Kebebasan, kata yang selalu diagungkan oleh rakyat biasa dalam
suatu pemerintahan. Nasionalis, sosialis, demokratis, liberalis, dan semua
sebutan yang ditawarkan para politikus kepada rakyat yang memimpikan kebebasan
dan bermimpi cukup dalam kebutuhan hidup. Semua istilah manusiawi yang pada
realitanya hanyalah tipu muslihat. Istilah-istilah politik untuk merayu manusia
yang ususnya sedang sakit terlilit karena sembako tidak bisa dibeli dengan
seikat daun singkong. Rayuan untuk manusia yang tersekat dalam melakukan
kegiatan negatif.
Bagi rakyat polos yang tidak paham dengan ragam istilah politik, kata-kata tersebut bagaikan suatu harapan. Harapan yang dapat mengalahkan luasnya kenikmatan Tuhan yang tidak terbatas. Bagi rakyat terpelajar, kata-kata tersebut bagaikan alat untuk meraih kebebasan. Bermimpi bebas karena jenuh dengan aturan.
Dunia tidaklah sempurna. Tapi banyak orang yang senang
dengan teori-teori dunia, dan aturan Tuhan terasa kuno, terasa tidak mampu memberikan
keadilan. Mata yang sudah tertutup tidak bisa menerima hal yang baik. Bukalah
mata, sadari bahwa Tuhan tidak pernah berdusta, dan Dia Maha Bijaksana.
Kebebasan yang ditawarkan menimbulkan aturan yang kusut. Saling
beradu antara aturan satu dengan aturan lainnya. Carut-marut terjadi karena
kebebasan yang berada dalam logika setiap manusia berbeda. Pada hakikatnya tidak
ada yang bernama kebebasan. Kebebasan hanyalah omong kosong, karena di dalamnya
terdapat aturan. Lihatlah burung, dengan sayapnya dia mampu terbang bebas
kemanapun, tapi kebebasannya terikat aturan. Aturan burung adalah berhenti
terbang ketika langit meneteskan airnya.
Nasionalis, sosialis, demokratis, liberalis, dan yang serupa
dengannya dalam menawarkan kebebasan. Realita yang terjadi adalah masyarakat terkekang
dengan aturan tidak beraturan dalam kitab “Undang-Undang”. Kitab yang pernah mengalahkan
bijaknya kitab suci Tuhan dalam sejarah peradaban manusia. Semua menjadi
terbalik. Idealnya manusia modern mempunyai kecerdasan. Tapi modernitas
mengubah manusia menjadi gumpalan daging bodoh.
Dalam pemerintahan yang berlandaskan teori kebebasan dan pro
rakyat, menciptakan HAM (Hak Asasi Manusia) dan Komisi Perlindungan Anak
sebagai bukti dari tawaran yang disuguhkan kepada rakyatnya. Tipu muslihat
apalagi yang sedang dikerjakan manusia. Jutaan nyawa manusia bisa tertipu
dengan nama-nama yang tidak lebih baik dari kata bijak. Dengan HAM manusia
bebas membunuh, karena pada hakikatnya HAM bermakna bebas bagi setiap manusia.
Begitu juga polisi berhak menahan pembunuh, karena setiap polisi mempunyai HAM.
Di samping itu, pembunuh berhak untuk bebas dari tahanan, karena dia mempunyai
HAM. Akhirnya, yang lebih berkuasalah yang dapat memenangkan ketidakjelasan. Permainan
macam apa yang sedang dilakukan manusia. Ini semua hanyalah kerumitan yang
tidak mampu memecahkan persoalan.
Pada akhirnya semua ditentukan oleh pemerintah yang
merupakan titik teratas untuk menentukan kehidupan jutaan nyawa dalam suatu
pemerintahan. Rakyat biasa tidak bisa menentukan harga sembako. Rakyat biasa
tidak bisa menurunkan harga suatu produk. Rakyat biasa sulit untuk menghukum
para oknum polisi, hakim, dan politikus. Pemerintahan yang mengusung kebebasan
atas dasar rakyat lebih buruk dari sistem sosial jaman dulu. Kakek buyut mampu membeli
beras dengan menukar dua ekor ikan. Sederhana, tapi usus dan lambung mereka
selalu terisi. Sederhana, tapi tidak berani mencuri hanya untuk mengisi perut
dan kemewahan yang tidak ada ujungnya.
Sadarilah, yang ada hanyalah baik dan buruk. Kebebasan berpendapat
hanya rayuan kebodohan yang rumit. Manusia memerlukan pemerintah berpaham baik
dan buruk. Kejelasan baik dan buruk akan menghasilkan suatu kebijaksanaan.
Lebih bijak lagi jika memilih aturan yang ditawarkan Tuhan melalui kitab-Nya.