Kamis, 15 Oktober 2015

KAWAN

Aku memahami kawan sebagai media berbagi, komunikasi, menjauhkan diri dari sepi, dan dibutuhkan manusia sebagai naluri. Itu merupakan bentuk pemahamanku terhadap  agama yang menyatakan bahwa ciptaan dilahirkan berpasangan. Bukan berarti berpasangan antar lain jenis, tetapi pemahamanku mengenai berpasangan termasuk di dalamnya adalah kawan, dan tidak ada pemisah jenis. Juga merupakan pemahamanku terhadap ilmu bahasa, bahwa manusia merupakan bentuk plural, mewakili setiap individu dalam satu istilah manusia, tidak tercipta hanya satu. Adapun bentuk singularnya adalah orang, yang menunjukkan satu, dan dapat dipluralkan melalui proses reduplikasi, orang-orang.

Idealnya seorang kawan merupakan tokoh prontagonis, membuat diri selalu nyaman dan mengobati setiap kerumitan hidup. Akan tetapi, sayangnya setiap individu berbeda, bisa memilih sifat manasuka. Bagaikan duri dalam daging, kawan bisa menokohi peran antagonis, menjadi musuh di depan hidung yang tidak terlihat. Terkadang bingung menyikapi kawan palsu antara menyadarkan, meninggalkan, mengabaikan, dan menyakiti. Karena seringnya berperilaku munafik, yang terkadang bersikap baik, terkadang menusuk, sehingga tipu muslihat mereka tidak disadari seiring seringnya mengenakan topeng yang menutupi ekspresi asli. Mengenakan topeng adalah baik jika selama hidup tidak pernah dilepas. Topeng adalah jelas, ekspresi yang diberikan pencipta tidak akan pernah berubah. Yang berbahaya adalah jika memakai topeng hanya dalam waktu sementara, bisa menipu orang lain, termasuk menipu pemakainya, dan kata menipu tentunya memberikan dampak negatif berupa kerugian bagi siapa pun yang terlibat.

Terlalu baik adalah tidak baik, itu yang dirasakan jika kondisi yang dialami berhubungan dengan kawan antagonis yang bertopeng prontagonis. Terasa sia-sia apa yang telah dibagi, diberi, berbagai kebaikan yang tulus direlakan kepada kawan yang sebenarnya sedang mengenakan topeng. Seharusnya bisa bersikap tegas, itu bukanlah kawan, tetapi lawan yang tidak layak disetarakan dengan kawan. Kawan yang mempunyai kualitas lawan adalah lawan, seperti halnya plus dihadapkan kepada minus yang tentu hasilnya adalah minus. Seperti yang diketahui bahwa manusia adalah bentuk plural, maka buang saja kawan berkualitas lawan, masih banyak orang yang bisa dijadikan kawan. Jangan merasa rugi membuang kotoran, supaya barang baru bisa menempati ruang kosong.

Akan tetapi, membuang apa yang telah dimiliki adalah tidak baik. Hasilnya serba salah. Bayangkan jika si kawan bertopeng tiba-tiba membutuhkan pertolongan, dan aku menyikapinya dengan mengabaikan, maka kualitasku tidak berbeda dengan si kawan bertopeng. Aku akan menjadi tokoh yang sebelumnya aku benci, dan biasanya kebanyakan orang tidak menyadari. Jika ada aturan tangan dibalas dengan tangan, atau disakiti dibalas dengan menyakiti, dengan dalih keadilan, maka itu adalah aturan yang sangat bijak dan aku berhak memanfaatkannya. Akan tetapi, apakah baik jika keburukan dibalas dengan keburukan, yang membuat kualitas diri menjadi buruk. Akal sehatku berbisik bahwa itu tidaklah baik. Karena itulah munculnya pernyataan serba salah. Untuk sementara aku tidak bisa bersikap bijak, lebih memilih untuk mengabaikan kawan palsu, dan memberikan bantuan jika tiba-tiba diminta pertolongan. Tuhan lebih bijak dari apa pun, biarkan Dia mengatur nasib manusia dengan jutaan misterinya, dan tentunya berpihak pada manusia berkualitas baik. Biarkan si kawan penipu terus-menerus mengoyak hatiku yang terbentuk dari berbagai perasaan. Abaikan saja setiap kerugian yang dia lakukan, suatu saat akan lelah sendiri, dan akan malu ketika terpuruk kemudian membutuhkan pertolongan. Itulah balasan yang menurutku baik, membuat malu lawan ketika dia meminta bantuan, dan biarkan Tuhan yang memberikan balasan lebih dengan hukum-Nya yang bijak.

Ada baiknya memiliki kawan antagonis yang bertopeng prontagonis. Bisa membuat diri semakin kuat menjalani kerasnya hidup, karena hati terbiasa dikoyak oleh orang yang dianggap kawan berbagi. Kebaikan yang lain adalah bisa introspeksi diri, mencari segala kekurangan diri yang tidak disadari.

Memang sakit jika mengingat kebaikan yang diberikan kepada kawan dan timbal baliknya merupakan rasa sakit. Memang sakit ketika aku selalu merancang agenda berkumpul kawan, bersenang-senang, dan ketika mereka merencanakan suatu kumpulan tidak terpikirkan sedikit pun untuk mengajak, seolah-olah aku tidaklah penting untuk diingat. Memang sakit jika mengingat bahwa apa yang mereka pikirkan tentang diriku adalah buruknya saja, tanpa mengingat kebaikan yang telah aku berikan. Mungkin itulah cara Tuhan menggoda hamba-Nya, jika aku terpancing emosi sehingga mengumbar kebaikan yang dilupakan oleh kawan bertopeng, maka kebaikan yang telah aku lakukan sia-sia. Kebaikan yang tidak dilakukan dengan ikhlas, ingin mendapatkan timbal balik dari objek lain, atau Islam memberikan istilah yang sederhana dengan sebutan riya’.

Di balik itu semua, lebih baik memiliki kawan prontagonis yang bertopeng antagonis. Di depan hidung terasa bahwa dia memberikan sikap penuh kebencian. Akan tetapi, nyatanya sikap benci yang dia ekspresikan adalah rasa sayang kepada seorang kawan. Mengungkapkan keburukan diri di depan mata, tetapi membela ketika posisinya berada di belakang. Sulit menyadari ketika menghadapi orang seperti itu, yang sebenarnya itulah kawan sejati dan layak dijadikan media berbagi. Memang manusia lebih suka melihat bungkus dari pada isinya, karena malasnya berpikir lebih dalam dan hanya menerima realita yang nampak sekilas di depan mata. Tidak salah jika Tuhan sering berfirman supaya manusia berpikir. Mungkin tujuannya supaya manusia melihat setiap kebaikan yang diberikan Tuhan kepada ciptaan-Nya.

Sudahlah, manusia jumlahnya banyak, tak perlu membatasi kawan hanya di lingkungan sekitar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar