Bukan Karya Ilmiah Maupun Sastra
Sekedar Coretan Keresahan Manusia Lemah
Orang-orang yang berpangkat tinggi kah yang sedang memainkan permainan? Ataukah orang-orang berpangkat tinggi bernasib sama sebagai objek yang sedang dipermainkan? Masih adakah kelompok di atas orang-orang berpangkat tinggi yang mampu memainkan permainan? Inilah problematika manusia yang dianggap bukan suatu masalah. Manusia lupa cara berpikir karena sedang menikmati umpan yang dirancang para pengontrol untuk terjebak dalam putaran kesenangan. Manusia telah terhipnotis untuk menanggapi hal buruk menjadi baik, dan hal baik terkesan kuno sehingga menempatkan kebaikan di ujung lorong perpustakaan yang terkesan kumuh penuh debu. Inilah persoalan rumit yang hanya dapat dijawab oleh firman Tuhan bahwa manusia diciptakan untuk berpikir.
Hitam dan putih lambang yang dianggap manusia sebagai warna
yang saling bertolak belakang merupakan simbol dari kebaikan dan keburukan. Penganut
paham lain berpendapat, jika kedua warna ini disatukan dengan porsi yang sama dalam
bentuk seperti penyatuan angka 6 dan 9, maka penyatuan kedua warna merupakan
simbol untuk keseimbangan, atau lebih dikenal dengan sebutan “Yin and Yang”.
Keseimbangan hanyalah teori bumi yang sifatnya relatif, dan tentunya
berbeda dengan teori langit yang selalu menyarankan kebaikan dan menjauhkan
keburukan. Namun, belum tentu ajaran langit dapat dipahami manusia dengan baik.
Sebagian ajaran langit disalahartikan oleh kebodohan manusia untuk menghalalkan
keburukan. Terjadinya beberapa kasus pengeboman, pembunuhan, penindasan, bahkan
pernikahan yang tidak sehat merupakan beberapa contoh kasus dari kesalahpahaman
dalam memaknai ajaran langit.
Apakah ajaran langit dan manusia yang keliru dalam memaknai
ajarannya perlu disalahkan? Masih terlalu cepat jika menghakimi suatu persoalan
tanpa mengidentifikasi “si terduga”, dan belum membuka mata terhadap dugaan
lain yang mungkin menjadi pemicu berbagai kasus. Ingatlah pada salah satu
ajaran langit yang menyatakan bahwa tergesa-gesa adalah perbuatan setan. Hal
ini kembali menyindir manusia untuk selalu berpikir bahwa ada hal besar yang sedang
mengarahkan manusia kepada suatu tujuan. Entah tujuannya baik atau buruk, yang
jelas ditemukan dugaan baru bahwa terdapat aktor selain ajaran langit yang
sedang mengarahkan manusia.
Siapakah sebenarnya aktor yang memainkan permainan dalam
mengarahkan manusia kepada tujuan yang masih kabur? Permainan sang aktor dalam
menyediakan beragam kesenangan telah membutakan manusia dalam berpikir. Manusia
telah bergantung pada kesenangan yang dianggap surga, dan lupa akan makna tipu
muslihat yang dapat memperdaya manusia pada jurang kesengsaraan. Tidak
berpikirkah bahwa ajaran langit telah mengingatkan pada bumi manusia yang
memperlihatkan surga bagaikan neraka dan neraka bagaikan surga. Kesenangan yang
bersifat nafsu individualisme mengalahkan kegiatan-kegiatan positif yang
bermanfaat dalam hubungan dengan Tuhan serta hubungan dengan sesama manusia
yang membutuhkan tangan penuh kepedulian dan kasih sayang. Realita yang sering
terdapat pada manusia adalah rela membunuh, menindas, menyengsarakan sesama
demi memenuhi nafsu kesenangan pribadinya. Lebih biadab dari binatang yang
mampu rukun dalam kelompok untuk memenuhi kebutuhan pokok anggota kelompoknya.
Bisa juga sejajar dengan binatang yang berbagai jenis, yang di dalamnya
terdapat penyerangan antara jenis binatang satu terhadap jenis binatang yang
lain demi urusan perut. Akan tetapi, dunia binatang yang tidak mempunyai akal
dan saling serang bermaksud untuk penyeimbangan ekosistem. Dari kehidupan
binatang tersebut kah paham keseimbangan hitam putih berasal? Jika dugaan ini
benar, maka manusia yang memegang idiologi keseimbangan hitam putih tidak beda
dengan binatang yang tak berakal. Surga langit hanya tersedia bagi penganut
kebenaran, dan penganut keburukan telah ditetapkan oleh hukum langit untuk
menempati neraka. Tidak ada tempat untuk keseimbangan yang bersifat netral,
karena langit hanya menawarkan surga dan neraka.
Kebiadaban manusia seakan-akan informasi familiar dan
bukanlah hal yang aneh ketika telinga manusia menerima kabar busuk ini. Acara-acara
berita televisi dan artikel surat kabar dipenuhi oleh informasi sampah
kebiadaban yang sudah jelas bukan kajian ilmiah sebagai media berpikir. Media massa
bagaikan produsen daur ulang limbah, menerima upah dengan cara mengumpulkan
sampah kebodohan manusia, mengolah, dan menawarkan kepada masyarakat dengan bingkisan yang
menarik. Inilah dunia baru yang bisa merubah apapun menjadi sumber pendapatan
yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dalam bertahan hidup. Tidak hanya
mendaur ulang sampah-sampah masyarakat yang rusak, lebih bahaya lagi jika media
massa sudah berevolusi untuk menciptakan sampah. Telah banyak pihak dirugikan,
difitnah, dan menjadi kambing hitam yang diciptakan oleh media. Manusia lupa
untuk kritis dan melihat semua hal dari dua perspektif negatif dan positif. Manusia
hanya mengikuti arus isu, manakala suatu informasi dikatakan positif atau
negatif oleh mayoritas manusia, maka informasi terebut menjadi pegangan manusia
tanpa berpikir terlebih dahulu. Alangkah indahnya jika media massa merupakan
hasil karya ilmiah yang mencantumkan referensi penuh tanggung jawab. Puncak kejayaan
manusia jika memandang media massa sebagai objek formal penelitian suatu karya
ilmiah, dan tentunya manusia dituntut untuk berpikir lugas dengan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. Karya ilmiah
bukanlah sampah yang diproses asal-asalan. Namun sayangnya karya ilmiah tampak
membosankan, dan manusia berpaling ke sudut yang terasa berkilau, mudah, dan
instan seperti pancaran cahaya televisi. Salah satu penggalan sya’ir yang penuh
makna menyatakan bahwa, “tak selalu yang berkilau itu indah”. Sadarlah kawan,
inilah kontroversial kehidupan yang nyata.
selalu berlanjut dengan penuh revisi selama diizinkan oleh-Nya...
Tidak sepenuhnya media massa menyajikan informasi yang tak
pasti. Pohon berbuah sesuai benihnya, begitu pula media massa yang telah
berevolusi pemakaiannya untuk berbagai kepentingan yang menyimpang tidak akan
lupa terhadap hakikat awal media massa diciptakan. Media massa
menggambarkan berbagai perilaku manusia, entah itu fakta atau kebohongan
belaka. Namun, dari hal tersebut tersirat sepenggal teriakan yang menyeru
manusia untuk berpikir. Pikiran yang akan menghasilkan dugaan lain bahwa media
massa merupakan salah satu alat permainan sang aktor untuk mempermainkan
manusia.
Beberapa kebusukan oknum yang menjadikan media massa menyimpang
dari hakikatnya terlihat pada sekian banyak kasus yang telah nampak. Jika manusia
mau berpikir, maka akan ingat firman Tuhan telah menjanjikan kepada manusia
bahwa setiap kebohongan pasti akan terlihat. Janji Tuhan menyebutkan bahwa mata
manusia yang berpikir dapat melihat kedustaan pada jidat para aktor yang busuk.
Tentunya tidak ada pencuri yang meneriaki dirinya maling. Namun kuasa Tuhan berkehendak
lain, semua kebusukan tetap ditampakkan kapan pun jika Dia telah menghendaki.
selalu berlanjut dengan penuh revisi selama diizinkan oleh-Nya...