Selasa, 06 Oktober 2015

SELASAR KOSONG TEMPAT BERTEDUH

Banyak mahasiswa tidak memperhatikan berbagai tempat di dalam kampus. Tempat yang sunyi, tidak seperti tempat lain yang selalu hangat karena dijadikan tempat tongkrongan mahasiswa. Bagiku, itulah tempat yang selama ini dicari. Jauh dari keramaian, bisa melakukan apa saja, bagaikan ruang pribadi yang dikhususkan bagi pemiliknya.

Sering kali saya melakukan petualangan sendiri, salah satunya mencari tempat-tempat yang jarang dihuni oleh mahasiswa di dalam kampus. Terangkan saja bahwa kampus yang dimaksud adalah UGM. Kampus yang pernah menyandang gelar kampus kerakyatan. Kampus yang pernah saya bayangkan diisi oleh mahasiswa cerdas dan rendah hati. Walaupun apa yang saya alami adalah tidak sepenuhnya tepat. Sudahlah, bukan UGM yang mau saya bicarakan, tetapi bagian kecil darinya.

Tempat duduk atau yang biasa saya sebut tangga di lapangan GSP, pernah jadi tempat pilihan untuk menyendiri. Menikmati langit malam, ramainya kendaraan di jalan Kaliurang, dan cahaya kendaraan yang menyilaukan mata di portal utama UGM. Tidak berlangsung lama, tidak selamanya saya menikmati damainya tempat itu. Terkadang ada sekelompok mahasiswa yang sibuk dengan kegiatannya, terkadang ada yang sedang menikmati asmara, dan terkadang sama sekali tidak bisa menikmati karena kebetulan sedang berlangsung acara di dalam gedung. Sekarang lebih parah lagi, biasanya di siang hari bisa dijadikan tempat menyendiri, tetapi sekarang dipenuhi rasa malu, banyaknya kendaraan yang parkir di lapangan GSP dan sekitarnya membuatku minder untuk hanya sekedar nongkrong di sana. Bukan pilihan utama untuk dijadikan tempat berteduh, hanya sesekali saja jika benar-benar sedang jauh dari keramaian.

Kampus FIB, bagian kecil UGM yang menjadi tempat saya menambah ilmu. Satu pun tidak ada tempat sepi yang cocok untuk menyendiri. Di bagian utara kampus, pernah ada tempat yang biasa disebut bangjo (bangku ijo). Sama halnya dengan tempat duduk lapangan GSP, tidak selamanya bangjo dirundung sepi. Apalagi di siang hari, pernah jadi salah satu tempat favorit mahasiswa. Terkadang tempat itu dijadikan tempat menyendiri, tetapi bukan pilihan utama, karena memang di sana jarang ditinggalkan mahasiswa. Sayangnya sekarang sudah alih fungsi, dan semua bangku digusur. Ada juga tempat lain yang pernah dijajal untuk menyendiri, gedung C, biasa disebut gedung plasa. Malam hari di lantai paling atas, bukan pilihan utama mahasiswa untuk berkumpul. Rumor yang beredar bahwa di lantai paling atas terdapat cerita mistis. Akan tetapi, bagiku itu bukanlah realita, tidak perlu takut, lagi pula ada CCTV yang setia menemani gerak-gerik mahasiswa. Ternyata orang yang suka menyendiri bukan cuman saya, pernah kebetulan bertemu dengan seorang mahasiswa yang asik dengan laptopnya di lantai paling atas. Sampai sekarang tidak pernah berteduh lagi di plasa lantai paling atas, dan tidak tersedia tempat berteduh di FIB.

Untuk menceritakan semua tempat sangatlah repot, tepatnya malas. Langsung saja ke obrolan mengenai tempat yang sampai sekarang jadi pilihan utama untuk berteduh. Siang hari tempat tersebut ramai lancar, mirip kendaraan mudik di hari raya. Kecuali hari sabtu-minggu, tidak ada satu mahasiswa pun yang hanya sekedar mampir di sana kecuali saya. Ada kalanya diramaikan dengan kuliah pengganti atau acara mahasiswa, tetapi sangat jarang. Terutama malam hari, kapan pun harinya tetap tidak dijadikan pilihan tempat nongkrong mahasiswa. Seakan-akan memang disediakan hanya untuk saya. Selalu berharap bahwa akan ada orang yang duduk di sana, tetapi sampai sekarang belum pernah terjadi. Terima kasih jika UGM merepotkan diri untuk memberikan saya tempat berteduh.


Tidak perlu diterangkan tempat mana yang dimaksud, bahaya jika mahasiswa lain tahu, karena saya akan kehilangan tempat terbaik di kampus. Sedikit gambaran mengenai tempat kesayangan, status kepemilikan tidaklah jelas. Benar-benar memiliki ruang privasi, tempatnya di lantai paling atas, dan tidak ada orang yang bisa melihat. Fasilitas sering berubah, kadang semuanya meja, kadang tanpa meja dan kursi, dan yang sekarang jelasnya gambar di foto adalah instalasi yang terbaik. Fasilitas pendukung adalah colokan listrik, bisa mainan laptop. Saya tidak tahu mengenai nama yang tepat bagi gedung tersebut, karena pemiliknya terbagi antara FIB dan kampus tetangga. Tempatnya juga memang berada di antara kedua fakultas tersebut. Mungkin masing-masing fakultas mengklaim nama yang berbeda bagi tempat tersebut. Bukan urusanku dan memang tidak penting, yang jelas tempat itu jangan berubah sampai saya memakai toga.

Di balik kesunyian malam hari, di tempat itu saya bisa mendengarkan live music dari kampus tetangga, bisa melihat bulan dan bintang, merasakan angin malam, dan tentunya bisa dijadikan tempat berteduh. Suatu hari, desain rumah yang akan saya bangun kemungkinan besar mengadopsi gaya arsitektur tempat tersebut. Penuh kenangan, ketenangan, dan nyaman.