Untuk sementara sebut saja bahwa malas adalah penyakit hati yang merusak diri dan berpotensi merugikan orang lain. Sadar akan akibat dari penyakit tersebut, tetapi sangat sulit untuk merubah diri dari apa yang sudah disadari. Tidak dibatasi oleh ras, suku, bangsa, atau yang secara garis besar disebut dengan sesuatu yang membatasi dan memisahkan antar manusia, malas tetaplah dianggap sebagai sifat buruk bagi semua individu. Beruntunglah bagi orang-orang yang terlahir jauh dari penyakit malas.
Masyarakat Indonesia yang terdiri dari beberapa kelompok masyarakat, sepakat untuk memberi peringatan dengan kata-kata bahwa orang-orang yang bangun kesiangan rezekinya dimakan ayam. Logis, karena memang orang yang bangun siang dapat diterima sebagai pemalas, dan waktu untuk bekerja atau melakukan hal positif di siang hari sudah terpotong oleh tidur. Kalah oleh binatang berjenis ayam yang sudah berkokok di dini hari, dan menggerakan cakarnya pada tanah untuk mencari makanan. Jangan tersinggung, pemalas lebih rendah dari binatang.
Islam yang diyakini oleh umatnya sebagai agama langit terakhir, memandang malas sebagai suatu hal yang berbahaya. Bahkan diajarkan kepada umatnya sepenggal do’a supaya Tuhan melindungi diri dari malas. Kutipan terjemahannya berbunyi, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari hutang dan kezaliman manusia.”
Para motivator di era modern selalu mengajak para pendengarnya untuk menjauh dari malas. Apa yang dikatakan motivator bukanlah untuk mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri dari orang lain. Sebagian besar para motivator ternama selalu mencoba menyampaikan kalimat bijak. Mereka menasihati para pendengar untuk menjauh dari malas, supaya tidak merasakan kerugian yang akan terjadi di masa depan. Bukan berarti mereka disebut sebagai peramal, tetapi mereka menyampaikan pengalaman yang terjadi di masa lalu.
Dari sudut pandang kelompok negatif, para pemuja setan, para kriminal, para pembenci kebaikan, mereka bukanlah orang-orang malas. Betapa semangatnya mereka merencanakan suatu agenda yang akan dijalankan. Tentunya agenda yang telah siap mereka jalankan sesuai yang direncakan, dan itu bukanlah cerminan dari sifat malas. Bahkan iblis pun sebagai bapak dari pemberontak kebaikan Tuhan, tidak lelah untuk membisikkan keburukan pada hati-hati manusia. Kesuksekan iblis pertama dan paling dikenal adalah menyingkirkan Adam dan Hawa dari surga, dan masih banyak kesuksesan lainnya yang sekarang telah tampak. Tinggal menunggu turunnya Dajjal, yang dipercaya sebagai salah satu tokoh terakhir bawahan iblis yang akan membawa dunia pada era kegelapan di akhir jaman.
Sadarkah bahwa malas berhubungan dengan waktu? Orang-orang barat sangat menghargai waktu, dan ada yang menyamakan nilai dari waktu dengan uang. Waktu adalah uang, kalimat familiar yang sering didengar di mana pun, sering dijadikan penggalan humor bagi orang-orang yang menyibukan diri. Dengan kata lain, banyaknya uang yang diperoleh, sesuai dengan waktu yang dipakai untuk usaha mendapatkan uang. Sebaliknya, jika hobi membuang waktu dan tidak pernah memanfaatkan waktu untuk bekerja, maka nominal uang yang dikantongi adalah nol. Adapun jika labil dalam menghadapi waktu, porsi yang dilakukan belang-belang antara bekerja dan malas-malasan, maka sama halnya dengan harga gadget di pasaran, nilai yang dimiliki barang tersebut selalu berkurang dan tersisihkan seiring berjalannya waktu. Pekerjaan yang dilakukan sebelumnya hilang begitu saja karena terhambat oleh malas, kemudian memulai pekerjaan dari awal dan hilang lagi terhambat malas, begitu juga seterusnya. Jadi ingat penggalan dialog dalam suatu film, “jika tidak mengikuti arus jaman, maka akan terinjak oleh jaman.”
Waktu adalah ciptaan Tuhan yang bersifat bijaksana. Tak kenal ampun bagi siapa pun, waktu tidak bisa berulang, yang terjadi hanyalah terus maju dari titik awal sampai titik akhir. Dalam kitab suci agama Islam, Tuhan berfirman, dan dalam firman-Nya Dia bersumpah di atas waktu. Demi masa. Bahkan Tuhan pun sangat menghargai waktu.
Orang-orang yang tidak menghargai waktu sangat berpotensi untuk mendapatkan kerugian, dan mereka lebih dekat sebagai penyandang gelar pemalas. Umur tidaklah bertambah, atau lebih banyak disebut oleh para peraya hari kelahiran dalam nyanyiannya dengan “panjang umur”. Umur tidaklah bertambah atau memanjang, umur berbatas waktu, dan setiap manusia akan sampai pada batas umur yang telah ditentukan. Tepatnya, umur yang dimiliki manusia adalah berkurang. Seperti halnya air di dalam botol yang dibawa sebagai bekal minuman di waktu bepergian, setiap langkah kaki dan datangnya rasa haus di tenggorokan, maka air dalam botol diminum, dan tentunya semakin lama semakin berkurang, pada akhirnya air dalam botol pun lenyap.
Bagi para pemalas sebagai ciptaan yang tidak menghargai waktu, banyak waktu terbuang yang seharusnya diisi untuk melakukan hal-hal positif. Waktu yang terbuang adalah waktu yang berisi dengan berbagai macam keburukan, dan jika timbangan lebih berat pada waktu yang terbuang, maka kualitas manusia yang membuang waktu adalah manusia yang buruk. Tidak ada orang yang senang memilih hal buruk, bahkan nenek tua lebih memilih sayuran segar dengan harga sedikit lebih mahal di pasar tradisional, dari pada membeli sayuran layu dengan harga sedikit lebih murah, atau mengambil gratis sayuran busuk yang terbuang. Kembali pada diri sendiri untuk memilih, mau jadi pemalas yang akan menjadikan diri sebagai manusia buangan dan tersisihkan, atau sebaliknya yang akan lebih dihargai?.
Entah dari mana datangnya malas dalam setiap jiwa. Manusia tidak bisa menyalahkan setan, karena setan hanya mampu membisikkan malas, tidak mampu untuk memaksa manusia untuk menjadi pemalas. Apa karena penyakit turunan? Mungkin sering terdengar, bahwa seseorang tidak jauh beda dari orang tuanya. Orang tua pemalas akan melahirkan seorang anak pemalas. Mungkin bisa diterima alasan semacam itu, alasan yang mengkambinghitamkan faktor genetik sebagai penyebab sifat yang dimiliki setiap orang. Namun, sebagai orang yang mempercayai agama langit, semua umat manusia adalah keturunan Adam. Dengan begitu, menyalahkan gen sebagai faktor penurunan sifat dapat diragukan. Karena setiap jiwa bisa menentukan sifat untuk dirinya sendiri, pilihan.
Yang menggerakkan diri adalah diri sendiri. Kita semua diberi kebebasan untuk melakukan apapun. Tuhan tidak memaksa ciptaan-Nya untuk melakukan ibadah, Dia membebaskan, tetapi menawarkan akibat dari apa yang kita lakukan. Iblis tidak mampu memaksa kita untuk menyeleweng dari jalan Tuhan, dan setiap dari kita bisa melawan bisikan setan.
Lawan yang paling berat itu adalah diri sendiri. Wajar jika sulit menghilangkan malas, karena malas adalah musuh yang diciptakan oleh diri sendiri, berupa sifat, dan bentuk yang menjadi wadah dari malas adalah diri sendiri. Rasanya percuma melawan diri sendiri, karena setiap serangan yang dikirimkan tidak akan berpengaruh, musuh yang merupakan diri sendiri telah mengetahui tameng yang cocok untuk mengatasi serangan. Jadi mengerti makna yang terkandung dalam penggalan lagu, “perang itu melawan diri sendiri”.
Mengenai hubungan malas dengan salam, menurut kamus bahasa, bahwa makna malas adalah tidak mau bekerja. Adapun salam, mempunyai dua makna, (1) dapat berupa pernyataan hormat yang bisa dilakukan dengan ucapan dan gerakan, dan (2) dapat berupa kata yang mengandung makna selamat. Jika dibalikkan susunan huruf dari malas, maka menjadi salam. Malas adalah negasi dari salam, begitu juga sebaliknya. Bentuk bahasa seakan-akan menyinggung keberadaan malas. Umumnya, pada keseluruhan bidang, seakan-akan tidak tersedia tempat baik untuk malas. Sebagai negasi dari salam makna pertama, bahwa malas berarti tidak memiliki pernyataan hormat, baik secara lisan maupun perbuatan. Kemudian sebagai negasi dari salam makna kedua, bahwa malas berarti celaka, sebagai antonim (yang tegas) bagi kata selamat. Sekali lagi, bahwa penganut malas adalah pemalas, akibatnya tersisihkan, terbuang, dan tidak memiliki tempat yang baik.
Bagi yang terlahir jauh dari malas, bersyukurlah, lebih baik jangan pernah mencoba untuk menjadi pemalas. Karena itu penyakit yang sangat kuat, menggerogoti dan cepat berkembang biak di setiap aliran darah. Bolehlah istirahat, tetapi jangan jadikan istirahat untuk membungkus malas, yang akhirnya membohongi diri sendiri. Istirahatlah sesuai porsinya, dan ketika raga terpenuhi energinya, bergeraklah, sehingga telur-telur malas membusuk dan tidak bisa ditetaskan.
Saya adalah pemalas yang selalu mencoba melawan malas. Do’a, kata-kata bijak, bahkan ucapan motivator telah saya gunakan sebagai senjata untuk melawan malas. Serta telah mencoba cara yang dibuat oleh diri sendiri, dengan menyertakan kehidupan masa depan, keluarga, dan orang-orang terdekat yang tujuannya untuk menakut-nakuti rasa malas di dalam diri. Hasil dari semua metode pemusnahan malas adalah nol. Saya menulis ini saja karena malas, untuk menghindari sosial dan penyusunan skripsi. Saya telah sadar, tetapi malas sulit dihilangkan. Semakin keras melawan malas, semakin besar malas beranak-pinak. Malas sangatlah kejam, sedikit pun tidak terasa enak, untuk tidur berjam-jam hasilnya terasa pusing, untuk menunda penyusunan skripsi hasilnya terasa sakit karena banyak teman yang telah wisuda, untuk tidak mandi hasilnya badan sangatlah tidak nyaman, untuk tidak menyapu rumah hasilnya hidup tidak nyaman, untuk tidak masak hasilnya lemas kelaparan dan malas cari makan ke luar semakin lapar, dan semua waktu yang diisi oleh malas hasilnya mengecewakan. Adakah orang lain yang akan menjadi penyelamat, atau saya sendiri yang akan menyelamatkan diri dari malas? Siapa saja yang dapat menghilangkan malas dari diri ini, saya akan sangat berterima kasih, dan penyampaian rasa terima kasih saya jarang mengecewakan. Ngawur.