Lisanlah penyebab dari setiap masalah. Maka aku lebih suka bungkam,
jadi pendengar setia, dan lakukan semua hal dengan tangan. Akan tetapi,
kehidupan manusia sudah berkembang pesat. Penyebab masalah pun bertambah,
tulisan. Adanya hal itu, maka aktifitasku yang berhubungan dengan organ badan
kembali berkurang. Aku mulai membiasakan diri untuk tidak menulis, supaya
terhindar dari masalah yang tidak perlu.
Aku yang bungkam dan tidak mencoretkan aksara, membuang
kertas-kertas kosong yang bagiku sudah tidak berguna. Namun, tanganku ini menolak,
dan mulai membentuk berbagai macam rupa dari kertas-kertas kosong. Hanya dengan
kertas itu tidaklah cukup, sampah-sampah kertas pun mulai dimanfaatkan, dan
hasilnya adalah karya tangan dari penggunaan kertas yang menyimpang berserakan
di ruangan yang semakin menyempit.
Nasib yang sama, ternyata hasil dari ubahan kertas jadi
berbagai bentuk adalah penyebab masalah. Karena kata-kata sederhana “sindiran...?
kritikan...? pujian...? berhala...?”, yang dilafalkan seseorang atas
beberapa bentuk yang dilihatnya. Penyebab masalah lagi, dan saatnya mengurangi
pemanfaatan dari jasad yang lemah ini.
Lisan, tulisan, bahkan bentuk rupa bisa jadi penyebab
masalah. Akan tetapi, rasanya terlalu cepat untuk menyimpulkan, terkesan
memaksakan diri, itu bukanlah penyebab masalah. Aku hanya menyampaikan makna yang
berada dalam pikiran melalui ketiga hal tersebut. Haruskah aku tidak berpikir
supaya menghapus makna dan terhindar dari penyebab masalah? Sulit dilakukan,
sebab pikiran bukanlah bagian dari jasad. Walaupun aku sengaja mati untuk
menghilangkan makna yang berkeliaran dalam pikiran atas dasar menghindari
penyebab masalah, maka semuanya sia-sia, tidak akan pernah tahu jawaban dari
apa yang aku pikirkan.
Pikiran mengolah makna. Hati menilai baik dan buruk. Jasad hanyalah
kurir yang menyampaikan dan yang menerima (untuk disampaikan pada hati dan
pikiran).