mungkin sedang menginjak masa transisi dari masa kecil menuju dewasa. Liburan tiba, aku pun pulang ke rumah untuk melepaskan rindu bersama keluarga. Setelah beberapa hari, ada teman lama yang menawari rokok, yang langsung aku terima tawarannya, dan langsung mencari tempat gelap di malam hari yang jauh dari keramaian. Itulah rokok pertamaku, yang memaksaku membeli korek gas untuk dibawa kemana pun supaya mudah menyalakan rokok.

Tahun ajaran baru tiba, dan aku pergi ke asrama dengan membawa barang yang tidak biasa dibawa, korek gas. Di perjalanan sempat menghisap rokok, menandakan bahwa hidupku mulai candu pada sebatang rokok. Temanku di asrama pernah bertanya hal yang membuatku kaku, ketika aku memainkan korek dia bertanya mengenai diriku yang merokok dengan korek itu. Dengan nada kaget aku jawab bahwa korek itu untuk obat nyamuk, dan dia percaya dengan sedikit bercanda. Tahun ajaran baru tidaklah berlangsung lama, karena aku memutuskan untuk pindah sekolah. Pulang ke rumah tanpa sepengetahuan orang tua, dan sampai rumah tidak ada siapa-siapa dengan pintu terkunci. Sambil merenung di belakang rumah, aku memikirkan hidupku yang mulai berhubungan dengan rokok, dan aku memutuskan bahwa itu tidak baik, sampai melemparkan korek gas sejauh mungkin. Aku pikir itu kisah terakhirku dengan rokok, tetapi nyatanya tidak. Di sekolahku yang baru lebih parah lagi menyikapi rokok, hampir semua temanku nakal, yang membuatku kembali berhubungan dengan rokok.

Dimulai dari sekolah yang baru, aku dinyatakan pecandu rokok sampai sekarang. Beberapa kali paru-paruku ambruk, bahkan dinyatakan oleh dokter mulai berlubang, tetapi tetap saja tidak bisa melepaskan rokok. Sempat beberapa minggu berhenti merokok di masa SMA karena sistem pernapasanku terasa berat. Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama, aku mulai memegang rokok lagi karena kebiasaanku bermain di malam hari dengan teman-teman perokok.

Aku merasa rusak karena bagiku rokok sudah menjadi teman sejati. Di saat cukup lama berpisah, maka rasa rindu muncul, dan dengan cara apapun harus mendapatkan sebatang rokok. Walaupun di malam hari menjelang pagi, aku rela pergi ke mini market 24 jam dengan jarak kiloan meter untuk mendapatkan rokok. Bayangkan saja ketergantungan yang tidak sehat ini, aku tidak bisa berpikir tanpa rokok. Otak terasa encer jika menghadapi persoalan sambil menghisap rokok, seperti foto Einstein sambil merokok dengan pipanya. Itu tidak membuatku bangga, karena yang seharusnya dicontoh dari Einstein adalah baiknya, dan jangan dicontoh apa yang terasa buruk. Tidak hanya rindu rokok ketika menghadapi persoalan, jika sedang stres ataupun emosi, maka rokoklah yang menjadi peredamnya. Ketika merasa dingin, pasti rokoklah yang menjadi penghangat tubuh. Perputaran hidupku terasa monoton, permasalahan yang berujung dengan sebatang rokok, yang sebenarnya hanya menambah masalah.

Ketergantungan pada hal yang tidak baik, dan berpengaruh pada jutaan jiwa manusia. Aku salah seorang yang dibuat bingung, antara menentang rokok dan membiarkannya beredar di pasaran sampai hari kiamat tiba. Sudah jelas merokok menyebabkan kerugian bagi penggunanya, baik dalam segi kesehatan maupun finansial, walaupun terdapat sedikit nilai positif seperti yang tadi aku bicarakan. Akan tetapi, bagaimana nasib para karyawan pabrik rokok yang jumlahnya banyak jika peredaran rokok dihapus. Bagaimana juga nasib para petani tembakau jika peredaran rokok dihapus. Aku tidak bisa berkata banyak, yang jelas aku harus mengubah diri sendiri terlebih dahulu untuk berhenti merokok, dan tidak mau memaksa orang lain untuk tidak bergantung pada rokok. Adapun yang ekonominya bergantung pada rokok, aku hanya bisa berkata bahwa itu ketergantungan yang tidak baik, menjadikan rokok sebagai satu-satunya sumber rezeki. Rezeki yang diberikan Tuhan tidak terbatas, tersebar luas di muka bumi.

Bersambung... (karena capek)

Untuk sementara, masalah yang berhubungan dengan wanita dapat dilihat dalam tulisan Wanita. Mudah-mudahan tulisan dapat dilanjutkan di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar