Sabtu, 23 April 2016

MASALAH DIRI TAK SEBERAPA

Menyendiri adalah pilihan terbaik. Bertapa sampai merasa bahwa masalahku tak seberapa ketika berada di fase kehidupan jenuh. Merasa bahwa tidak ada kawan yang mampu mengubah hidupku kembali berwarna. Inilah dunia yang sebenarnya. Terasa berat ketika diri masuk ke masa yang mengharuskanku terlepas dari beban orang tua. Terbayang, makin berat hidupku jika orang tua benar-benar telah tiada.

Merasa beruntung karena dulu orang tuaku mendidik dengan cara yang tidak dipahami oleh pemikiran anak kecil. Tidak pernah memberikanku kehidupan glamor. Sampai merasa bahwa diri paling sengsara. Padahal ajaran orang tua bermaksud supaya aku mandiri ketika dewasa, paham etika, dan paham makna kehidupan sederhana. Yang dimaksud sederhana bukanlah hidup apa adanya tanpa usaha. Melainkan rendah hati, menghargai orang lain, dan tidak menyombongkan diri. Sekarang aku paham apa yang dimaksud orang tua. Seandainya bisa kembali ke masa lalu, mungkin aku akan membuat orang tua selalu ceria. Karena pernah suatu saat aku membuat orang tua menangis, dua kali, disebabkan sikapku yang tak pantas sebagai anak. Aku tak pernah tega melihat tangisan, siapa pun orangnya, terutama keluarga sendiri, apalagi jika penyebab tangisan adalah aku. Sayangnya aku tak suka tenggelam dalam penyesalan. Biarlah masa lalu jadi pelajaran, bukan untuk dinikmati, karena tak akan pernah bisa kembali ke masa lalu. Yang jelas sekarang aku tidak mau jadi penyebab tangisan orang tua untuk yang ketiga kali, dan umumnya kepada semua orang. Intinya tidak mau membuat pihak lain merasa kecewa.

Sekarang aku memastikan diri bahwa aku sedang tidak luka. Memastikan diri bahwa aku baik-baik saja. Supaya tidak ada satu orang pun kecewa karena khawatir pada nasib yang aku rasa. Hanya saja sekarang aku merasa jenuh. Karena melihat kehidupan dunia tidak benar-benar menawarkan konsistensi bahagia. Hanya menawarkan tawa ketika diri penuh pesona.

Bukan berarti aku tidak mempunyai agenda. Berbagai rencana aku tunda. Percuma bekerja jika tidak disertai jiwa. Hanya akan menghasilkan karya tanpa cinta, dan berujung kaku pada setiap karya yang aku hasilkan secara paksa.

Ketika jenuh, pantailah yang menjadi pilihan utama. Kebetulan sekarang adalah akhir dari tiga hari deretan purnama. Cuaca pun cerah, bisa menikmati hamparan pantai, tarian ombak, dan kerlip bintang tanpa tertutup awan mendung. Tak lupa membawa serta alat tulis, karena lebih nyaman menggoreskan pena di atas kertas, walaupun sebenarnya sedang berada di era digital. Tak perlu bawa penerang, karena sinar bulan sudah cukup menerangi aktifitas menulis.

Pantai selalu jadi tempatku merenung. Bertapa supaya mengingat bagian-bagian yang aku lupa. Hasilnya, mampu mengingatkan rasa syukur kepada Sang Pemberi Kehidupan. Masalahku tidak seluas pantai, membuatku tak patut jika diri merasa dirundung pilu. Dalam renungan, terbayang pula setiap jiwa yang sebelumnya telah aku perhatikan di tempat lain. Sebagian mereka memiliki masalah lebih besar daripada rasa jenuhku yang tak kunjung sirna. Semakin membuatku tak pantas untuk berduka cita pada diri sendiri.

Pergi ke pantai adalah keputusan terbaik. Karena aku menemukan hal yang membuat senyumanku kembali berfungsi. Kebetulan dalam perjalanan aku bertemu ibu beserta anak yang sepeda motornya mogok. Motor tua, dengan kondisi mesin tanpa sentuhan cinta. Sekejap aku memutar balik arah laju sepeda motorku. Berharap aku bisa membantunya sekaligus mengatasi sejenak rasa jenuhku. Membuatku kaget karena kondisi si ibu bawa barang berukuran besar, ditambah mengenaskan lagi karena anak kecilnya ikut serta. Sebelum aku tiba, entah berapa lama si ibu otak-atik motor, dengan kondisi buta pengetahuan tentang mekanik sepeda motor. Anehnya, satu orang pun tidak ada yang menolong, bahkan orang-orang yang secara jarak tidak terlalu jauh hanya asik dengan obrolan di tempatnya masing-masing. Di mana rasa kemanusiaan!!?

Sudah lama aku tidak memperbaiki motor mogok, bahkan lupa kapan terakhir kali memperbaiki area mesin. Efeknya, menghabiskan waktu lama sampai motor bisa menyala. Sayangnya motor hanya bisa berjalan dalam jarak sekitar 30 meter. Tanpa banyak bicara, motor dititipkan pada penduduk sekitar, dan aku antarkan mereka ke rumahnya. Maksudnya, supaya bapak mertuanya yang mengurus motor, karena urusan tersebut lebih tepat bagi para pria. Tak peduli capek dan jauhnya jarak antar pulang pergi pemilik motor. Yang penting aku bisa tersenyum setelah si ibu, anaknya, barang bawaan, dan bapak mertuanya yang aku angkut menjemput motor mogok, semuanya lengkap kembali ke rumah tercintanya. Aku heran, motor mogok bisa nyala sehat sampai rumah ketika dikendarai si bapak mertua. Membuatku malu sebagai mantan mekanik, dan kalah telak oleh si bapak yang membetulkan motor dalam waktu singkat, padahal cara perbaikinya sama dengan apa yang aku lakukan. Sedikit bercanda di lampu merah, “(+) kok dibawa bapak bisa lancar?/ (-) Sing nyekel kok mas.../ (+ -) haha...”. Setelah sampai rumah, tanpa bersedia mampir aku langsung pamit ke arah pantai.

---
Permohonanku pada siapa pun, tolong tambahkan rasa kemanusiaan disertai aksi, dan jangan dikotori dengan harapan pamrih.
---

Mungkin aku sejenis orang yang tidak mudah dipahami. Hanya karena membantu orang lain, jiwaku bisa kembali berwarna. Apalagi jika orangnya tersenyum, rasanya kepuasan diri semakin sempurna. Namun, yang aku sendiri tidak mengerti, porsi rasa senang berkurang jika pihak yang dibantu memaksa supaya aku terima imbalan. Sebenarnya senyuman orang yang dibantu sama halnya dengan bentuk imbalan, tetapi bentuknya bukan berupa barang. Dapat disimpulkan bahwa harga jasaku murah, cukup dibayar dengan senyuman yang dapat membuatku tersenyum. Entahlah, tak penting.

Masih banyak yang bisa diceritakan, tetapi aku batasi sekian. Jam sudah menunjukkan tengah malam lebih. Waktunya mengakhiri pertapaan di pantai, supaya tidak membuat khawatir para tetangga. Walaupun mereka tidak mempunyai hubungan darah denganku, tetapi aku merasa bahwa mereka perhatian padaku, terkadang mereka menunjukkan sikap khawatir, dan mungkin aku hanya “kepedean”.

---
Terima kasih pantai Parangtritis. Kau adalah saksi bisu berkali-kali renunganku.
---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar