Setelah beberapa tahun lalu membuat agenda untuk membersihkan laptop, akhirnya baru kali ini bisa direalisasikan. Namanya juga pemalas, rencana jauh-jauh hari di masa lalu, dikerjakannya jauh di masa depan, dasar ahli menunda! Saya memang kurang cerdas, lebih mendahulukan kepentingan pihak lain daripada diri sendiri, bodoh! Entah berapa banyak komputer/laptop orang lain telah saya perbaiki, tetapi laptop sendiri dibiarkan kumuh, bahkan komputer desktop membangkai di kamar yang lebih layak dikatakan gudang dengan ketebalan debu yang mengenaskan.
Entah hanya perasaanku saja atau sekedar alibiku untuk mengelak dari sebutan pemalas, berdasarkan realitas sementara yang saya lihat, orang yang bisa memperbaiki/mengubah barang dan tentunya dia sendiri punya barang tersebut, kondisi barangnya tidak lebih baik daripada barang-barang orang lain yang dia perbaiki. Seperti guru mekanik sepeda motorku, pertama kali saya bertemu dengannya, dia hanya memakai motor honda bebek ’70 yang sedikit dimodifikasi. Bagian mesin diganti dengan honda grand, dan bagian lain yang rentan rusak karena tidak mampu menahan beban dan benturan diganti dengan produk yang lebih muda dan cukup kuat, seperti bagian velg, ban, arm, dll. Namun, secara keseluruhan, tampak dari luar masih terlihat seperti bebek ’70. Sekarang motornya diganti, tetapi masih motor tua yang sedikit dimodifikasi kerangkanya, motor honda GL. Contoh lain seperti ahli kayu, kebetulan dia tetanggaku di Bantul. Dia paham barang, dan tentunya mampu membuat pesanan berbagai model berbahan kayu. Namun, rumahnya sendiri biasa saja, pintu dan kusen rumahnya tidak mewah.
Karena hal tersebut, mungkin saya juga tidak berbeda dengan mereka, sering memperbaiki barang orang lain, tetapi barang sendiri dibiarkan terlantar. Sebenarnya tidak sepenuhnya mengabaikan barang sendiri. Dengan kata lain, masih memperhatikan barang pribadi, tetapi hanya sekedar merawat barang supaya cukup nyaman untuk dipakai, tidak dirawat sepenuhnya, masih belum layak disebut barang mewah. Guru mekanik sepeda motorku merawat motornya supaya nyaman dipakai, tetapi tidak dimodifikasi gila-gilaan supaya tampilan sepeda motornya layak dipuji banyak orang. Tak peduli orang lain berkata apa pada tampilan luar sepeda motornya. Tetangga ahli kayu tidak membiarkan rusak bagian kayu pada rumahnya sendiri. Berdasarkan yang saya perhatikan dari semua bagian kayu pada rumahnya, semuanya terlihat sehat, tetapi hanya sekedar sehat, secara tampilan tidak menampilkan kemewahan. Begitu juga saya, cukup sering merawat laptop, tetapi hanya bagian dalam, perangkat lunak rutin tune up, file-folder dirapihkan, supaya performa laptop nyaman dipakai, terasa ringan. Masa bodoh komentar orang lain, yang penting ruh laptop sehat. Lebih nyaman dibandingkan laptop keluaran terbaru punya kawan yang jarang dirawat bagian dalamnya.
Tampilan luar laptopku cukup busuk, dan bisa dikatakan model lawas. Dikatakan busuk karena bagian kabel charger terbuka dan diikat dengan lakban, seperti perut manusia tanpa kulit yang terlihat ususnya walaupun ditutup pakai perban, jijik... Malas ganti ketika rusak, lebih baik saya perbaiki sendiri saja dengan alat seadanya. Tak perlu beli baru selama bisa diperbaiki sendiri dan berjalan normal. Sebenarnya bisa dirapihkan, kabel yang telah dipotong bisa disolder supaya kuat dan lurus rapih, tak lupa sebelumnya kabel dimasukkan pada selang kecil supaya nantinya bagian cacat dapat ditutupi, tetapi apa daya dan upaya, kan saya pemalas, jadi hal tersebut tidak dilakukan. Laptopku juga terlihat busuk karena tanpa battery, belum sempat memperbaiki battery, padahal sudah sangat lama dipreteli, pemalas akut...
Sebenarnya tampilan laptop tidak terlalu lawas, masih produk keluaran tahun 2005 ke atas. Sekarang, perkembangan produk teknologi digital sangat cepat. Wajar jika dalam jangka waktu 5 tahun, produk sudah bisa dikatakan lawas, dan harganya pun turun drastis. Seperti halnya windows phone, dalam masa kejayaannya dibandrol dengan harga mahal, bahkan harga bekasnya pun tetap mahal. Namun, ketika muncul ponsel android dalam jangka waktu yang tidak jauh dengan keluarnya windows phone, maka seketika windows phone pun turun kasta, bahkan bisa dikatakan tidak laku. Seperti itulah dampak era kapitalis yang banyak orang banggakan, saling melahap tanpa peduli nasib satu sama lain. Makanya, saya tidak terlalu suka mengikuti arus zaman, karena mengikuti arus zaman sama halnya seperti merelakan jiwa pada para korporat, rela dipermainkan oleh mereka. Cukup paham bentuk dan cara kerja barang keluaran terbaru tanpa membelinya. Selama bukan kebutuhan yang sangat diperlukan, maka tidak perlu beli. Adapun pandanganku terhadap laptop, selama mampu menjalankan berbagai software yang dibutuhkan, kuat diajak begadang, tak takut bertempur menghadapi tumpukan tugas, dan selama internetan normal lancar jaya, maka tak perlu beli laptop keluaran terbaru, tak peduli komentar orang lain jika tampilan luar laptopku menandakan bahwa saya miskin. Untungnya statusku sekarang mantan maniak game, jadi tidak ada dorongan untuk beli laptop yang mampu memainkan game berat.
---
Selama bukan kebutuhan yang sangat diperlukan, maka tidak perlu beli.
---
Jadi, ceritanya saya sedikit paham cara memperbaiki komputer, baik berupa desktop, laptop, dsb. Tentunya tidak seahli tukang servis yang punya kios di pinggir jalan, wajar karena saya tidak sekolah jurusan komputer. Ilmu komputer yang saya punya umumnya berasal dari pengalaman, lebih tepatnya pengalaman membaca dan pengalaman eksperimen. Bisa dikatakan semi-otodidak, karena saya belajar dari guru tanpa nyawa “tulisan”, dan belajar dari ketidaksengajaan hasil otak-atik. Sekarang ilmu mudah didapat. Apapun terkesan mudah setelah membuminya internet. Untuk mendapatkan ilmu, tidak mesti sekolah formal atau beli buku, karena berbagai macam tulisan tersedia di internet. Namun, anehnya makin banyak orang bodoh, termasuk saya sendiri, haha... Walaupun tanpa belajar di instansi, bukan berarti mengeluarkan sedikit biaya. Proses belajar saya mengeluarkan biaya cukup besar, entah biaya untuk ongkos ke tukang komputer, bayar warnet, bayar internet pribadi, rokok, minum, makan, bayar kontrakan, jajanin pacar, apa lah terserah ... Di rumah, lebih dari satu komputer desktop rusak parah akibat tanganku yang selalu gatal otak-atik jika penasaran. Namun, hasilnya cukup memuaskan, komputer yang rusak bisa terbayar lunas karena sekarang saya bisa memperbaiki berbagai jenis komputer, dan jumlah komputer yang telah diperbaiki lebih dari yang pernah saya rusak.
---
Apapun harus ada pengorbanan. Jika takut salah/rusak, maka jangan pernah berharap bisa.
---
Seperti itulah diriku, sukanya merusak, tetapi bukan hobi. Otak-atik tanpa ilmu, tetapi beruntung hasilnya jadi ilmu. Cukup sering saya melanggar nasihat “jika suatu urusan dikerjakan oleh yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”. Bukan tanpa alasan hal tersebut dilakukan, seperti yang telah disebutkan, jangan berharap bisa, jika diri dikuasai rasa takut. Makanya, saya cukup berani otak-atik barang, tak peduli semahal apapun barangnya, dan jika rusak, maka mendapatkan ilmu adalah gantinya. Salah satu alasan laptopku tidak terlalu bagus, karena pasti diotak-atik. Kan sayang jika beli laptop paling mahal hanya untuk otak-atik yang berpotensi menjadi rusak.
---
Sebelum merusakkan barang orang lain, terlebih dahulu rusakkan barang pribadi, supaya barang orang lain tidak jadi rusak.
=
Sebelum memperbaiki barang orang lain, terlebih dahulu perbaiki barang pribadi, supaya barang orang lain dapat diperbaiki.
---
Laptopku sering jadi kelinci percobaan, dan ilmu yang didapat dari hasil eksperimen dimanfaatkan untuk kepentingan banyak pihak. Entah mengapa, rasanya nikmat jika orang lain tersenyum karena saya membantu permasalahannya sampai tuntas tanpa pamrih. Ada kepuasan tersendiri yang tidak mudah dijelaskan secara verbal. Makanya, tidak aneh jika saya lebih sering mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Sebenarnya lebih mementingkan orang lain sama saja dengan mementingkan diri sendiri, kan senyuman orang yang dibantu sehingga menimbulkan kepuasan tersendiri ujung-ujungnya untuk diri sendiri, enggak tahu lah saya pusing...
Mari kembali ke pembahasan pokok setelah tadi ngelantur beberapa paragraf. Saya mengagendakan pembersihan laptop karena laptop sering mati mendadak jika dijalankan aplikasi berat. Mungkin penyebabnya overheat karena sistem pendingin yang abnormal. Pernah perbaiki overheat melalui perangkat lunak, otak-atik sistem operasi, dan hasilnya nol. Pernah juga beranggapan jika penyebabnya adalah ram cacat, tetapi setelah beberapa kali melakukan percobaan pada ram, ternyata hasilnya tetap nol. Tidak mungkin jika penyebabnya adalah harddisk, karena kecepatannya sangat baik, sehat sentosa. Maka dari itu, anggapan terakhir saya adalah overheat karena rusaknya sistem pendingin. Entah yang bermasalah kipasnya, pasta kering, atau apapun yang berada dalam sistem pendingin.
Malas bukanlah satu-satunya alasan menunda perbaiki laptop yang telah lama diagendakan. Justru hal tersebut sengaja dilakukan, dengan alasan untuk menghindari bermalas-malasan. Aneh ya? Saya juga aneh pada diri sendiri. Jadi, alasan menunda agenda dalam waktu yang sangat lama adalah karena malas sekaligus menghindari bermalas-malasan. Ok, supaya tidak bingung, simak penjelasan berikut. Laptop bagaikan pisau, bisa jadi baik sekaligus buruk, tergantung tujuan penggunanya. Untuk pemalas sepertiku, laptop yang mampu menjalankan berbagai hiburan tidaklah cocok, karena laptop seperti itu adalah sarang setan, di dalamnya menawarkan hiburan tak terbatas. Pemalas dengan setan sangat bersahabat, mustahil untuk menghindari hiburan dalam laptop. Laptop dalam kondisi miskin hiburan saja saya sudah jadi pemalas, apalagi jika laptop mampu memainkan berbagai hiburan, mungkin saya makin rusak. Laptopku sering mati mendadak jika memainkan hiburan, apalagi jika main game cukup berat seperti FM 2015, atau menjalankan video resolusi tinggi seperti film yang ukurannya lebih dari 1 gb. Maka dari itu, saya tidak membetulkan laptop sampai normal sepenuhnya, karena takut semakin tenggelam dalam kemalasan. Selama normal dipakai ngetik dan internetan tanpa video maupun game, maka bagiku laptop masih dianggap normal.
Jika menunda agenda perbaiki laptop untuk menghindari bermalas-malasan, lantas mengapa sekarang diperbaiki? Saya juga bingung, padahal pelakunya saya sendiri, aneh. Pokoknya, alasan tidak memperbaiki laptop adalah malas dan menghindari bermalas-malasan, keduanya sepaket. Kejahatan terjadi tidak hanya disebabkan niat pelakunya, tetapi karena adanya kesempatan, waspadalah, haha... Mungkin hal tersebut cocok untuk menyebutkan alasanku perbaiki laptop, karena adanya kesempatan. Saya bosan malas-malasan. Walaupun ada kerjaan, tetapi jenuh , butuh kerjaan lain yang berbeda. Terlintas begitu saja di pikiran untuk menyentuh semua bagian laptop, dan pada waktu itu juga saya langsung preteli laptop tanpa banyak alasan.
Mari simak, apa yang bisa dilakukan pemalas akut seperti saya. Pembersihan laptop diawali dengan niat, haha... basi ya? Dilanjutkan dengan menyeduh secangkir kopi, dan menyiapkan beberapa batang rokok. Tujuannya, supaya tenang, santai, rileks, dan menikmati proses mutilasi laptop sehingga meminimalisir kesalahan. Saya kurang nyaman jika bekerja dalam tekanan dari pihak lain atau tanpa suasana tenang, tetapi tidak masalah jika tekanan datang dari diri sendiri. Seperti halnya ketika memperbaiki laptop temannya mantan pacar. Saya merasa tertekan karena diberi waktu sekitar 6 jam, dan kondisi saya sedang penuh jam kuliah. Sebenarnya tidak ada tuntutan untuk menyelesaikan dalam waktu 6 jam, hanya saja orangnya menunggu, dan menurutku hal tersebut secara tidak langsung memberi tuntutan untuk menyelesaikan hari itu juga. Hasilnya pun mengecewakan. Padahal saya paham titik permasalahannya ada di mana, tetapi saya ingin coba menyelesaikannya melalui beberapa alternatif, tidak langsung ke pokok, karena harus minta izin dulu sama yang punya, dan itu merepotkan. Laptopnya pakai aplikasi back up otomatis. Hasil back up dapat menyebabkan laptop sangat lamban. Padahal laptopnya sony apaaaa gitu, laptopnya orang kaya, tetapi tetap saja bisa lamban karena back up data berlebihan. Sayangnya cara alternatif menghabiskan waktu sekitar 6 jam, laptop pun diambil sama yang punya, dan tidak sempat berdiskusi untuk menghapus back up supaya laptop ringan. Mengecewakan, dan saya kurang senang. Seandainya laptop bisa rawat inap di kamar pribadi saya, mungkin ceritanya berbeda, lebih menyenangkan.
---
Hasil pekerjaan akan lebih baik jika pekerjaan dilakukan dalam keadaan nyaman, tenang, senang, santai, dan tanpa tekanan dari orang lain.
---
Hal tersebut merupakan salah satu alasan saya tidak menjadikan perbaikan laptop sebagai sumber penghasilan, karena terlalu banyak tekanan, dan secara materi tidak memberi banyak keuntungan. Pada dasarnya, saya tidak bakat berdagang, baik barang maupun jasa. Rasanya tidak nyaman jika lihat raut muka orang lain kurang puas. Misalnya, walaupun barang orang lain sudah saya perbaiki, dan di kemudian hari datang komplain padahal sudah lewat batas garansi, maka saya perbaiki lagi tanpa minta bayaran. Secara materi benar-benar rugi kan? Bisa saja kerusakan terjadi karena kelalaian si pemakai. Makanya, lebih suka jika membantu tanpa pamrih. Walaupun misalkan saya kurang puas karena hasil perbaikan kurang maksimal, tetapi hal tersebut tidak mengharuskanku untuk tanggung jawab berkepanjangan. Untuk orang-orang yang pernah saya bantu, jangan heran jika saya menolak imbalan. Bukan tidak mau terima imbalan atau imbalannya tidak layak, tetapi saya tidak mau bertanggung jawab secara berkepanjangan, cukup hanya bertanggung jawab dari waktu perbaikan sampai seminggu ke depan. Serta tidak mau merasa punya ikatan yang mengharuskanku bersikap baik pada orang yang dibantu di kemudian hari. Karena jika seandainya imbalan diterima, maka mau tidak mau saya harus selalu bersikap baik kepada pemberi imbalan. Hidup saya bebas, tidak mau terikat hanya karena imbalan yang bagiku konyol.
Mungkin di masa depan perbaikan laptop jadi sumber penghasilan utama, tetapi yang jelas untuk sekarang tidak mau. Namun, jika keuangan sedang berada di bawah batas minimal, kadang perbaikan laptop orang lain sangat membantu, walaupun ongkos sekali servis tidak minta lebih dari 50 ribu, karena faktor tidak tega. Targetnya adalah orang-orang yang sama sekali tidak kenal, karena jika kenal, maka saya tidak mau ambil imbalan. Konyolnya, garansi yang saya berikan adalah “seumur hidup selama ada di daerah kampus”, haha... bodoh ya?
Kembali ke proses pembersihan laptop. Preteli laptop punyaku tidak ribet seperti laptop orang lain. Bautnya sedikit, tidak ada baut yang sembunyi, dan buka cover pun tidak kesulitan, bahkan tidak ada pengunci cover yang patah. Padahal, jika buka punya orang lain, pasti selalu ada sekitar 1-2 pengunci cover yang patah.
Gambar hasil pretelan,
Terlihat jelas, pada gambar ada vacuum cleaner. Saya jadikan alat tersebut untuk menyedot debu pada setiap bagian laptop. Namun, sevacuum-vacuumnya vacuum cleaner, tetap saja seonggok vacuum cleaner, tidak mampu sedot debu sepenuhnya. Mungkin karena vacuum cleaner punyaku murahan, daya sedotnya kurang mantap. Maunya sih punya vacuum cleaner yang memiliki daya sedot mirip black hole di luar angkasa sana, haha... Hal yang membuatku heran, kenapa bagian dalam laptop penuh debu cukup tebal, padahal kondisinya tertutup, dan sepintas terlihat bahwa debu tidak mungkin bisa masuk. Mungkin itulah yang dinamakan “misteri sebuah laptop”, haha... apa sih waaaann...!!? Untuk menindas debu yang tidak mempan terhadap sedotan vacuum cleaner, maka saya gunakan paket pembersih laptop yang kondisinya tua renta. Entah berapa tahun umur barang tersebut, sampai sekarang belum habis, jarang dipakai, dan mungkin sudah kadaluarsa. Dulu dapat sebagai hadiah dari pembelian notebook. Awalnya saya pikir barang tersebut adalah aksesoris boneka barbie, tetapi tidak mungkin karena semua anak orang tua adalah lelaki. Masa adik saya main barbie?
Gambar paket pembersih laptop,
Pembersih tersebut sangat membantu, mampu membersihkan debu dan kotoran yang lengket. Sambil membersihkan setiap bagian, saya perhatikan tulisannya. Hasilnya cukup mengesankan, hampir semua bagian laptop made in China. Hooraaayy... Tepuk tangan buat Cina yang perekonomiannya mampu menyusup ke hampir semua negara di dunia. Tidak salah jika ada pepatah “belajarlah sampai ke negeri Cina”. Walaupun kawan-kawan termasuk saya sendiri sering memandang sebelah mata produk Cina, tetapi nyatanya kami tidak lebih hebat dari mereka, menyedihkan.
---
Salah satu keunikan laptop, belum tentu merek setiap bagian laptop sama dengan merek laptopnya, dan belum tentu produksinya di negara yang sama. Jadi, jangan sombong dulu jika punya laptop merek bergengsi sampai merendahkan produk Cina, karena mungkin di dalamnya ada bagian-bagian laptop made in China.
---
Perhatian utama dalam pembersihan laptop adalah sistem pendingin. Sedikit heran karena sistem pendingin laptop seperti radiator sepeda motor, terlihat ada selang logam seperti jalur sirkulasi air. Sebenarnya sudah sering lihat sih, tetapi dulu tidak terlalu memperhatikan seperti sekarang. Ragu juga jika selang logam tersebut berisi air, karena sama sekali tidak ada lubang untuk isi ulang air. Mungkin hanya sekedar penghantar panas. Uniknya, bagian ujung selang dekat kipas seperti gosong, tetapi hanya bagian itu saja, dan anehnya selang yang paling dekat dengan titik mula panas sampai bagian tengah tidak gosong sama sekali. Logikanya kan yang semestinya gosong justru di bagian awal datangnya panas, entah lah... Setelah memperhatikan lebih jauh, membuatku ragu jika sistem pendingin adalah penyebab utama laptop overheat, karena pasta masih layak pakai. Tingkat basah pasta cukup baik, seperti karet berminyak. Walaupun sebenarnya secara waktu sudah selayaknya dilakukan perawatan dengan cara pembersihan pada seluruh bagian laptop dan ganti pasta pada sistem pendingin. Bingung untuk otak-atik lebih jauh, hanya membersihkan sampai tidak ada kotoran yang tertinggal. Area kipas paling banyak debunya, bahkan sampai tebal seperti rambut.
*Pasta adalah istilah lain yang bagiku aneh dari thermal paste. Ada juga istilah lain yang lebih logis daripada pasta, dan hampir semuanya tidak menghilangkan kata paste. Sebenarnya keliru jika istilah pasta berasal dari penyebutan/terjemahan paste. Namanya juga Indonesia, seenaknya mengalihkan istilah asing ke bahasa sendiri. Bukan masalah, yang penting saling memahami dalam komunikasi. Saya sendiri lebih memilih istilah pasta, lebih simpel, walaupun saya menganggap istilah tersebut keliru.
Gambar sistem pendingin,
Setelah berulang kali sedot gesek semprot gesek semua bagian laptop sampai berkilat dan kelelahan, dilanjutkan dengan menjemurnya di bawah terik matahari, kecuali ram, wlan, dan harddisk. Dijemur supaya kering, sebagai aksi pencegahan terjadinya korslet ketika dihidupkan. Bagiku matahari lebih efektif dalam hal pengeringan dibandingkan produk lain hasil temuan manusia. Dulu pernah coba mengeringkan keyboard pakai hair dryer, dan hasilnya satu tombol meleleh. Pokoknya matahari terbaik lah. Kalau kata W.S. Rendra, “kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian jadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Ditambah kata malaikat tentang kekhawatirannya, bahwa manusia adalah makhluk yang akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah. Ngawur ya? Sengaja...
Semua bagian siap untuk dirakit kembali. Ada beberapa masalah yang biasa terjadi karena kebodohanku sendiri. Biasanya saya lupa bagaimana cara memasang, lupa di mana letak baut yang tepat, hanya bisa bongkar tanpa bisa pasang ulang. Saya tidak pandai mengingat. Seperti halnya ketika preteli sepeda motor mx new, ada dua baut yang tersisa, dan tidak tahu letak pemasangannya di mana, sampai harus bongkar ulang lagi, merepotkan. Kebodohan yang menyengsarakan diri sendiri. Walaupun akhirnya persoalan tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Hal seperti itu terjadi juga ketika rakit laptop. Setelah 70 % pemasangan, saya bingung karena ada dua kabel wlan yang belum terpasang. Sampai dibongkar ulang, dan ternyata setelah diteliti, tidak mesti bongkar ulang. Cukup memasukkan kabel pada lubang di bawah keyboard. Konyol. Untungnya tidak ada baut yang tersisa.
Masalah lain adalah tidak punya pasta untuk ganti pasta sebelumnya yang telah dibuang. Awalnya mau pake alternatif lain seperti pasta gigi, minyak, lotion, balsem, margarin, kecap, bedak, air radiator motor, dll. Namun, saya takut si laptop masuk ke alam mimpi, dan berkata bahwa saya telah berbuat zalim, menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akhirnya, saya putuskan minta pasta ke kios servis komputer terdekat sambil bawa plastik kecil bekas obat tablet. Kalau beli kan sayang, karena yang saya butuh hanya secuil, dan jika beli isinya bisa bercuil-cuil, mubazir sisanya tidak terpakai. Sangat disayangkan bahwa kiosnya tutup, dan terpaksa berkelana cukup jauh hanya demi secuil pasta. Mungkin kios tutup karena penjaganya merasakan perasaan ganjil bahwa akan ada sesosok manusia peminta pasta, haha... Beruntung di pusat kecamatan ada toko komputer, dan saya pun langsung memesan pasta dengan gaya bicara sok ahli servis komputer, padahal kan saya mahasiswa Sastra Arab, haha... Awalnya saya mau minta yang sudah dipakai, tetapi rasanya tidak sopan jika minta ke toko komputer. Akhirnya beli pasta murahan, karena di sana hanya ada satu jenis pasta. Murahan, tetapi keuntungan yang didapat penjual lumayan besar. Maunya sih beli yang paling bagus, tak peduli jika harganya mahal, demi kebaikan laptop dan diri sendiri juga. Alibi! Tetap saja jika banyak jenis pasta, pasti dipilih yang paling murah. Tak apa lah jika kualitas pasta kurang baik. Karena hal itu dapat memaksa saya supaya rutin merawat komputer dan ganti pasta di masa depan.
Gambar pasta,
Semua bagian sudah terpasang sempurna. Bersih, siap dipajang di toko loak, haha... Awalnya, ada sedikit perasaan takut bahwa laptop akan mati total, tetapi bersyukur laptop bisa hidup normal. Performanya pun sangat memuaskan, tingkat kecepatan meningkat dibandingkan sebelumnya. Bonusnya, tombol klik kiri yang sebelumnya mati, sekarang kembali normal. Ternyata ada benarnya nasihat orang bijak, bahwa menunda pekerjaan sama halnya dengan menghambat hal baik yang akan didapat di masa depan.
---
Menunda dapat menghambat datangnya hal baik.
---
Semoga laptop bisa sehat sampai hari kiamat tiba. Mudah-mudahan tidak minder disandingkan dengan laptop keluaran terbaru, berharap selalu bisa bersaing. Laptopku terbaik, kuat dipakai selama berhari-hari tanpa dimatikan, kuat diajak garap tugas seharian, tak bosan dijadikan bahan eksperimen, hampir tak pernah bermasalah kecuali mati mendadak jika memainkan hiburan yang kapasitasnya berat. Banyak kenangan yang telah dilakukan. Semoga kita selalu menghasilkan karya bermanfaat.
Gambar hasil pembersihan,






Tidak ada komentar:
Posting Komentar