Sabtu, 28 Februari 2015

YANG ADA HANYALAH MONARKI

Kebebasan, kata yang selalu diagungkan oleh rakyat biasa dalam suatu pemerintahan. Nasionalis, sosialis, demokratis, liberalis, dan semua sebutan yang ditawarkan para politikus kepada rakyat yang memimpikan kebebasan dan bermimpi cukup dalam kebutuhan hidup. Semua istilah manusiawi yang pada realitanya hanyalah tipu muslihat. Istilah-istilah politik untuk merayu manusia yang ususnya sedang sakit terlilit karena sembako tidak bisa dibeli dengan seikat daun singkong. Rayuan untuk manusia yang tersekat dalam melakukan kegiatan negatif.

Bagi rakyat polos yang tidak paham dengan ragam istilah politik, kata-kata tersebut bagaikan suatu harapan. Harapan yang dapat mengalahkan luasnya kenikmatan Tuhan yang tidak terbatas. Bagi rakyat terpelajar, kata-kata tersebut bagaikan alat untuk meraih kebebasan. Bermimpi bebas karena jenuh dengan aturan.

Dunia tidaklah sempurna. Tapi banyak orang yang senang dengan teori-teori dunia, dan aturan Tuhan terasa kuno, terasa tidak mampu memberikan keadilan. Mata yang sudah tertutup tidak bisa menerima hal yang baik. Bukalah mata, sadari bahwa Tuhan tidak pernah berdusta, dan Dia Maha Bijaksana.

Kebebasan yang ditawarkan menimbulkan aturan yang kusut. Saling beradu antara aturan satu dengan aturan lainnya. Carut-marut terjadi karena kebebasan yang berada dalam logika setiap manusia berbeda. Pada hakikatnya tidak ada yang bernama kebebasan. Kebebasan hanyalah omong kosong, karena di dalamnya terdapat aturan. Lihatlah burung, dengan sayapnya dia mampu terbang bebas kemanapun, tapi kebebasannya terikat aturan. Aturan burung adalah berhenti terbang ketika langit meneteskan airnya.

Nasionalis, sosialis, demokratis, liberalis, dan yang serupa dengannya dalam menawarkan kebebasan. Realita yang terjadi adalah masyarakat terkekang dengan aturan tidak beraturan dalam kitab “Undang-Undang”. Kitab yang pernah mengalahkan bijaknya kitab suci Tuhan dalam sejarah peradaban manusia. Semua menjadi terbalik. Idealnya manusia modern mempunyai kecerdasan. Tapi modernitas mengubah manusia menjadi gumpalan daging bodoh.

Dalam pemerintahan yang berlandaskan teori kebebasan dan pro rakyat, menciptakan HAM (Hak Asasi Manusia) dan Komisi Perlindungan Anak sebagai bukti dari tawaran yang disuguhkan kepada rakyatnya. Tipu muslihat apalagi yang sedang dikerjakan manusia. Jutaan nyawa manusia bisa tertipu dengan nama-nama yang tidak lebih baik dari kata bijak. Dengan HAM manusia bebas membunuh, karena pada hakikatnya HAM bermakna bebas bagi setiap manusia. Begitu juga polisi berhak menahan pembunuh, karena setiap polisi mempunyai HAM. Di samping itu, pembunuh berhak untuk bebas dari tahanan, karena dia mempunyai HAM. Akhirnya, yang lebih berkuasalah yang dapat memenangkan ketidakjelasan. Permainan macam apa yang sedang dilakukan manusia. Ini semua hanyalah kerumitan yang tidak mampu memecahkan persoalan.

Pada akhirnya semua ditentukan oleh pemerintah yang merupakan titik teratas untuk menentukan kehidupan jutaan nyawa dalam suatu pemerintahan. Rakyat biasa tidak bisa menentukan harga sembako. Rakyat biasa tidak bisa menurunkan harga suatu produk. Rakyat biasa sulit untuk menghukum para oknum polisi, hakim, dan politikus. Pemerintahan yang mengusung kebebasan atas dasar rakyat lebih buruk dari sistem sosial jaman dulu. Kakek buyut mampu membeli beras dengan menukar dua ekor ikan. Sederhana, tapi usus dan lambung mereka selalu terisi. Sederhana, tapi tidak berani mencuri hanya untuk mengisi perut dan kemewahan yang tidak ada ujungnya.

Sadarilah, yang ada hanyalah baik dan buruk. Kebebasan berpendapat hanya rayuan kebodohan yang rumit. Manusia memerlukan pemerintah berpaham baik dan buruk. Kejelasan baik dan buruk akan menghasilkan suatu kebijaksanaan. Lebih bijak lagi jika memilih aturan yang ditawarkan Tuhan melalui kitab-Nya.