Senin, 18 September 2017

MAU SAMPAI KAPAN?

Mau sampai kapan? Tanyakanlah! Bukan demi baik dan buruk, tetapi untuk menentukan pelaksanaan di masa depan. Adapun baik dan buruk adalah hasil dari menentukan pilihan, dan diri sendirilah yang berhak disalahkan. Pihak lain hanya bertindak sebagai pemberi pilihan, dan diri sendiri yang menentukan, walaupun terkadang pihak lain disalahkan mengenai hasil dari pilihan sendiri.

Ada kalanya keadaan dinikmati sampai lupa hal lain. Bahkan ketika berada di tahap puncak, sampai tidak sadar bahwa sedang menikmati keadaan. Batas benar-benar dilupakan. Batas berguna supaya tidak melampaui batas. Adalah salah satu hal penting supaya hidup tetap dalam takaran yang pas. Ada baiknya putaran mesin dimatikan secara berkala, sebagai salah satu bentuk perawatan supaya dapat bertahan lama. Begitu juga keadaan, baik ketika senang, tertawa, sedih, menangis, kerja, malas, atau segala macam hal yang sedang dialami hingga detik ini, semuanya perlu batas. Karena batas merupakan salah satu cara untuk menerangi diri, supaya hati tidak mati.

Terlupanya hal lain karena penikmatan keadaan bukanlah masalah besar. Akan sangat bermasalah jika keadaan dinikmati, kemudian sadar bahwa telah melampaui batas, tetapi keadaan enggan ditinggalkan. Maka tanyakanlah, “mau sampai kapan?”. Memang bukan tentang baik dan buruknya nasib masa depan, karena masa depan adalah misteri. Namun, tidak ada kopi nikmat jika melebihi takaran yang tidak sesuai dengan air, tidak ada lezatnya semangkuk mi jika rasa asinnya melampaui batas, dan mungkin hidup pun bernasib sama jika mengalami keadaan tidak sesuai takaran.

Batas memang hal yang abstrak. Tidak mudah menentukan batas dalam suatu keadaan. Namun, yakinlah bahwa setiap masalah selalu ada solusinya. Penentuan batas bisa menjadi sederhana jika disadari bahwa ada bagian hidup yang terlupakan.

Dalam hal lain pertanyaan bukan ditujukan untuk memberi batas keadaan. Pertanyaan dapat ditujukan untuk menuntaskan berbagai keluhan. Berapa banyak pihak yang mengeluh atas pekerjaannya, baik mengenai kondisi lingkungan maupun penghasilan, tetapi tetap bekerja di tempat yang sama. Maka, tanyakanlah, “mau sampai kapan?”. Jika berkenan, berhentilah bekerja, kemudian cari pekerjaan lain yang dirasa nyaman. Atau jika tetap ingin bekerja di tempat yang sama, maka diamlah, dan nikmati keadaan. Berapa banyak pula pihak yang mengeluh mengenai kondisi ekonomi dirinya yang lemah, tetapi tetap melakukan aktifitas yang sama. Mau sampai kapan? Jika berkenan, bekerjalah lebih ulet lagi tanpa membatasi luasnya rezeki yang diberikan Tuhan—karena ada pihak yang senang membatasi berbagai urusan Tuhan. Atau jika ingin tetap mempertahankan kebiasaan, maka nikmatilah kondisi ekonomi yang sekarang, dan diamlah.

Pepatah bilang, “malu bertanya, sesat di jalan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar