Sekarang aku mulai ragu terhadap apa yang sebenarnya dipikirkan, diinginkan, dilakukan, dan apa tujuan dari semuanya. Di sisi lain aku memperjuangkan sesuatu, sekaligus mengorbankan sesuatu yang lain dengan senang hati. Terkadang apa yang dikorbankan tidak disadari, sehingga berlarut-larut terlupakan, padahal hal tersebut tidak kalah penting jika dibandingkan dengan apa yang diperjuangkan. Karena itulah perasaan ragu mulai muncul sampai ingin meluapkan amarah.
Aku ingin disiplin dalam hal apapun, dapat mengendalikan diri, hubungan sosial baik, berubah menjadi orang baik sebaik mungkin, dan ingin mewujudkan berbagai macam keinginan yang belum terjamah sedikit pun. Aku bersyukur atas keinginan yang tercapai. Walaupun belum sempurna, tetapi setidaknya sudah mampu menyentuh target. Dalam hal kebersihan, kerapihan, pola tidur, hubungan sosial, menjauhi kemalasan dan berbagai keburukan, dll, semuanya dapat diwujudkan. Memang semuanya tidak disertai dengan fokus dan manajemen, karena keduanya masih sulit dilakukan, sehingga wajar jika aktifitas berantakan. Sering kali ketika melakukan sesuatu, sebelum berhasil diselesaikan, bisa sampai melupakan hal lain. Sepintas hal tersebut terkesan fokus, tetapi kiranya bukan, sebab jelas melampaui batas dan tidak sesuai arah.
Selain sikap, dalam hal konsumsi pun mampu dikendalikan. Berhenti merokok benar-benar suatu perjuangan. Lebih dari satu tahun sudah tidak membeli rokok bungkusan. Strategi berhenti merokok dimulai dengan beralih merokok tembakau murni. Adalah suatu kegoblokan, ketika masuk di tahap peralihan, dua jenis rokok dikonsumsi sekaligus setiap harinya. Rokok bungkusan dihisap, dan tembakau murni pun dihisap. Bersyukur perlahan-lahan dapat mengurangi pembelian rokok bungkusan, sampai akhirnya dapat berhenti dan terbebas. Sampai saat ini, belum mampu sepenuhnya terbebas dari hisapan rokok. Namun, setidaknya sudah berhenti membeli, dan mampu menolak dengan tegas ketika muncul hasrat untuk membeli rokok bungkusan. Merokok pun hanya beberapa linting tembakau murni per hari, lebih sedikit jika dibandingkan dengan masa lalu. Keuntungannya, selain memperbaiki kesehatan, juga perlahan menguasai pengendalian diri, dan biaya bulanan rokok pun menurun drastis melampaui 90% dari sebelumnya. Lumayan, dapat mengurangi pengeluaran biaya yang biasanya terbuang percuma. Tinggal menunggu, kapan saatnya berhenti menghisap tembakau murni, dan terbebas dari segala macam asap tembakau.
Kopi instan pun mulai berhenti dikonsumsi. Dapat dikatakan bahwa aku adalah pemula sebagai peminum kopi. Namun, kebiasaan minum kopi membuatku menjadi gila. Semakin lama, kopi semakin menyerupai rokok. Membuat candu. Rasanya ada yang kurang jika sehari tidak minum kopi. Semakin terasa buruk ketika kopi berkolaborasi dengan rokok. Ada kopi, ya harus ada rokok. Pola hidup tak bermutu. Sama buruknya ketika kopi dianggap sebagai teman dan pelampiasan. Pusing ujung-ujungnya kopi, menu andalan nongkrong mesti kopi, kerja harus ada kopi, melamun minum kopi, semuanya merupakan bentuk dari ketergantungan yang kurang baik. Bersyukur sekarang terbebas dari kekangan kopi, terutama kopi instan. Sayangnya kerap terjadi ketidaknyamanan hanya karena kopi ketika menjalani hubungan sosial. Beberapa kali menolak tawaran kopi dari pihak lain. Rasanya tidak nyaman ketika menolak, dan lebih tidak nyaman ketika orangnya adalah Pak RT. Merasa tidak nyaman karena pihak lain mengenalku sebagai peminum kopi. Takut disangka tidak menghargai. Aku harap orang yang penawarannya ditolak dapat memahami, dan tidak bersikap sinis di kemudian hari.
Terasa berat meninggalkan rokok dan kopi. Keduanya telah menjadi teman setia melebihi pertemanan dengan manusia. Justru karena berlebihan itulah muncul keinginan untuk meninggalkan. Maka dari itu, aku akan minum kopi jika kopinya benar-benar murni, tanpa campuran dan embel-embel instan. Itu juga diolah sendiri, atau minum hasil olahan teman. Dengan demikian takaran minum kopi pun teratur, bahkan berkurang dan mendekati berhenti. Begitu pun rokok, jika ingin menghisap rokok, harus melinting tembakau murni sendiri, yang benar-benar murni, dan diketahui asal-usul tembakaunya. Bahkan berniat menanam pohon tembakau sendiri, kemudian diolah sendiri, untuk konsumsi pribadi. Niat tersebut mulai terwujud, dengan benih pemberian dari kakeknya teman, dan sekarang tinggi pohon baru mencapai 5 mm. Menjadi hiburan tersendiri ketika melihat biji benih tembakau mulai tumbuh menampakkan batang serta daunnya. Namun, hal terpenting dari semuanya adalah bisa terbebas dari rokok dan kopi, tanpa disertai alasan apapun.
Perjuangan selalu disertai pengorbanan. Bisa mencapai tahap sekarang karena ada yang dikorbankan. Sangat disayangkan karena sadar bahwa yang dikorbankan adalah hal penting, bahkan mungkin melebihi pentingnya pola tidur teratur. Busuk jika mengingat bahwa aku tidur dengan teratur dan nyaman di setiap malam. Memang tidak salah, malahan baik sebagai bukti bahwa hidup mulai mengarah pada keteraturan. Namun, terasa marah ketika ingat bahwa berbagai keinginan lain masih menumpuk tak terjamah. Lebih baik kurangi tidur untuk mewujudkan keinginan, terutama yang dianggap sebagai kebutuhan. Dan sekarang, baru merasakan lagi tidak tidur sehari penuh. Ada rasa takut kembali mengidap insomnia akut. Tapi, apa boleh buat, pola tidur teratur yang sebelumnya diperjuangkan dan berhasil terwujud, kini harus dikorbankan. Memang terasa sia-sia, karena tidur teratur adalah hasil perjuangan yang tidak sederhana, bahkan sampai pernah mengonsumsi berbagai obat tidur untuk mewujudkannya. Oleh sebab itu, aku mulai ragu terhadap apa yang sebenarnya dipikirkan, diinginkan, dilakukan, dan apa tujuan dari semuanya, karena keinginan yang sekarang telah terwujud, malah harus dikorbankan untuk mewujudkan keinginan lain. Apa yang sebenarnya aku inginkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar