Jumat, 22 April 2016

INVASI KECOA DAN HEWAN LAINNYA

Namanya desa pasti tidak aneh dengan serangga, begitu juga hewan-hewan lainnya yang bagiku tabu. Bukan berarti di kota anti hewan-hewan tersebut, bahkan lebih mengerikan daripada yang berada di kampung, contohnya tikus got yang masih sehat sejahtera setelah ditendang kencang. Awal pindah ke Bantul, saya langsung disambut oleh berbagai jenis laba-laba, dari ukuran terkecil sampai ukuran sedang. Untungnya tak ada tarantula yang bisa membuat tidurku terganggu. Sepertinya laba-laba betah di rumah yang saya huni, atau mungkin hanya ingin dekat denganku saja karena baginya saya penuh pesona, haha... Sampai sekarang laba-laba tak ada habisnya, terutama di kamar mandi. Apalagi jika saya meninggalkan rumah lebih dari satu minggu, pasti jaring laba-laba menguasai bagian-bagian rumah yang bersudut.

Hewan lain yang betah di rumah adalah nyamuk. Hampir setiap malam dia menemani tidurku. Hanya obat nyamuk bakar yang mampu mengusirnya dari rumah. Namun, tidak berlangsung lama, ketika asap lenyap, nyamuk pun kembali bernyanyi di sekitar telinga. Mungkin darahku sangat manis, sehingga membuat para nyamuk ketagihan. Bersyukur tidurku selalu nyenyak. Tidak pernah bangun hanya karena nyamuk menusuk kulit sekaligus menyedot darah. Hal tersebut tidak membuatku geram, anggap saja bekam rutin, haha...

Rasanya kurang lengkap jika tak ada kisah tentang tikus. Kayaknya tikus adalah kuncen di setiap hunian manusia. Entah darimana datangnya, tak kenal desa atau kota, selalu saja tikus ikut serta. Agak mengganggu sih, terutama jika paham kapan waktu tikus beraktifitas. Aktifitasnya di malam hari, dan sangat tidak tepat karena jam tersebut adalah waktunya saya memejamkan mata. Kan geli jika kaki serasa digerayami! Detik-detik menuju tidur pun menjadi penuh rasa was-was. Tidak hanya itu, kadang tikus pun melubangi keresek tempat beras, sehingga membuatku segan memasak nasi dari beras sekitar lubang yang dibuat tikus, kadang beras semuanya dibuang jika jumlahnya hanya sekitar satu cangkir. Dasar binatang, tak tahu mana yang enak, sampai beras pun digerogoti. Walaupun sedikit mengganggu, tetapi tidak menakutkan seperti tikus-tikus kota, lebih kalah kelas lagi jika dibandingkan dengan tikus berdasi. Tikus di Bantul imut-imut, sebanding dengan hamster yang dijual di Sanmor UGM, haha... Bahkan belum lama ada sekitar 3 anak tikus bermain di dalam rumah. Dengan lucunya sambil malu-malu, si tikus mungil berlari-lari di depan kakiku. Tak tega saya menendangnya. Lebih baik membuka pintu dengan harapan si tikus keluar bebas tanpa perintah. Berbeda dengan nyamuk, tikus tidak setiap hari bertamu ke rumah. Saya rasa bulan-bulan terakhir ini tidak merasakan adanya tanda-tanda datangnya tikus.

Ngomong-ngomong soal makanan yang menjadi jijik jika dijilati makhluk lain, ada satu hewan yang saya jadikan salah satu musuh terbesarku, cicak. Walaupun cicak bagi anak kecil adalah hewan manis, sampai ada lagu anak tentang cicak, tetapi bagiku dia adalah musuh yang nyata. Setiap makanan yang tidak tertutup selalu didekati cicak, dan jika tidak waspada, maka harus rela membuang makanan yang dijilatinya. Memang sikapku agak berlebihan, tetapi saya tidak terbiasa berbagi mulut dengan binatang. Cicak tak tahu malu, gelas yang masih ada sisa kopi pun dijadikan tempat berenang. Saking kesalnya, saya biarkan cicak terjebak berhari-hari di dalam gelas sampai lemas, untuk kemudian saya jadikan hidangan bagi kucing liar. Kalau dulu, ketika masih tinggal di Yogya kota, saya buang cicak dalam gelas ke kura-kura, sampai terdengar renyah ketika kura-kura mengunyah. Kadang saya buang di kolam lele, dan reaksinya seperti piranha, keroyokan. Sekali serang, cicak langsung terkapar mengambang di atas kolam. Kisah paling jijik adalah ketika cicak buang kotoran. Umumnya, dia buang kotoran sembarangan. Namun, harus waspada, sebenarnya dia selalu menjadikan manusia sebagai target, sebagai tempat akhir berlandasnya kotoran. Bajingan kan!? Tak punya etika. Makanya, saya selalu menghindari berdiam diri di dinding rumah, supaya tidak jadi target. Suatu hari saya akan melepaskan anak panah terbaikku ke cicak, sampai darahnya muncrat dan tidak sempat untuk sekarat.

Beberapa hewan lain yang pernah singgah ke rumah tetapi jarang adalah (1) ular yang membuat saya kaget. Saya kira ketika tiduran subuh hari ada kucing di depan pintu, terlihat di sela-sela bawah pintu yang tertutup seperti ada bayangan. Ternyata itu ular. Langsung saja saya berlagak seperti penakluk hewan di tv, kemudian saya masukkan ular ke dalam botol. Terasa bersalah, karena setelah pulang dari kampus, saya melihat ular mati kejang di dalam botol; (2) kadal yang membuatku berdiri tegak saling menatap tanpa gerak. Setelah cukup lama kami saling menatap, saya pikir ada yang janggal. Ternyata kadalnya sudah mati. Waktu itu saya meninggalkan rumah hampir dua bulan, dan tidak tahu kapan kadal masuk rumah dan mati; (3) biawak yang kebetulan adalah pertama kali saya melihatnya secara langsung. Ceritanya saya tidur siang, dan bangun secara tiba-tiba. Tepat ketika awal membuka mata, langsung menatap ventilasi rumah dan melihat seperti ada kadal. Anehnya, ukurannya besar, dan setelah diperhatikan dengan saksama, kok mirip komodo. Tidak mungkin jika itu adalah iguana, dan waktu itu juga saya mengira bahwa itu biawak. Setelah malam harinya berbincang dengan tetangga, memang akhir-akhir ini ada biawak berkeliaran, bahkan ada tetangga yang berburu biawak sampai ditemukan telurnya; (4) kelelawar. Dia baru-baru ini bertamu ke rumah. Itu juga malu-malu, hanya menggantung di luar depan pintu. Sayangnya sekarang dia tidak kembali, karena kabel lampu tempat dia menggantung saya tata ulang supaya tidak menggelantung.

Hari-hari ini saya merindukan semut. Tidak biasanya mereka segan bertamu. Ada sih sedikit semut merah kecil, tetapi sangat sedikit. Semut adalah teman terbaik yang saya banggakan. Mereka rela kerja tanpa pamrih, membersihkan serpihan makanan yang bertebaran. Bekas potongan kuku yang saya buang sembarangan pun selalu lenyap tiba-tiba karena jasa para semut. Entah berapa bangkai nyamuk yang mereka gusur, sehingga rumahku tidak bau bangkai nyamuk. Apa mungkin mereka tidak bertamu karena marah, soalnya akhir-akhir ini saya sering mengepel lantai.

Hampir lupa, di rumah ada beberapa sarang kecil punya lebah. Hanya terdapat di bagian rumah yang dekat dengan ventilasi, dan umumnya bersarang tepat di lubang ventilasi. Saya tidak terlalu berteman dengan lebah, karena dia terlalu rajin bekerja di luar rumah, sampai saya hampir tidak pernah melihatnya. Masih banyak juga hewan-hewan lain, tetapi saya malas cerita, lebih baik langsung menceritakan inti cerita setelah tadi pembukaan yang cukup panjang, dan mungkin inti cerita lebih pendek daripada pembukanya.

Ada satu jenis hewan yang berada di setiap rumah dan saya pantang bersentuhan dengannya. Kecoa, bagiku jijik, tetapi segan untuk dijadikan target pembunuhan. Saya tidak pandai membunuh, hanya pada nyamuk saya tega melakukan pembunuhan dengan tangan sendiri. Mungkin berlebihan jika saya mengatakan jijik pada kecoa, karena dia juga makhluk Tuhan paling seksi, karena tidak pakai baju, haha... Lebih tepatnya, saya geli terhadap kecoa, terutama pada kecoa yang bisa terbang. Biasanya, bagian rumah yang menjadi tempat favoritnya adalah kamar mandi yang bertemankan para jangkrik, dan saya tidak mengusirnya selama tidak mendekati bagian kaki. Namun, jangan berharap saya memberi belas kasihan ketika berada di ruangan selain kamar mandi. Pernah suatu hari saya taburkan beberapa biji kapur barus di setiap sudut ruangan, dan hasilnya beberapa jam kemudian para kecoa panik keluar bertebaran ke ruang yang lebih terbuka.

Malam ini paling aneh berdasarkan sudut pandang mengenai kecoa. Tiga kecoa besar berani menampakkan diri di ruangan terbuka. Depan mataku mereka berkeliaran. Awalnya cuman satu, dan saya berhasil mengusirnya ke luar rumah. Saya merasa aneh, karena bisa dikatakan bahwa kondisi ruangan kebetulan sedang rapih dan bersih. Lebih aneh lagi ketika beberapa menit kemudian dua temannya berani muncul, dan salah satunya bisa terbang. Nasib keduanya tidak beda dengan yang pertama, saya gusur dengan sapu, dan dengan gaya pemain golf saya hempaskan para kecoa sampai terbang beberapa meter ke halaman rumah. Sampai detik ini baru tiga kecoa yang berani muncul. Tidak biasanya para kecoa besar berani keluar dari tempat persembunyiannya. Mungkin mereka gerah efek dari awal kemarau. Atau mungkin tiga kecoa hanya sekadar pancingan belaka, dan ketika saya tertidur para kecoa langsung menginvasi semua bagian rumah kemudian mengusirku selama-lamanya. Entahlah, yang jelas selama saya dan sapu masih kuat beraksi, jangan harap para kecoa bisa tertawa di depan muka.

Sebagai perjaka sebatang kara, ternyata saya tidak kesepian hidup sendiri di dalam rumah. Masih banyak hewan yang rela mengisi keheningan rumah. Semoga para hewan mendoakan kebaikan untukku atas dasar kebaikanku kepada mereka. Khusus bagi para hewan yang teraniaya, saya mohon maaf sebesar-besarnya, karena jika tingkah Anda tidak semena-mena, maka hidup Anda sampai sekarang sejahtera. Pesanku pada sebagian hewan, supaya pertempuran kita tidak berlangsung lama, maka contohlah para semut yang saya jadikan anak emas. Seandainya kita semua bisa saling berkomunikasi, mungkin rumah akan menjadi kebun binatang kedua setelah adanya Gembira Loka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar