Rabu, 07 Oktober 2015

TANGGAL LAHIR

Aku tidak terlahir dari keluarga yang memberi perhatian lebih pada tanggal lahir. Masing-masing dari kami sekeluarga tidak pernah saling mengingatkan bahwa “hari ini adalah tanggal lahirmu”. Bahkan aku tidak hapal semua hari kelahiran anggota keluarga. Seakan-akan bisa dikatakan bahwa kami tidak peduli mengenai tanggal lahir.

Istilah apa yang tepat bagi tanggal lahir, banyaknya istilah membuatku bingung menyebutkan istilah yang tepat bagi tanggal tersebut. Orang-orang di sekitarku biasa menyebutnya dengan ulang tahun. Entah dari mana istilah itu berasal. Jika merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, birthday, bagiku itu tidak masuk akal. Karena pengalihan bahasa dari birthday menjadi ulang tahun adalah kekeliruan yang fatal. Ada juga yang menyebutnya dengan milad, sedikit kearab-araban, dan pandangan orang-orang sekitar mengenai hal yang berbau Arab adalah Islam. Jika dialihbahasakan, milad berarti hari lahir, tetapi tidak bisa merubah “ulang tahun” sebagai istilah yang sudah melekat bagi orang-orang sekitar. Yang lebih mengherankan, bukan mengenai istilah tanggal lahir, tetapi dari mana (dan sejak kapan) kebiasaan tanggal lahir dirayakan .

Terkadang iri melihat teman yang selalu diberi kejutan ketika sampai pada tanggal lahir. Lebih iri lagi jika melihat suatu perusahaan, instansi, daerah, dsb yang sampai pada tanggal tersebut, kemudian dirayakan besar-besaran. Di balik semua itu, berapa banyak orang yang mengais rezeki dari tempat penampungan sampah, berapa banyak orang yang mencari sisa makanan di tempat sampah, alangkah indahnya jika dana hura-hura dialokasikan kepada mereka yang nasib hidupnya terikat dengan sampah.

Terus terang saja, inilah bentuk iri yang aku luapkan bagi penganut pesta di tanggal lahir. Ini hanya opini di wilayah demokrasi, bolehlah siapa pun hura-hura, tetapi jika tidak lagi terdengar saudara sebangsa kelaparan. Kenapa aku harus peduli mengenai tanggal lahir, jika tidak suka maka diam saja. Akan tetapi, kenapa juga harus tidak peduli mengenai hal tersebut, di era yang membebaskan orang-orang untuk berbicara.

Hari ini adalah tanggal lahirku. Ingat begitu saja, seakan-akan ingin dirayakan seperti halnya orang lain. Dari pagi hari aku putuskan untuk tidak bertemu satu teman pun, menghindari ucapan selamat yang dapat membuatku bingung menyikapinya. Akan tetapi, ada satu orang yang aku harap ingat tentang tanggal kelahiranku, bukan keluarga ataupun teman seperjuangan. Bukan bermaksud ingin merayakan tanggal lahir, tetapi hatiku bakal tersentuh jika dia memberikan selamat di tanggal yang menurutku biasa saja. Mungkin dia merasa malas, karena dulu pernah terjadi hal yang membuatnya kecewa, ketika dia membawakan makanan untukku di tanggal lahir, dan aku memarahinya karena bagiku tidak perlu membuang uang hanya karena tanggal lahirku tiba. Aku marah karena uang yang dia keluarkan, tetapi senang dengan rasa peduli yang dia berikan. Sekarang dia bukanlah kekasihku, dan hal itu semakin jelas jika dia sama sekali tidak ingat tanggal lahirku. Namun, dia masih teman dekatku, dan itulah yang membuatku kecewa.

Yogyakarta yang sekarang merupakan tempat petualangan hidupku sedang merayakan tanggal lahirnya. Tidak menyangka bahwa tanggal lahirku bertepatan dengan tanggal lahir daerah monarki yang menjadi pilihanku menambah ilmu. Sebelumnya tidak tahu sama sekali mengenai hal itu, atau mungkin lupa karena aku tidak memberi perhatian lebih untuk tanggal lahirku. Rencananya ingin melihat pawai budaya sebagai peringatan tanggal lahir Yogyakarta. Awalnya aku pikir itu ide yang baik untuk mengisi kegiatan di tahun terakhir kuliah. Akan tetapi, keraguan datang ketika menuju lokasi pawai budaya. Semakin ragu dengan datangnya firasat buruk, dan disertai dengan tidak adanya teman yang berada di rumahnya maupun di tempat kerjanya untuk menitipkan sepeda motorku. Terlintas pikiran bahwa ini rencana Tuhan supaya aku tidak mendatangi tempat yang dituju. Sedikit berontak, aku arahkan motor ke stasiun Tugu untuk menyimpan kendaraan. Akan tetapi, kata hati yang aku percaya datang dari Tuhan menambah keraguan, tiga jalan besar di timur lokasi pawai budaya begitu padat dengan kendaraan. Mungkin itu efek dari perayaan tanggal lahir Yogyakarta yang diselenggarakan di daerah Tugu. Sejak itu aku tegaskan untuk pergi ke tempat “berteduh” tercinta di dalam kampus, untuk menyepi dan introspeksi diri menghadapi usia baruku yang semakin berkurang.

Rasanya tidak adil jika terus-menerus membicarakan hal negatif mengenai perayaan tanggal lahir. Sedikit bijaksana atau mungkin tidak tegas, dilakukannya perayaan besar-besaran seperti pawai budaya Yogyakarta, terkandung nilai kebaikan bagi sebagian kalangan. Setidaknya, perayaan tersebut dapat melupakan sejenak beban hidup jiwa-jiwa yang bernafas di sana. Tidak sedikit orang-orang yang menikmati perayaan tersebut, dan tentunya tidak hanya terbatas untuk penduduk kota Yogyakarta. Ada juga nilai positif mengenai budaya, kerucutkan saja karena budaya itu terdiri dari beberapa unsur, lebih tepatnya nilai positif terdapat pada bidang kesenian. Kapan lagi masyarakat bisa menghidupkan kesenian, mempertontonkan, dan dinikmati oleh berbagai kalangan. Lebih positif lagi karena sebagian kesenian yang dipertunjukkan memiliki unsur tradisional. Terakhir, nilai positif di bidang ekonomi, yang tentunya banyak kalangan yang diuntungkan dari segi ekonomi disebabkan terselenggaranya pawai budaya. Lahan parkir, jual makanan dan minuman ringan, penyewaan alat acara, dan banyak lagi jika harus disebutkan semua. Yang paling menyentuh adalah senangnya para pemulung botol minuman bekas, karena tidak sedikit orang yang memeriahkan acara di sana membuang botol minuman. Itu semua adalah bagian kecil nilai positif yang dapat disebutkan. Nilai positif selebihnya dapat ditanyakan pada semua orang yang memperhatikan perayaan tersebut.

Jadwal kegiatanku sedikit kacau. Awalnya, malam ini ada pameran seni di TBY yang harus aku datangi. Walaupun demikian, setidaknya aku bisa menghasilkan karya pada kertas virtual, bukan menghabiskan tenaga yang tidak memberiku banyak keuntungan.

Ini semua karena kepedulianku dengan tanggal lahir yang biasanya tidak dipedulikan. Jadi terpikir lebih dalam mengenai perayaan tanggal lahir. Birthday, diterjemahkan hari lahir. Jika frasa tersebut yang dijadikan acuan untuk merayakan kelahiran, maka yang seharusnya terjadi adalah perayaan dilakukan setiap minggu di hari lahir. Dalam penanggalan masehi, terdapat tujuh hari di setiap minggunya, dan tidak berubah di bulan bahkan tahun apapun. Anehnya, semua kalangan menyepakati untuk mengadakan perayaan di tanggal kelahiran, bukan hari kelahiran. Istilah yang sakit. Jika ulang tahun yang dijadikan acuan untuk merayakan kelahiran, maka lebih membingungkan lagi. Tidak ada waktu yang berulang, dan istilah ulang tahun  tidak akan pernah bisa masuk akal. Hanya orang-orang yang menyesali perbuatannya, tetapi tidak ingin berubah, merekalah yang selalu berharap waktu dapat berulang, sehingga perbuatan yang disesalinya berharap hilang begitu saja. Sakit.