Senin, 05 Oktober 2015

KEBAIKAN DARI SETANGKAI MAWAR

Tanpa sadar di halaman rumahku tumbuh pohon mawar
Adalah hal yang wajar karena aku si pemalas
Maka halaman rumahku tumbuh tetumbuhan liar
Lapi pula aku tidak pernah mencari benih mawar dan menaburkannya di halaman rumah

Mawar itu menghiasi rumahku secara tidak langsung
Tapi aku mengacuhkannya
Bahkan tidak peduli ketika aku menginjaknya tanpa sengaja
Seringkali para tamu dan tetangga memuji mawar itu ketika melihatnya
Karena mawar itu juga mereka memujiku dan iri padaku
Padahal mawar itu baru berbunga, belum mekar, sehingga belum layak mendapatkan penghargaan

Perhatianku pada mawar mulai muncul
Tapi aku belum sampai merawatnya dengan perawatan yang layak seperti tanaman hias lainnya
Aku hanya memagari di sekitar mawar itu supaya tidak ada binatang liar yang merusak
Aku memayungi mawar itu supaya terlindungi dari terik matahari dan tetesan air hujan
Kadang aku tersakiti oleh durinya ketika memastikan mawar itu baik-baik saja
Tapi sakit karena tusukan duri itu nyata, cepat sembuh, tidak seperti hati yang kabur, samar, dan tidak tergambarkan

Belum ada perasaan untuk memindahkan mawar itu ke dalam pot mewah dan dipajang di ruang tamu sebagai tanda bangga memiliki
Sampai suatu masa, aku ingin memanjakannya
Bunga mawar sudah mekar, dan aku menikmati keindahannya
Betapa cantiknya mawar itu
Aku membeli pot yang menurutku mewah dengan uang saku yang pas-pasan
Aku rela menunda nafsu untuk memanjakan mulut dan paru-paruku dengan gumpalan asap rokok sampai dapat pot yang aku inginkan

Dalam perjalanan pulang selalu terlintas di pikiranku betapa indahnya jika mawar itu tumbuh dalam pot yang aku hadiahkan kepadanya
Tanpa duga, ketika aku sampai di rumah, mawar itu hilang
Termenung sejenak meratapi jahatnya dunia ini
Makhluk paling beruntung yang mengambil mawar di halaman rumahku
Mawar itu begitu indah, layak dihargai tinggi, dan aku menyukainya

Rasa kehilangan ini begitu besar
Di saat aku menyukainya, mawar itu hilang, pergi entah kemana
Penyesalan dalam hatiku selalu melukai diriku sendiri
Teringat betapa jahatnya diriku
Ketika mawar yang baru tumbuh aku abaikan
Ketika aku tidak peduli di saat aku menginjaknya tanpa sengaja
Ketika tanah sebagai pijakan akar mawar mengering dan aku tersenyum senang karena tumbuhan liar di halaman rumahku semuanya akan mati.

Apakah itu sifatku?
Bukan...!
Bahkan aku benci mengingatnya
Itu bukan diriku...,
Bahkan aku tidak tahu itu siapa

Mawar itu merubah semuanya
Bahkan ketika mawar itu hilang entah kemana, dia menyadarkanku pada suatu kebaikan
Tanpanya, aku hanya segumpal daging yang tidak mengerti makna kehidupan
Tanpanya, aku tidak akan lebih dewasa dalam menyikapi hidup, mengerti antara baik dan buruk
Karenanya, aku tidak akan mengulangi kebodohanku pada mawar lain jika suatu hari tumbuh di halaman rumahku
Aku akan merawatnya, dari awal tumbuh yang tidak memancarkan keindahan, sampai berbunga dan mekar bunganya, menampakkan kecantikan setangkai bunga mawar

Akulah yang akan selalu ingat kapan mawar itu tumbuh
Bahkan ketika pemiliknya yang baru tidak ingat kapan dia mengambil mawar itu di halaman rumahku, akulah yang selalu ingat kapan mawar itu hilang