14 Juni 2015,
Mimpi di pagi hari yang paling indah setelah sekian lama aku
tak bermimpi dalam setiap tidurku. Aku hanyalah korban asmara, terbuang dari
orang yang pernah membuatku merasa nyaman. Bagiku setiap hari adalah suram, dan
setiap tidurku adalah hitam.
Aku insomnia, tetapi selalu mencoba untuk tidur sebelum
tengah malam dengan bantuan obat tidur. Setelah sekian lama mencoba tidur
teratur, aku mau merasakan kembali bagaimana rasanya begadang. Niatnya belajar,
dan prakteknya adalah melakukan kesenangan-kesenangan yang kosong, tidak
produktif bagi seorang pelajar.
Udara pagi sudah terasa. Seperti biasa, udara seperti itu selalu membuatku ngantuk, bisa dikatakan bahwa itu adalah waktu ternyaman untuk memejamkan mata. Saat itulah mimpi yang indah terjadi. Walaupun tidak terlalu indah karena tidak mencapai klimaks yang diharapkan, tetapi aku tetap senang, bahkan sangat senang sampai hati yang hampa ini kembali bersemangat. Aku bermimpi dengan seseorang yang pernah aku kagumi. Sebelumnya, sekali pun aku tidak pernah memikirkannya, tidak pernah berencana mimpi dengannya, dan tentunya tidak pernah bermimpi tentangnya.
Udara pagi sudah terasa. Seperti biasa, udara seperti itu selalu membuatku ngantuk, bisa dikatakan bahwa itu adalah waktu ternyaman untuk memejamkan mata. Saat itulah mimpi yang indah terjadi. Walaupun tidak terlalu indah karena tidak mencapai klimaks yang diharapkan, tetapi aku tetap senang, bahkan sangat senang sampai hati yang hampa ini kembali bersemangat. Aku bermimpi dengan seseorang yang pernah aku kagumi. Sebelumnya, sekali pun aku tidak pernah memikirkannya, tidak pernah berencana mimpi dengannya, dan tentunya tidak pernah bermimpi tentangnya.
Sebelum aku merasakan cinta pertama dengan wanita yang
sekarang telah membuangku, aku pernah mengagumi wanita lain yang kuimpikan.
Bagiku dia begitu menarik, dan ternyata banyak dari temanku yang mengaguminya.
Dia hanya wanita sederhana yang cerdas, bisa menutupi kekayaannya dengan
penampilan dan hubungan sosial yang sederhana. Kesederhanaannya tidak mampu
menutupi sepenuhnya terhadap apa yang dia sembunyikan. Penampilan yang
dipilihnya tidak mencerminkan bahwa dia penganut agama yang baik. Akan tetapi,
aku terpesona, bahkan bagiku semua orang akan terpesona, ketika melihat bahwa
dia melakukan ibadah dengan tertib dan teratur.
Ketertarikanku terhadapnya mulai pudar. Bagiku sangatlah
wajar, karena ketika aku tahu bahwa banyak dari kawan dekatku yang
mengaguminya, maka aku memilih mundur untuk sama sekali tidak memasukannya di
dalam pikiran. Aku tidak mau terjadi hal yang canggung bersama kawan-kawanku
hanya karena terjadi kecemburuan pada wanita yang sama sekali bukan siapa-siapa
bagiku. Keacuhanku padanya semakin dalam ketika tahu bahwa salah seorang yang
baru aku kenal adalah kekasih barunya. Perasaan ini semakin pudar, ketika tidak
melihat dia seperti dulu, hilangnya kebiasaan ibadah yang sangat teratur
seperti halnya kebutuhan hidup yang tidak bisa dilewatkan. Bahkan menjadi benci
ketika melihat dia memegang sebatang rokok di area kampus. Wanita yang sama
sekali berbeda dengan yang aku kenal, dan aku butuh sedikit info tentang
penyebab keterpurukannya dengan sebatang rokok. Ternyata dia baru putus dengan
kekasihnya. Bukan info yang membuatku bahagia, karena aku sudah tidak peduli
tentangnya.
Mimpi di pagi hari ini adalah mimpi tentang wanita yang aku
ceritakan. Sangat aneh yang menyenangkan, aku bermimpi bahwa dia kekasih
baruku. Tekstur mukanya tergambar dengan jelas, bahkan saat bangun pun aku
masih membayangkan bentuk wajahnya dengan sangat sempurna. Alur cerita mimpiku
mengisahkan bahwa dia baru menjadi kekasihku. Dia mengajakku kencan dan janjian
di suatu tempat. Pesan yang dia sampaikan sangatlah pendek, aku tidak tahu
harus mencari dia kemana, dan parahnya dia tidak mau menjawab teleponku. Aku
pun jalan ke arah yang aku tidak tahu itu tempat apa, bayanganku tempat itu
seperti stasiun atau bandara. Tak terduga, aku bertemu dia di tempat itu,
terlihat sedang mengantar orang tuanya yang mau pergi.
Dia mengajakku pergi entah kemana, sepertinya dia sedang
sedih, bingung, dan tidak tahu harus pergi kemana. Beberapa kali aku menawarkan
tempat selalu dia tolak, yang dikatakannya adalah pergi kemana saja dan hanya
ingin tempat yang sepi, jauh dari keramaian. Aku tak tahu harus menawarkan
tempat mana lagi, dan akhirnya kami pergi ke suatu ruangan yang tidak tahu
siapa pemiliknya. Setelah lumayan lama melayani kesedihannya, tiba-tiba dia
mendekatkan kepalanya ke arahku, pertanda bahwa dia ingin mendapatkan bibirku. Hal
yang berat untuk aku ikuti keinginannya, dengan alasan bahwa kami baru saja
menjadi sepasang kekasih. Ciuman pun terjadi, berjalan begitu saja, dan penuh
dengan gejolak asmara. Tidak lama kawanku datang, secara tidak langsung
menghentikan kejadian menyenangkan yang berada di alam mimpi. Memang klimaks yang
sangat tidak diharapkan. Mimpiku kembali hitam sampai aku terbangun.
Mimpi yang membuat hatiku kembali memiliki kekuatan
semangat. Bahkan aku terbangun di minggu pagi, padahal tidurku dimulai pada
dini hari. Bagiku inilah kekuatan mimpi yang bagi sebagian orang adalah omong
kosong.
Ini hanyalah mimpi, dan aku mau hal ini menjadi nyata. Karena
dengan kenyataanlah aku bisa tahu bagaimana kelanjutan kisah dari mimpiku.
Baru saja aku ingat, sebelumnya aku pernah bermimpi tentang
wanita itu. Berarti total mimpi dengan dia adalah dua kali. Kejadiannya belum terlalu
lama, tetapi lumayan lama, intinya tidak tahu jelas kapan mimpi itu terjadi. Sekilas
kisahnya, aku dipaksa untuk segera melamar wanita itu, dan dengan segera aku
bersama keluarga mengunjungi rumahnya untuk mempertemukan masing-masing orang
tua dan melaksanakan proses lamaran. Sangat pendek cerita yang aku ingat, yang
sebenarnya bisa aku tulis belasan paragraf.
Mimpi yang aneh dengan wanita yang pernah aku kagumi. Sepertinya rasa kagumku kepadanya kembali tumbuh, hanya karena
mimpi dalam tidur pada dini hari.
Aku tidak gila, dan bukanlah korban dari mimpi. Aku hanya
orang yang jarang bermimpi, dan hampir di setiap tidurku adalah kosong dan hitam. Mimpi
apapun bagiku adalah indah, karena sudah lama tidurku ini tanpa dihiasi mimpi, dan
aku harus menulis setiap kisah mimpiku.