Senin, 20 Oktober 2014

JIWA YANG TERIKAT

Bukan Karya Ilmiah Maupun Sastra
Sekedar Coretan Keresahan Manusia Lemah

Ketika bingung dengan arah tujuan. Ketika buta antara kebenaran dan keburukan. Pikiran yang bimbang berbisik bahwa manusia sedang dipermainkan oleh kesenangan yang terkontrol. Pengontrol yang mengendalikan manusia secara diam-diam. Pengendali yang benar-benar tertata rapih di balik keramaian manusia yang asik disibukkan oleh permainan yang terkontrol. Pengendalian jutaan umat manusia dengan permainan yang terkesan sadis. Seakan-akan manusia adalah seekor anjing yang asik dengan permainan lempar-tangkap tongkat dengan majikannya. Kemana pun tongkat dilemparkan, si anjing akan mengejarnya, mengambilnya, dikembalikan kepada sang majikan, dan terkesan kembali meminta untuk terus mengulang permainan yang jelas tidak menguntungkan tersebut. Akan tetapi, di setiap perencanaan selalu terdapat suatu tujuan. Baik buruknya tujuan yang direncakan tergantung pada perspektif masing-masing individu dalam memahami tujuan tersebut.

Orang-orang yang berpangkat tinggi kah yang sedang memainkan permainan? Ataukah orang-orang berpangkat tinggi bernasib sama sebagai objek yang sedang dipermainkan? Masih adakah kelompok di atas orang-orang berpangkat tinggi yang mampu memainkan permainan? Inilah problematika manusia yang dianggap bukan suatu masalah. Manusia lupa cara berpikir karena sedang menikmati umpan yang dirancang para pengontrol untuk terjebak dalam putaran kesenangan. Manusia telah terhipnotis untuk menanggapi hal buruk menjadi baik, dan hal baik terkesan kuno sehingga menempatkan kebaikan di ujung lorong perpustakaan yang terkesan kumuh penuh debu. Inilah persoalan rumit yang hanya dapat dijawab oleh firman Tuhan bahwa manusia diciptakan untuk berpikir.

Hitam dan putih lambang yang dianggap manusia sebagai warna yang saling bertolak belakang merupakan simbol dari kebaikan dan keburukan. Penganut paham lain berpendapat, jika kedua warna ini disatukan dengan porsi yang sama dalam bentuk seperti penyatuan angka 6 dan 9, maka penyatuan kedua warna merupakan simbol untuk keseimbangan, atau lebih dikenal dengan sebutan “Yin and Yang”. Keseimbangan hanyalah teori bumi yang sifatnya relatif, dan tentunya berbeda dengan teori langit yang selalu menyarankan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Namun, belum tentu ajaran langit dapat dipahami manusia dengan baik. Sebagian ajaran langit disalahartikan oleh kebodohan manusia untuk menghalalkan keburukan. Terjadinya beberapa kasus pengeboman, pembunuhan, penindasan, bahkan pernikahan yang tidak sehat merupakan beberapa contoh kasus dari kesalahpahaman dalam memaknai ajaran langit.

Apakah ajaran langit dan manusia yang keliru dalam memaknai ajarannya perlu disalahkan? Masih terlalu cepat jika menghakimi suatu persoalan tanpa mengidentifikasi “si terduga”, dan belum membuka mata terhadap dugaan lain yang mungkin menjadi pemicu berbagai kasus. Ingatlah pada salah satu ajaran langit yang menyatakan bahwa tergesa-gesa adalah perbuatan setan. Hal ini kembali menyindir manusia untuk selalu berpikir bahwa ada hal besar yang sedang mengarahkan manusia kepada suatu tujuan. Entah tujuannya baik atau buruk, yang jelas ditemukan dugaan baru bahwa terdapat aktor selain ajaran langit yang sedang mengarahkan manusia.

Siapakah sebenarnya aktor yang memainkan permainan dalam mengarahkan manusia kepada tujuan yang masih kabur? Permainan sang aktor dalam menyediakan beragam kesenangan telah membutakan manusia dalam berpikir. Manusia telah bergantung pada kesenangan yang dianggap surga, dan lupa akan makna tipu muslihat yang dapat memperdaya manusia pada jurang kesengsaraan. Tidak berpikirkah bahwa ajaran langit telah mengingatkan pada bumi manusia yang memperlihatkan surga bagaikan neraka dan neraka bagaikan surga. Kesenangan yang bersifat nafsu individualisme mengalahkan kegiatan-kegiatan positif yang bermanfaat dalam hubungan dengan Tuhan serta hubungan dengan sesama manusia yang membutuhkan tangan penuh kepedulian dan kasih sayang. Realita yang sering terdapat pada manusia adalah rela membunuh, menindas, menyengsarakan sesama demi memenuhi nafsu kesenangan pribadinya. Lebih biadab dari binatang yang mampu rukun dalam kelompok untuk memenuhi kebutuhan pokok anggota kelompoknya. Bisa juga sejajar dengan binatang yang berbagai jenis, yang di dalamnya terdapat penyerangan antara jenis binatang satu terhadap jenis binatang yang lain demi urusan perut. Akan tetapi, dunia binatang yang tidak mempunyai akal dan saling serang bermaksud untuk penyeimbangan ekosistem. Dari kehidupan binatang tersebut kah paham keseimbangan hitam putih berasal? Jika dugaan ini benar, maka manusia yang memegang idiologi keseimbangan hitam putih tidak beda dengan binatang yang tak berakal. Surga langit hanya tersedia bagi penganut kebenaran, dan penganut keburukan telah ditetapkan oleh hukum langit untuk menempati neraka. Tidak ada tempat untuk keseimbangan yang bersifat netral, karena langit hanya menawarkan surga dan neraka.

Kebiadaban manusia seakan-akan informasi familiar dan bukanlah hal yang aneh ketika telinga manusia menerima kabar busuk ini. Acara-acara berita televisi dan artikel surat kabar dipenuhi oleh informasi sampah kebiadaban yang sudah jelas bukan kajian ilmiah sebagai media berpikir. Media massa bagaikan produsen daur ulang limbah, menerima upah dengan cara mengumpulkan sampah kebodohan manusia, mengolah, dan menawarkan kepada masyarakat dengan bingkisan yang menarik. Inilah dunia baru yang bisa merubah apapun menjadi sumber pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dalam bertahan hidup. Tidak hanya mendaur ulang sampah-sampah masyarakat yang rusak, lebih bahaya lagi jika media massa sudah berevolusi untuk menciptakan sampah. Telah banyak pihak dirugikan, difitnah, dan menjadi kambing hitam yang diciptakan oleh media. Manusia lupa untuk kritis dan melihat semua hal dari dua perspektif negatif dan positif. Manusia hanya mengikuti arus isu, manakala suatu informasi dikatakan positif atau negatif oleh mayoritas manusia, maka informasi terebut menjadi pegangan manusia tanpa berpikir terlebih dahulu. Alangkah indahnya jika media massa merupakan hasil karya ilmiah yang mencantumkan referensi penuh tanggung jawab. Puncak kejayaan manusia jika memandang media massa sebagai objek formal penelitian suatu karya ilmiah, dan tentunya manusia dituntut untuk berpikir lugas dengan hasil yang  dapat dipertanggungjawabkan. Karya ilmiah bukanlah sampah yang diproses asal-asalan. Namun sayangnya karya ilmiah tampak membosankan, dan manusia berpaling ke sudut yang terasa berkilau, mudah, dan instan seperti pancaran cahaya televisi. Salah satu penggalan sya’ir yang penuh makna menyatakan bahwa, “tak selalu yang berkilau itu indah”. Sadarlah kawan, inilah kontroversial kehidupan yang nyata.

Tidak sepenuhnya media massa menyajikan informasi yang tak pasti. Pohon berbuah sesuai benihnya, begitu pula media massa yang telah berevolusi pemakaiannya untuk berbagai kepentingan yang menyimpang tidak akan lupa terhadap hakikat awal media massa diciptakan. Media massa menggambarkan berbagai perilaku manusia, entah itu fakta atau kebohongan belaka. Namun, dari hal tersebut tersirat sepenggal teriakan yang menyeru manusia untuk berpikir. Pikiran yang akan menghasilkan dugaan lain bahwa media massa merupakan salah satu alat permainan sang aktor untuk mempermainkan manusia.

Beberapa kebusukan oknum yang menjadikan media massa menyimpang dari hakikatnya terlihat pada sekian banyak kasus yang telah nampak. Jika manusia mau berpikir, maka akan ingat firman Tuhan telah menjanjikan kepada manusia bahwa setiap kebohongan pasti akan terlihat. Janji Tuhan menyebutkan bahwa mata manusia yang berpikir dapat melihat kedustaan pada jidat para aktor yang busuk. Tentunya tidak ada pencuri yang meneriaki dirinya maling. Namun kuasa Tuhan berkehendak lain, semua kebusukan tetap ditampakkan kapan pun jika Dia telah menghendaki.

selalu berlanjut dengan penuh revisi selama diizinkan oleh-Nya...