Sabtu, 06 Desember 2014

SENDIRIAN HANYA PERASAAN

Haruslah sadar bahwa Tuhan sangatlah adil. Terkadang manusia lupa pada Tuhannya. Terkadang manusia menyalahkan Tuhan yang memberikannya kehidupan. Sebagai sang pencipta, Tuhan menciptakan makhluknya berpasangan, berkelompok, menciptakan makhluk yang serupa dari tiap-tiap jenis. Bahkan tumbuhan sebagai makhluk yang menghabiskan masa hidupnya terikat dengan tanah, tidak diciptakan hanya satu, pasti di tempat lain terdapat tumbuhan yang sejenis dengannya.

Manusia berkulit hitam tidak hanya satu. Manusia berjenis kulit apa pun tidak hanya satu. Manusia bermata sipit tidak hanya satu. Manusia berjenis mata apa pun tidak hanya satu. Manusia kerdil, jangkung, gemuk, kurus, langsing, ideal, semuanya Tuhan ciptakan tidak hanya satu. Akan tetapi, terkadang manusia lupa akan realita yang lugas ini. Mengeluh, merasa diri hanya sendirian di muka bumi, menyalahkan takdir Tuhan sebagai hukum langit yang sudah ditetapkan. Tidak sadarkah manusia bahwa di balik rasa kesendirian masih ada Tuhan yang setia memberikan nafas kepada makhluk-Nya. Tidak sadarkah di kanan dan kiri manusia selalu ada dua malaikat yang menemani manusia untuk mencatat semua amal perbuatan. Tidak sadarkah manusia bahwa semua manusia bersaudara atas dasar keturunan Adam dan Hawa. Tidak sadarkah bahwa manusia mempunyai saudara seagama yang setia menolong demi jalan Tuhan. Tidak sadarkah bahwa manusia bersaudara atas nama suku, ras, bangsa, dan tanah air. Tidak sadarkah manusia bahwa keluarga selalu menanti di rumah dan setia mendengarkan keluh-kesah ketidaknyamanan hati yang berontak.

Merasa hidup sendiri di muka bumi hanyalah suatu perasaan dan pengkhianatan. Disebut perasaan karena sudah jelas bahwa manusia tidaklah sendiri. Dikatakan pengkhianatan karena manusia tidak menganggap semua unsur yang setia menerimanya. Tidak salah jika ada yang menyatakan bahwa manusia serakah. Kenyataannya manusia selalu merasa kurang dan ingin mendapatkan lebih. Lebih busuk lagi jika manusia tidak pandai bersyukur. Lupa bersyukur ketika bahagia, dan menyalahkan Tuhan ketika merasa diri terpuruk.

Perasaan sendirian menandakan bahwa manusia sedang terjebak dalam zona black hole. Hati yang menghitam dan jauh dari cahaya menyebabkan manusia merasakan perasaan sendiri. Semoga bukan Tuhan yang membutakan mata hati, karena itu merupakan tanda murka-Nya terhadap manusia sesuai yang tercantum di dalam firman-Nya. Akan tetapi tidak ada yang tahu rencana Tuhan, dan itu merupakan kesempatan untuk berusaha menanamkan cahaya dalam hati yang semakin menghitam. Janji Tuhan, siapa pun memperbaiki perkara yang ia sembunyikan, maka Tuhan akan memperbaiki perkara yang nampak, dan siapa pun yang memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, maka Dia akan memperbaiki urusan dunianya.

Belajarlah dari semut dan lebah sebagai makhluk Tuhan yang namanya dijadikan nama surat dalam kitab suci. Binatang yang tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasakan sendirian. Mensyukuri apapun yang diberikan Tuhan kepadanya. Walaupun berukuran kecil, semut dapat membawa sesuatu yang besarnya lebih dari dua kali lipat dari ukurannya tanpa mengeluh, dengan catatan tidak sendirian.  Bahkan ketika berjuang sendirian, semut lain datang untuk membantu. Begitu juga lebah yang berkoloni, membuat sarang bersamaan, membangun koloni bersamaan, tidak mengenal kata sendirian, dan tidak ada rasa keluh-kesah. Dengan kehendak Tuhan, lebah mengandung madu yang dapat dijadikan obat bagi manusia yang tidak pandai bersyukur. Berpikirlah.

Buka mata, pandanglah indahnya langit, siang maupun malam, bahkan ketika mendung dan hujan pun langit tetaplah indah. Hiruplah udara segar di pagi hari sampai merubah suasana lubang hitam di dalam hati . Hargai sesama, sapalah, dan tersenyumlah tanpa topeng yang menutupi kebencian. Berlarilah dengan kawan, dan lepaskan semua beban jiwa dengan tawa.

Sendirian hanya perasaan. Bahkan di neraka pun manusia tidak sendiri.