Selasa, 15 September 2015

MASALAH

Lisanlah penyebab dari setiap masalah. Maka aku lebih suka bungkam, jadi pendengar setia, dan lakukan semua hal dengan tangan. Akan tetapi, kehidupan manusia sudah berkembang pesat. Penyebab masalah pun bertambah, tulisan. Adanya hal itu, maka aktifitasku yang berhubungan dengan organ badan kembali berkurang. Aku mulai membiasakan diri untuk tidak menulis, supaya terhindar dari masalah yang tidak perlu.

Aku yang bungkam dan tidak mencoretkan aksara, membuang kertas-kertas kosong yang bagiku sudah tidak berguna. Namun, tanganku ini menolak, dan mulai membentuk berbagai macam rupa dari kertas-kertas kosong. Hanya dengan kertas itu tidaklah cukup, sampah-sampah kertas pun mulai dimanfaatkan, dan hasilnya adalah karya tangan dari penggunaan kertas yang menyimpang berserakan di ruangan yang semakin menyempit.

Nasib yang sama, ternyata hasil dari ubahan kertas jadi berbagai bentuk adalah penyebab masalah. Karena kata-kata sederhana “sindiran...? kritikan...? pujian...? berhala...?”, yang dilafalkan seseorang atas beberapa bentuk yang dilihatnya. Penyebab masalah lagi, dan saatnya mengurangi pemanfaatan dari jasad yang lemah ini. 

Lisan, tulisan, bahkan bentuk rupa bisa jadi penyebab masalah. Akan tetapi, rasanya terlalu cepat untuk menyimpulkan, terkesan memaksakan diri, itu bukanlah penyebab masalah. Aku hanya menyampaikan makna yang berada dalam pikiran melalui ketiga hal tersebut. Haruskah aku tidak berpikir supaya menghapus makna dan terhindar dari penyebab masalah? Sulit dilakukan, sebab pikiran bukanlah bagian dari jasad. Walaupun aku sengaja mati untuk menghilangkan makna yang berkeliaran dalam pikiran atas dasar menghindari penyebab masalah, maka semuanya sia-sia, tidak akan pernah tahu jawaban dari apa yang aku pikirkan.

Pikiran mengolah makna. Hati menilai baik dan buruk. Jasad hanyalah kurir yang menyampaikan dan yang menerima (untuk disampaikan pada hati dan pikiran).