Selasa, 13 Oktober 2015

WANITA

Apa pun yang terlihat selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Itulah yang aku rasakan dari wanita. Bukan berarti wanita memiliki kekurangan, tetapi dampak negatif yang ditimbulkan ketika memiliki hubungan dengan lawan jenis. Sebelumnya mohon maaf jika yang dibahas adalah kekurangan wanita dari apa yang aku rasakan. Suatu saat akan dibahas mengenai kelebihan wanita yang juga pernah aku rasakan.

Aneh rasanya jika ada yang mengalami fobia wanita. Terhitung kurang lebih sampai 17 tahun aku mengalami fobia terhadap wanita. Dengan catatan, fobia yang dirasakan muncul ketika awal menginjak masa dewasa, dan tidak termasuk keluarga dekat. Jangankan memegang bagian tubuh, hal yang sederhana saja tidak bisa dilakukan seperti saling memandang, bertanya, atau melakukan percakapan. Saat masuk dunia perkuliahan bisa membuka sedikit ruang untuk menerima wanita, tetapi sampai sekarang penyakit fobia belum sepenuhnya hilang.

Banyak hal yang dirasakan ketika wanita telah menjadi bagian teman hidup. Batasi saja biar obrolan tidak melebar, wanita yang dibahas pernah menjadi salah satu orang terdekat di kehidupan kampus. Seperti tak menyadari, porsi hidupku sebagian besar diberikan untuknya, bisa dikatakan bahwa dia lebih penting dari pada diri sendiri. Menyedihkan. Belum lama bisa menerima wanita, dan begitu saja hidupku berantakan.

Tujuan utama masuk perguruan tinggi begitu saja terlupakan. Semua perhatian diarahkan pada wanita pujaan. Hidup seperti memiliki semangat baru, bergejolak, tetapi semangat yang dirasakan sebenarnya ditujukan pada wanita. Tidak bisa mengelak, memang itulah yang terjadi, hampir semua aktifitas formal dan non-formal yang biasa dilakukan di kampus tidak dijiwai seperti biasanya. Sampai akhirnya satu persatu dilepaskan apa yang telah/sedang dimiliki di kampus. Istilah yang lebih tepat bukanlah “dilepaskan”, tetapi “hilang” dan harus memulai kembali dari awal untuk mendapatkannya.

Belajar, aktifitas yang seharusnya diutamakan di masa perkuliahan, sudah tidak dipedulikan. Yang lebih penting adalah bisa merasakan kesenangan, bisa selalu dekat dengan wanita pujaan menjadi agenda utama. Seperti tidak memiliki rasa bosan, lebih dari separuh jam kehidupan dalam sehari diberikan untuk saling bersama. Yang dimaksud bukan hanya kencan bertatap muka, tetapi termasuk saling mengirimkan pesan melalui media apa pun. Jika ada alarm pengingat tugas dan dering ponsel tanda masuk pesan, pasti lebih gesit untuk menyikapi dering ponsel, dan yang mengerikan adalah alarm pengingat tugas dimatikan tanpa melihat isinya.

Teman, yang biasanya dijadikan media berbagi, menemani, tertawa, bercanda, belajar, dsb, posisinya diturunkan lebih rendah dari pada wanita terdekat. Jika ada ajakan kumpul teman dan kebetulan berbarengan dengan ajakan wanita untuk bersamaan, maka yang lebih dipilih adalah wanita. Bodoh. Yang lebih parah ketika berkumpul dengan teman, dan tiba-tiba wanita terdekat mengajak untuk bertemu, langsung saja teman ditinggalkan untuk menemani wanita. Akhirnya satu persatu teman yang dimiliki hilang, dan tentunya tidak memiliki perkembangan dalam penambahan jaringan teman. Memang wanita terdekat juga bisa dikatakan teman hidup, tetapi bukan berarti mengurangi jumlah teman yang sudah dimiliki.

Tujuan hidup, yang lebih fatal dari pada yang telah dibicarakan. Tak sadar arah tujuan hidup berubah untuk merasakan kehidupan bahagia di masa mendatang dengan wanita terdekat. Persetan dengan tujuan hidup yang awal, lebih penting merencanakan kehidupan bersama untuk membangun keluarga. Sakit jiwa. Padahal tujuan hidup yang awal bisa lebih baik, karena bisa memuaskan diri, membanggakan keluarga, membuat iri teman, dan tentunya bisa lebih menyenangkan istri dan anak kelak. Wanita terdekat bukanlah seorang istri, tetapi bodohnya selalu menyamakan wanita terdekat yang belum tentu menjadi istri dengan seorang istri yang jelas-jelas terikat dengan pernikahan.

Pikiran, bercampur kacau antara berbagai perasaan. Cemburu ketika melihat wanita sedang bersamaan dengan lelaki lain. Khawatir ketika tidak mendapatkan kabar sama sekali. Marah ketika wanita dirasa tidak mau terbuka dalam percakapan. Bangun pagi pikiran awal yang terlintas adalah wanita. Sebelum tidur pikirannya wanita. Semua aktifitas dicampuri pikiran wanita. Membuat diri jadi pemarah, pemurung, penyendiri, tidak bisa mengontrol diri.

Belum tentu wanita terdekat memegang kesetiaanya hingga benar-benar sampai ke ruang pernikahan. Kalimat tersebut tidak terbayang sama sekali ketika berdua saling mengisi. Sadarilah ketika kalimat tersebut benar-benar terjadi, maka semua yang pernah dimiliki lenyap tak tersisa. Itulah yang aku rasakan. Diawali dengan menjauhnya wanita dengan alasan yang tak masuk akal. Begitu mudah wanita terdekat mengucapkan kalimat berpisah. Beberapa kali ditanya alasan, dan jawabannya selalu beda. Beberapa kali memohon maaf jika telah terjadi kesalahan yang tidak disadari, tetapi seakan-akan dia tidak punya telinga. Percuma, dan semuanya hilang.

Bukan bohong, setelah dibuang wanita terdekat tidak bisa berpikir jernih. Sulit tidur, tidak nafsu makan, malas bergerak, dan hati terus menerus dirundung sepi. Akhirnya, kembali melakukan aktifitas lama sebagai pengalih rasa tak karuan. Akan tetapi, semangat belajar turun karena telah terbiasa tidak belajar untuk memilih kesenangan bersama wanita. Kembali berkumpul bersama teman, tetapi seakan-akan tidak punya teman, kaku untuk menyapa. Kembali merancang tujuan hidup, tetapi rasanya hidup tak segarang dulu yang bisa melakukan apa saja. Semuanya hilang hanya karena disebabkan seorang wanita. Resiko yang diterima adalah memulai dari awal untuk kembali mendapatkan apa yang telah hilang, dan itu tidaklah mudah.

Di saat hidup mulai pulih, tiba-tiba wanita yang dulu pernah dekat memberi kabar. Kondisi buruk yang hampir terlupakan kembali terpikirkan. Bingung untuk menyikapi kabar yang diberikan. Di sisi lain terdapat dendam karena kondisi terpuruk , rasa sakit jika mengingat wanita yang pernah dekat. Di sisi lainnya terdapat ruang kosong untuk memberi maaf dan menyikapi semua hal buruk dengan biasa. Tak peduli memilih keputusan yang tepat atau salah karena masa depan bagiku adalah misteri, maka memaafkan dipilih karena pemaaf dirasa lebih baik dari pada pendendam. Senang rasanya bisa kembali bersama, walaupun tidak sedekat dulu. Buruknya adalah rasa untuk memasrahkan hidup kepada  wanita, memberikan porsi waktu yang lebih kepada wanita, memerhatikan, peduli, khawatir, cemburu, dan semua yang dulu pernah dirasakan ketika dekat, sekarang belum sepenuhnya hilang. Itu buruk jika mengingat masa terpuruk yang pernah terjadi. Lebih buruk lagi ketika terlintas perasaan untuk mengulang kembali hubungan lama, untuk menjadikannya sebagai wanita terdekat.

Menyedihkan. Tak punya harga diri. Tidak bisakah bersikap tegas untuk menyikapi hidup. Kalah oleh seorang wanita yang pernah menyakiti.

Terpikirkan untuk merawat rasa senang, tumbuhnya semangat karena wanita pujaan telah kembali, semuanya dialihkan sebagai penambah energi positif dalam membangun tujuan hidup yang belum lama dibangun kembali dari awal. Akan tetapi, semuanya omong kosong, energi negatif lebih berat, dan proyek tujuan hidup tidak mengalami perkembangan, malah yang terjadi adalah menurun. Sementara, yang baru aku miliki mulai hilang satu persatu. Yang aku harapkan, semoga tidak merusak pikiran jernih yang pernah terkotori.

Terima kasih kepada wanita lain yang pernah menolak tawaran sebagai pasangan hidup. Keputusan yang sepintas terasa sakit itu adalah keajaiban Tuhan yang menyayangi hambanya untuk tidak terpuruk dalam menjalankan kehidupan. Tuhan pun memberi pelajaran bagi hambanya yang tidak menyadari peringatan, ketika ada wanita yang bersedia untuk menjadi pasangan hidup, tak lama hidup menjadi kacau, dan semua yang dimiliki hilang. Bukan berarti tidak boleh merasakan asmara, tetapi seriuslah dalam menyikapi hubungan dekat berbeda jenis, supaya tidak terjadi aktifitas hidup yang sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar