Minggu, 25 Oktober 2015

TENTANG KONSER 24 OKTOBER 2015

Maunya ceritain ini sama teman dekat (bisa disebut pacar atau mantan, status tidak jelas), tetapi aku rasa dia malas dengar ocehan mulutku. Sudahlah, nanti ceritanya malah curhat masalah pribadi. Bisa disebut konser yang aku datangi adalah kali terakhir di Yogya, skripsiku hampir selesai dan rencananya langsung melanjutkan petualangan hidup ke tempat entah berantah. Kebetulan penyanyi yang sempat aku suka mengisi konser tersebut. Tak tanggung, The Sigit dan Iwan Fals yang mengisi konser, keduanya sempat menjadi playlist terbaik di laptop. Makanya, tanpa pikir panjang langsung parkir saja motor di penampungan setempat dengan karcis yang lumayan mahal, seharga nasi telor di warung makan padang Pesisir.

Obrolanku bukan tentang pengisi panggungnya, tetapi suasana di tempat tersebut. Biasanya selalu merinding ketika melihat konser Iwan Fals, bukan karena takut, lebih tepatnya ada rasa kagum dengan suasana sekitar. Bahkan nonton di youtube saja bisa merinding, terutama ketika melihat konser lama, “power”-nya terasa sampai keluar layar laptop. Sayangnya, sekarang suasana tersebut tidak terlalu terasa, atau mungkin cuman aku yang merasa demikian. Wajar, kurang lebih seminggu aku menghindari musik beserta seperangkat alatnya, bahkan gitar bassku membangkai penuh debu di sudut kamar yang kebetulan gelap. Aku menghindari musik bukan karena frustasi atau benci. Bagiku musik sudah seperti jati diri dan gaya hidup, suatu kebutuhan rohani, bisa dibandingkan dengan nasi. Akan tetapi, mulai menghindari musik ketika sadar bahwa ada segelintir kelompok yang memanfaatkan musik untuk hal negatif, merusak otak sehingga diri menjadi buruk. Aku pikir tidak semua musik seperti itu, tetapi aku menghindari apa yang membuat diriku buruk, menghindari semua musik karena tidak tahu musik mana yang dapat merusak.

Kembali pada pembahasan awal, konser yang sekarang aku datangi sangat berbeda. Suasananya tidak seperti biasa yang aku rasakan, lebih terasa seperti konser orchestra di dalam gedung. Sempat salah paham, ketika jalan di sore hari lihat segelintir orang yang aku anggap anak punk, dan ternyata sadar bahwa mereka Oi ketika selintas melihat atribut yang mereka bawa. Itulah perbedaan pertama yang aku rasa, generasi Oi yang sekarang lebih mirip anak punk. Dari hal itu mudah dibedakan antara pengunjung konser Iwan Fals era ’90 akhir sampai 2000 awal dengan yang sekarang. Mungkin karena faktor zaman, yang di mana generasi muda jalanan sekarang banyak yang hijrah jati diri ke komunitas punk. Walaupun begitu, masih bisa lihat juga para penikmat konser Iwan Fals dengan gaya yang khas, celana jeans dan kaos seadanya, mirip seniman jalanan tetapi enak dipandang. Bahkan masih ada juga yang rambutnya gondrong seadanya, serasa nostalgia di era lama.

Setelah masuk area konser, suasana yang beda semakin terasa. The Sigit selesai pentas, para penonton Iwan Fals pun makin membanyak, dan mereka merapat ke depan. Aku sendiri berada di tengah lokasi, bahkan sempat ke bagian paling belakang di awal Iwan Fals bernyanyi, dan tentunya menyelinap ke bagian depan ketika tembang hitsnya mulai dinyanyikan, untuk kemudian berjingkrak kesetanan. Sayangnya yang bergoyang menikmati konser tidak merata, dan itu membuatku tidak nyaman, karena ketika aku kegirangan malah sebagian orang di sekitar diam membeku, dan itu sedikit membuatku malu.

Para penonton yang terlanjur kaya, ponsel canggih mereka pun sengaja dinyalakan di saat Iwan Fals bernyanyi. Mungkin mereka bermaksud membuat video kenang-kenangan. Aku yang tidak sependapat dengan mereka, lebih memilih untuk memasukan ponsel ke dalam tas, kan video konser Iwan Fals sudah banyak di youtube. Itulah yang aku maksud suasana berbeda, yang benar-benar menikmati konser hanyalah sebagian orang, sebagiannya lagi menikmati proses perekaman video di ponsel. Tidak terasa kekompakan pada penonton, masing-masing dari mereka sibuk dengan kepentingannya sendiri.

Konser dijadikan tempat berlibur keluarga, dan tempat mencari suasana baru bagi yang kencan di malam minggu. Itu benar-benar terjadi, terlihat kontras dalam ramainya penonton. Bukan berarti tidak dibolehkan, bukan hakku untuk ikut campur urusan orang lain, juga sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Toh ada juga sebagian dari mereka yang ikut terbawa suasana, bergoyang dan mengikuti lagu dengan sedikit malu-malu. Akan tetapi, banyak juga yang terdiam kaku, seperti menonton film di bioskop.

Yang aku rasakan, konser kali ini jiwanya sedikit hilang. Benar-benar berbeda. Aku coba gambarkan suasana yang aku rasakan, bayangkan sebuah papan catur, dan masing-masing kotak baik hitam maupun putih diisi para penonton. Di semua kotak putih para penonton diam membatu, dan hanya di kotak hitamlah penonton yang berjingkrak menikmati konser, itu juga perlu diketahui bahwa tidak semua yang berada di kotak hitam menikmati konser sampai keluar keringat. Keadaan tersebut membuatku kurang nyaman, sampai beberapa kali berpindah tempat ke penonton yang ramai berjingkrak, supaya sama-sama menikmati konser Iwan Fals yang mungkin jadi terakhir kali aku datangi di Yogya. Kan malu jika sendirian kegirangan, tetapi orang-orang di sekitar diam berdiri.

Aku harap semua dugaanku salah. Mohon maaf jika benar-benar salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar