Aku yang percaya Tuhan, menjalani kehidupan untuk melakukan segala perintah yang telah dan sedang ditawarkan-Nya. Memang tidak mudah, apa lagi di zaman yang (secara tidak langsung) memaksa manusia untuk mempelajari teori-teori bumi. Terkadang ingin kembali ke masa yang membuatku dipengaruhi banyak ajaran agama. Namun, ketika sekarang yang lebih banyak mengikuti arus zaman, tersadar bahwa jalan yang sedang aku tapaki tidak ada ruginya. Mataku bisa terbuka untuk melihat dunia tanpa dibatasi penyekat, walaupun apa yang telah aku pahami belum semuanya, karena dunia ini begitu luas.
Aku hanyalah sebutir debu bagi alam raya. Bukan hal besar yang menyadarkanku bahwa aku sangatlah kecil. Hanya karena mendalami bahan skripsi, hidupku murung seketika. Bahkan judul skripsi telah diubah beberapa kali dikarenakan hal tersebut, tetapi masih pada bidang yang sama. Tidak besar, hanya mendalami ilmu bahasa yang dikerucutkan pada kata beserta maknanya, bagian kecil dari apa yang biasa aku keluarkan melalui mulut. Karena itu juga, aku mendadak jadi penggila buku yang membahas ilmu bahasa di bidang kata, atau istilah lainnya morfologi. Jika menemukan buku yang bagiku judulnya baru, hari itu juga aku baca, bahkan digandakan supaya dapat membaca dengan bebas. Itulah alasanku mengapa judul skripsi sering berubah, karena telah paham bahwa skripsi yang digarap temanya terlalu besar dibandingkan ilmu yang dikuasai, padahal hanya mengobrak-abrik kata. Masih belum layak untuk menyombongkan diri, karena belum baca semua buku yang berkaitan dengan morfologi bahasa, dan lingkup yang sedang dibicarakan masih di area perpustakaan fakultas. Sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menyombongkan diri.
Hanya karena kata dan bagian-bagiannya dapat membuatku merasa kecil, dan aku sangat berterima kasih.
Kadang iri melihat kawan yang memilih skripsi bertemakan sastra. Sepintas terlihat mudah, dan terbukti dengan banyaknya kawan yang telah lulus karena sastra. Masalah lulus atau belum, aku selalu memikirkan kebodohanku, karena aku dengan tegas memilih apa yang menurutku tidak mudah. Ilmu bahasa bagiku sulit, karena memang bukanlah ilmu yang aku suka. Aku lebih menikmati mata pelajaran sastra di masa SMA, dan mungkin akan memudahkan jika skripsiku bertemakan sastra. Inilah jalan hidupku, bukan mencoba untuk membenci sastra, tetapi keinginanku menyeimbangkan ilmu sastra dan bahasa. Tanpa bahasa, sastra tidak ada. Bagaimana bisa bersastra jika ilmu bahasaku masih di bawah kaki. Harapan lain adalah dengan mendalami ilmu bahasa dapat membantuku menata hidup yang mulai memecah liar. Ilmu bahasa bagiku terstruktur. Begitu juga sastra, jika serius diteliti maka memiliki unsur yang terstruktur, tetapi bagiku hanya memuaskan hasrat yang dibangun atas kesenangan dan luapan jiwa, tentu juga karena pengaruh alasan lain bahwa tidak ada seni yang dapat melebihi indahnya ciptaan Tuhan. Akan tetapi, semuanya tetap omong kosong jika yang dilakukan waktu sekarang adalah malas.
Mataku terbuka oleh bagian kecil dari ilmu bahasa, dan itu menyebabkan pikiranku bercabang ke berbagai arah. Mungkin hal itu dikarenakan sisa umurku semakin berkurang, yang mendorongku untuk merencanakan hidup di masa depan. Padahal masa depan adalah misteri, tidak perlu ditakuti, yang penting selalu produktif dalam hal positif di masa sekarang. Namun, teori tidak semudah prakteknya, pikiranku tetap dibayangi hal-hal yang baru aku dapat. Pikiranku mengarah pada kepentingan diri sendiri, keluarga, manusia, dan Tuhan. Beberapa kali diombang-ambing oleh harta dan ilmu. Kemudian menyusul pikiran mengenai agama. Begitu juga yang paling tidak perlu dipikirkan orang kecil sepertiku adalah pikiran tentang nasib umat manusia. Bingung untuk memulai cerita tentang semua yang aku pikirkan, karena bagiku hal itu adalah perputaran yang tak berujung, kecuali jika mati dan kembali pada pencipta.
Pandanganku pada manusia adalah menjalani hidup untuk kepentingan pribadi. Memperkaya diri, menyenangkan diri, tak peduli nasib sesama manusia. Diri yang dimaksud termasuk keluarga. Mungkin aku terlalu merendahkan manusia, padahal rasulku, nenek moyangku, orang tuaku, dan aku sendiri adalah manusia. Durhaka pada mereka, dan termasuk pada Tuhan pencipta manusia. Maka tegaskan saja bahwa manusia yang dimaksud tidaklah semuanya, tetapi sebagian manusia yang sibuk dengan kepentingan pribadi mereka. Sudah jelas istilah manusia yang dimaksud, aku harap tidak ada seorang pun yang memaksa diri untuk salam paham.
Malaikat pernah protes kepada Tuhan ketika penciptaan manusia pertama, karena malaikat khawatir bahwa manusia akan merusak di bumi. Sayangnya malaikat bukanlah Tuhan, tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Tuhan hanya menanggapi malaikat bahwa Dia mengetahui segala yang tidak diketahui malaikat. Hebatnya malaikat diciptakan untuk selalu patuh pada Tuhan, dan sujud kepada Adam ketika Tuhan memerintahkannya. Kecuali iblis, yang merasa derajat dirinya lebih tinggi dari pada manusia, dia enggan bersujud sampai Tuhan mengutuknya. Memang Tuhan maha pengasih, iblis terkutuk dikabulkan permintaanya untuk tetap hidup dan menggoda manusia supaya membangkang kepada Tuhan, yang berlangsung sampai hari akhir umat manusia tiba. Karena itulah, seakan-akan manusia ditakdirkan untuk hidup dalam peperangan baik dan buruk. Jika baik, maka nikmatilah surga yang dijanjikan Tuhan. Jika buruk, maka terkutuklah bersama iblis.
Bagiku setiap manusia mampu membedakan baik dan buruk, tetapi sensitivitas manusia dalam membedakan baik dan buruk tidaklah sama. Bahkan seorang pembunuh berdarah dingin pun bisa membedakannya, dia paham bahwa membunuh adalah buruk.
Rasulku pernah bersabda suatu hal yang aku alami, yaitu terjadinya dunia yang serasa surga padahal sebenarnya neraka, dan sebaliknya ketika surga serasa neraka. Melakukan hal yang buruk sangatlah nikmat, berapa pun lamanya. Berbeda ketika melakukan ibadah yang bisa dilakukan hanya dalam waktu 5 menit, rasanya berat, bahkan lebih mudah mengeluarkan uang demi satu bungkus rokok dari pada sedekah. Ada juga jenis yang lain, ketika melakukan ibadah atau kebaikan untuk tujuan mendapatkan imbalan berupa pujian bahkan lebih, dan itu termasuk buruk. Mungkin itulah janji iblis, menjadikan manusia tersesat. Perang melawan iblis sangatlah rumit, seperti memukul angin, percuma melawan musuh yang tidak tampak. Walaupun nyatanya iblis tidak mampu mengendalikan paksa manusia, tetapi hanya dengan bisikannya saja manusia bisa luluh lantah menuruti segala ajakan iblis. Intinya, langkah pertama melawan iblis adalah dengan cara melawan diri sendiri, karena setiap jiwa yang buruk adalah bukti suksesnya bisikan iblis, dan dapat dilawan jika mampu mengendalikan diri.
Muncul masalah lain ketika iblis membuat ragu manusia atas apa yang dikerjakannya. Sering terlintas di pikiranku, bahwa setiap kebaikan tidak rela dilakukan, atau isilah lainnya tidak ikhlas. Selalu mengharapkan imbalan dari setiap kebaikan yang dilakukan, dan nyatanya memang begitulah adanya. Misalnya, ketika menolong sesama manusia, kemudian orang yang ditolong pergi begitu saja dengan raut muka yang tidak nyaman, maka aku merasa hina diacuhkan oleh orang yang ditolong, menggerutu di dalam hati. Itulah, walaupun misalnya hanya senyuman yang diharapkan sebagai imbalan, tetapi tetap saja itu merupakan bentuk dari mengharapkan imbalan. Hal tersebut sering tidak disadari, dan ketika sadar malah dibuat bingung. Apa termasuk tidak ikhlas jika menggerutu pada diri sendiri menyikapi keburukan orang lain yang telah dibantu?
Hal tersebut adalah sebagian yang pernah terjadi dalam hubungan antar manusia untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Ada juga yang langsung berhubungan dengan Tuhan, ketika beribadah demi mencuri perhatian-Nya. Aku tidak bisa mengelak bahwa ibadahku demi mendapatkan surga, karena takut masuk neraka. Survey yang pernah dilakukan pada beberapa kawan adalah mengalami hal yang sama, bahwa setiap ibadah demi surga di kehidupan yang lain. Apa jadinya jika Tuhan tidak menjanjikan surga, masihkah aku menyembah-Nya? Sepele jika terdengar sekilas, tetapi surga tetaplah objek dari mengharapkan imbalan, dan menyebabkan segala kebaikan tidak dilakukan secara ikhlas untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Hal kecil yang jarang disadari, dan tentunya sangatlah fatal. Aku pikir Tuhan menyuruhku melakukan kebaikan untuk ditujukan kepada-Nya, bukan kepada surga, sayangnya aku adalah pelupa yang hina.
Ketika perang melawan iblis yang merupakan diri sendiri masih tidak mudah untuk dilakukan, muncul masalah lain yaitu menghadapi manusia yang termakan iblis. Mengaitkan segala akibat yang dilakukan manusia di bumi karena Tuhan adalah hal konyol. Bagiku kejam jika Tuhan menakdirkan masing-masing manusia untuk masuk surga dan neraka. Aku yakin itu bukan permainan Tuhan dalam penciptaan manusia. Aku dibebaskan oleh Tuhan untuk hidup di bumi. Bebas melakukan apa saja, termasuk membunuh orang tuaku sendiri. Bukan berarti Tuhan tidak ikut campur dalam kehidupan manusia, aku tidak berdaya tanpa segala pemberian-Nya. Tuhan tidak pilih kasih, semua jiwa diberi udara. Bankir internasional yang membuat miskin berbagai negara bisa mengendalikan dunia. Banyak juga ilmuan dari kalangan ateis yang jelas memaksa diri tidak mempercayai adanya pencipta. Itulah sebagian bentuk kebebasan manusia yang diberikan Tuhan, tetapi jangan dilupakan bahwa Dia menawarkan konsekuensi atas segala perbuatan manusia. Surga dan neraka. Dimuliakan dan disiksa.
Tidak berdo’a menandakan sombong, bahwa diri tidak membutuhkan Tuhan. Begitu juga tidak bersyukur kepada-Nya adalah sombong, menandakan bahwa diri sukses dalam melakukan hal karena dirinya sendiri, bukan karena adanya hubungan antar manusia, dan bukan karena kuasa Tuhan. Sadarilah, tidak bisa dinamakan sukses dalam kehidupan tanpa adanya hubungan antar manusia.
Rasa khawatir malaikat tentang manusia yang akan merusak di bumi kini telah terbukti. Alam enggan menari. Burung-burung hijrah ke sisa wilayah pepohonan. Air tawar berlindung ke lautan yang suci. Udara tercemar. Tanah tak subur. Sungai menghitam, bau busuk. Darah manusia menjadi halal, saling menusuk demi kepuasan diri. Bagi sebagian manusia, dunia modern sekaranglah yang penuh dengan kesenangan, layaknya surga. Bagi para pemikir, dunia yang sekarang adalah neraka, mati bunuh diri takut disiksa, hidup pun tak ada nikmatnya jika menapaki bumi yang semakin keras menangis. Hebatnya masih ada saja manusia yang hidup tertawa, selama memiliki uang yang mendadak jadi dewa dalam memenuhi kebutuhan hidup. Masa bodoh yang lain kelaparan, biarkan saja mereka meminum keringatnya sendiri.
Aku adalah manusia. Apa artinya hidup jika orang di depanku menderita kemiskinan di bumi yang kaya ini. Bumi ini milik siapa, sampai harus mengeluarkan koin untuk setetes air. Inilah yang dimaksud dengan manusia yang termakan iblis, memonopoli bumi dan isinya demi kepuasan dan merugikan pihak lain. Memang sepertinya manusia ditakdirkan dalam peperangan baik dan buruk. Aku sendiri tak tahu berada di pihak mana, karena sempat tergiur harta yang sedang bergengsi di bumi ini. Sekali lagi aku tidak bisa mengelak, bahwa gelar sarjanaku ditujukan sebagai jalan menuju kemapanan diri.
Mataku terbuka, bumi ini sedang digerogoti keserakahan manusia. Aku membutuhkan udara yang sehat, dan aku ingin melihat keluargaku hidup dengan udara yang sehat. Lebih besar lagi, aku tak sanggup melihat sesama manusia hidup tersiksa karena tercemarnya udara, dengan kata lain bahwa aku juga lebih senang jika melihat mereka hidup dengan udara yang sehat. Aku pikir udara sehat karena bantuan pepohonan. Karena yang aku alami ketika hidup di tempat yang sedikit pepohonan dibandingkan dengan yang banyak pepohonan sangatlah berbeda, dan tentunya lebih nyaman di tempat yang masih banyak pepohonan.
Biasanya kota yang memiliki jumlah pohon terbatas, dan terkadang desa yang berbatasan dengan kota terkena imbasnya. Aku pikir ada sistem yang sengaja dibuat salah. Bagiku kota adalah pemukiman yang tertata, dan lebih dipilih orang-orang sebagai tempat bermukim. Tertata bukan hanya bangunannya, tetapi alamnya juga. Rasanya tidak sulit jika menumbuhkan empat pohon di setiap rumah, yang memberikan keseimbangan bagi kehidupan. Sayangnya manusia serakah, sepetak tanah di kota harganya mahal, rela ditukar dengan uang kertas yang tidak berharga, kemudian pohon-pohon ditumbangkan untuk membangun ruangan tembok. Belum cukup, katanya pijakan tanah menyebabkan kotor, lalu dengan senang hati dikeraskan. Akhirnya, bangunan di kota padat, tidak ada pohon, tidak ada resapan air, sungai jadi saluran pembuangan. Air pun semakin lama semakin habis, yang kemudian muncul perusahaan air pipa, dan itu tidaklah gratis. Pohon dan tanah yang terkubur menjadikan udara kota tercemar dan rawan terkena banjir. Kemudian ketololan manusia pun menyalahkan Tuhan, dengan bahasa yang lebih santun yaitu “musibah”.
Politikus itu harusnya pintar dalam menata wilayah dan isinya, tetapi menata kota dengan keseimbangan alam saja tidak becus, atau mungkin sengaja pura-pura tidak becus demi keberlangsungan asap dapur dari hasil penjualan air pipa. Mungkin juga mereka bukan ahli politik, seperti halnya pepatah, jika suatu urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Akan tetapi, masyarakat yang memonopoli tanah juga salah, rela menukar alam dengan uang.
Bumi adalah milik Tuhan, dan tidak layak dimonopoli manusia. Firman Tuhanku benar, tentang manusia yang berdalih mengadakan perbaikan di muka bumi, padahal yang sebenarnya terjadi adalah membuat kerusakan.
Belum puas meladeni keserakahan, wilayah luar kota pun diratakan. Omong kosong kampanye penghijauan atau lestarikan alam. Yang terjadi pepohonan terus ditebang dan tanah dikeruk sampai dalam. Minyak biarlah habis dibakar, tetapi yang tidak harus dibiarkan adalah korban manusia karena perebutan ladang minyak.
Tentang pohon, selama ini dari mana perabotan rumah berbahan kayu jika bukan berasal dari pohon, kertas sebagai media tulis berbahan baku pohon, dan banyak lagi barang yang disenangi manusia terbuat dari pohon. Solusi pasti ada untuk tidak mengeksploitasi pohon, karena yakin manusia modern lebih pintar. Pasti ada alternatif lain yang lebih bersahabat dengan alam. Akan tetapi, itulah iblis yang menyebabkan manusia menjadi serakah, dengan sengaja hal yang baik dilupakan.
Tentang tanah, yang konon mengandung batu atau logam mulia berharga fantastis. Silahkan dikeruk, tetapi jangan sampai penduduk sekitar terjangkit penyakit kemiskinan. Silahkan dikeruk, tetapi kenapa menghasilkan limbah yang mengotori alam. Adapun yang berada di kota, seperti yang direncanakan ketika tanah-tanah dibatukan, menjadi sebab jarangnya resapan air sehingga tanah tidak lagi banyak menampung air. Kemudian penjual air berskala besar pun menawarkan solusi, dengan dalih mengairi tiap-tiap bangunan penampung jiwa. Sayangnya tidak gratis, tidak murah, tidak layak minum, bercampur dengan kimia yang dikhususkan untuk air. Koin dari dalam saku pun terpaksa dikeluarkan, karena memang air merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting. Yang lebih tidak masuk akal adalah ketika air tidak mengalir, bagi yang tidak mengerti keran pun dibuka menunggu air keluar, dan tiba-tiba tagihan air membengkak. Ternyata tidak hanya air yang dijual, udara yang mendorong air di dalam pipa pun dijual.
Manusia serakah. Akan tetapi, siapakah manusia serakah yang membuat kerusakan di bumi, dan yang jelas bukanlah penduduk di tanah yang rusak. Nyatanya mereka hidup tidak bergelimbang harta, bahkan kemiskinan semakin meraja lela. Iblis perusak alamlah yang harus dihancurkan, sehingga korban manusia tidak bertambah banyak.
Uang benar-benar menjadi dewa. Apa yang spesial dari uang yang jika dibakar hangus, dan tidak lebih baik jika dibandingkan dengan sebalok besi. Sekarang yang dinamakan kekayaan berpindah haluan pada jumlah nominal uang yang dimiliki. Kekayaan bukanlah tentang menguasai ilmu, karena memang yang terjadi adalah ijazah sarjana digadaikan untuk memperkaya diri, walaupun masih banyak yang bingung sambil mengantongi gelar sarjana. Kekayaan bukanlah tentang bersihnya hati, yang di mana kejujuran dapat ditukarkan dengan bait-bait kepalsuan. Kekayaan bukanlah hubungan jiwa dengan pencipta, ketika agama dengan mudah diperjualbelikan.
Hanya karena uang manusia bisa saling bunuh, bahkan bisa terjadi pembunuhan masal. Sudah cukuplah memandulkan tanah, jangan menambah lagi kesengsaraan bumi dan isinya dengan mengotori sungai-sungai oleh limbah kimia. Tidak cukupkah daya tampung limbah dari pabrik-pabrik yang memperkaya segelintir orang. Hal lain yang tidak dimengerti adalah ketika sawah-sawah yang subur sebagai sumber pangan dikeraskan begitu saja supaya perumahan dapat dibangun. Lahan tandus tidak sedikit, dan itu bisa dijadikan alternatif untuk pembangunan. Membuat sepetak sawah tidaklah mudah. Keburukan terjadi pada kedua pihak, pemilik sawah yang mau-maunya menjual tanah subur sumber pangan, dan perusahan perumahan yang lebih memilih sawah dibandingkan lahan tandus sebagai target pembangunan. Manusia tambah sengsara.
Juga, ketika listrik menjadi energi yang dibutuhkan manusia, dan ilmu pengetahuan terus berkembang pesat. Perusahaan pun lahir demi meratakan listrik sampai penghujung negeri. Hitung saja ketika orang-orang membayar tagihan pemakaian listrik, itu bukanlah jumlah uang yang sedikit. Apa lagi jika bukan untuk memperkaya diri. Buktinya ketika ilmu pengetahuan bisa memanfaatkan panas matahari dan tenaga angin sebagai pembangkit listrik, tetap saja belum terjadi satu desa pun yang menggunakannya. Seakan-akan manusia dipaksa untuk memakai jasa perusahaan, karena ketika berpindah ke energi yang gratis dan praktis, maka perusahaan bisa mendadak bangkrut. Ilmu pengetahuan yang sia-sia, memperkaya diri dan bukan menyejahterakan setiap jiwa, dan manusia sengsara.
Semua hal hanya memperkaya diri, akibatnya alam tersiksa dan manusia hanya menjadi gumpalan daging tak berharga. Penjajahan manusia yang tidak disadari, hanya memanfaatkan bidang ekonomi. Tujuan memperkaya diri adalah untuk kebahagiaan, dan keduanya selalu saling terikat. Biasanya kebahagiaan diri adalah pada urusan dunia, dan Tuhan dapat dilupakan dengan mudah.
Ada juga yang mencari kebahagiaan dengan mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi hanya untuk diri sendiri, tidak peduli pada sesama manusia yang sedang tersesat. Biarkanlah mereka sesat, bukan urusanku, yang penting Tuhan bisa menerimaku di sisi-Nya. Hal yang demikian, apa bedanya dengan manusia yang memperkaya diri untuk kebahagiaan, tetapi menyengsarakan pihak lain. Dalam urusan agama, ada lagi urusan yang lebih lucu ketika masing-masing kelompok di bawah agama yang sama saling tusuk-menusuk. Menganggap kelompok sendiri lebih baik, dan kelompok lain adalah sesat. Itukah yang dinamakan dengan pencapaian kepada Tuhan? Anehnya masing-masing kelompok tidak berencana untuk musyawarah, menyatukan pandangan, sehingga jiwa kecil yang ilmu agamanya sepanjang garis kelingking merasa bimbang. Harusnya semua orang sudah paham, bahwa dalam musyawarah pasti ada pemenang yang argumennya paling banyak diterima, dan yang kalah harus menerima dengan ikhlas. Akan tetapi, yang disayangkan masing-masing mereka berotak batu, tetap menyatakan bahwa argumen masing-masing mereka adalah yang paling benar. Yang terjadi hanya memecah belah agama dan umat manusia. Wajar jika kepercayaan manusia terhadap Tuhan semakin memudar.
Aku rasa memang ada sistem yang salah, atau mungkin sengaja dibuat salah. Kaya semakin kaya, kaya berpotensi miskin, miskin semakin miskin, dan kehidupan adalah urusan masing-masing. Tidak ada gunanya aku meniti karir demi kekayaan ketika berada di era yang aku mengolok-oloknya. Tidak ada gunanya gelar sarjanaku jika tidak bermanfaat bagi sesama manusia. Lebih tidak berguna lagi jika ijazahku digadaikan pada perusahaan, yang menjadikanku budak tertipu upah uang yang diterima, dan menanggalkan semua ilmu yang dipelajari selama kuliah. Najis, orangtuaku memberikan biaya supaya aku berilmu, bukan untuk memperkaya diri di bawah payung penjajah ekonomi. Akan tetapi, memang yang terjadi adalah pendidikan untuk ijazah sebagai syarat melamar kerja. Doktrin yang berupa racun, dan berhasil mengubah pandangan orang mengenai pendidikan. Tidak bisa berbohong, aku pun sempat berpikir bahwa pendidikanku ditujukan untuk sebuah pekerjaan yang dapat membuat diriku mapan. Terjadi juga pada saudaraku, yang berhenti memanfaatkan otak encernya untuk mencari ilmu, demi kesenangan, kemapanan, berkeluarga, dan seakan-akan bertindak masa bodoh terhadap manusia yang terjerat kemiskinan.
Skripsi membuatku menyadari hal-hal yang kecil, dan ternyata tidak cukup hanya untuk menuliskannya pada sobekan kertas. Karena itulah tujuan hidupku menyebar ke berbagai arah, dengan mengingat bahwa aku bukanlah satu-satunya manusia. Tersadar akan sistem kemanusiaan yang terjajah di tangan iblis, terombang-ambing, egois, dan pelan-pelan menghapus kewajiban mengenai hubungan sesama manusia dalam kebaikan, serta hubungan manusia dengan pencipta. Aku yang ber-Tuhan, sempat mengarahkan hidupku untuk meniti karir menuju kemapanan diri, beralih arah untuk mendedikasikan diri pada ilmu pengetahuan, berpindah lagi untuk mematahkan cengkraman iblis dari jiwa-jiwa yang tersesat sampai mereka sadar dan bersama-sama menata kehidupan yang layak, tetapi mustahil untuk melakukan semuanya karena aku hanyalah pemalas yang tak tahu diri.
Keinginanku terlalu besar jika dihadapkan kepadaku sebagai butiran debu bagi alam raya. Akan tetapi, aku tidak mau menjadi pengecut tanpa perlawanan di hadapan iblis yang tertawa girang merendahkan manusia. Tak apa jika harus melawan arus zaman, walaupun resikonya adalah terinjak oleh zaman, dan tidak perlu takut dalam hal kebaikan karena masa depan adalah misteri. Harus ada perlawanan. Aku sadar bahwa tujuan hidupku belum tertata. Arah mana yang harus didahulukan ketika karir, kemapanan, kebahagiaan, ilmu pengetahuan, dan ketuhanan adalah perputaran yang hanya berujung jika sampai pada kematian.
Aku coba tegaskan diri untuk mendalami hubunganku dengan pencipta sebagai pilihan pertama dan utama. Tidak salah juga, karena di era globalisasi yang penuh hiburan ini telah membuatku jauh dari Tuhan, sampai kitab suci pun berdebu karena disibukkan teori-teori bumi, dan sudah saatnya kembali menguatkan diri dengan agama. Tidak ada ruginya, karena dengan mendekatkan diri pada Tuhan melalui ajaran agama dapat membuatku lebih memahami dunia, karena Tuhanlah yang mengetahui tujuan dari penciptaan dunia, tahu segala hal yang berada di dunia. Tidak perlu disayangkan mengenai biaya yang telah dikeluarkan untuk pendidikan, karena bidang ilmu yang aku pelajari berhubungan dekat dan sangat bermanfaat dalam mendalami agama.
Tak peduli jika ada yang menganggapku kuno karena mempelajari agama. Bagiku agama bukanlah tradisional ataupun modern, agama tidak mengalami perubahan menyesuaikan zaman, tetapi zamanlah yang harus menyesuaikan dengan agama. Setelah arah yang pertama ini berjalan dan menjadi pondasi yang kokoh di dalam diri, maka arah lain pun siap dijalankan, berharap keinginan yang aku anggap terlalu besar dapat dilakukan dengan izin Tuhan.
“Do not pray for easy lives, pray to be stronger men! Don’t pray for task equal to your powers, pray for powers equal to your task.” –anonymous-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar