Minggu, 24 April 2016

BERSEDEKAHLAH

---
Aku berlindung kepada Allah dari setan terkutuk
Dengan nama Allah Sang Maha Pengasih dan Penyayang
---

Pembuka tulisan yang sangat jarang aku lakukan, dan seharusnya disertakan dalam setiap aktifitas. Tulisan ini tentang apa yang aku rasa. Bukan bermaksud untuk “ria”, dan mohon untuk tidak menganggapku seperti itu. Aku hanya ingin membagikan bukti yang dijanjikan oleh Sang Gaib, dan mudah-mudahan apa yang terjadi padaku benar-benar bentuk rahmat-Nya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Bertebaran tulisan di internet tentang sedekah, disertai iming-iming balasan yang akan didapat. Namun, biasanya manusia tidak percaya tanpa bukti, terutama diriku sendiri. Sekarang pandanganku tentang hal tersebut berubah, dan percaya bahwa keutamaan sedekah bukan sekadar mitos belaka. Aku pikir semua orang paham apa yang dimaksud sedekah, tetapi aku mau terlebih dahulu sedikit membahas definisi sedekah sesuai pemahamanku.

KBBI menyepakati definisi sedekah sebagai pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi; derma. Definisi tersebut tidak salah, tetapi aku pikir di dalamnya terdapat batasan sekaligus tidak ada batasan pada satu persoalan penting, berbeda dengan apa yang aku pahami dari tulisan lain. Sedekah adalah kata serapan dari bahasa Arab, dan berhubungan dekat dengan ajaran Islam. Mungkin sebenarnya sedekah menjadi kata serapan karena ajaran Islam, bukan karena orang Arab datang ke Nusantara, dan umumnya ajaran Islam berbahasa Arab. Beberapa kali aku menemukan kata di dalam al-Qur`an yang tidak jauh beda dengan sedekah. Secara pelafalan pasti berbeda, hanya ada kemiripan, tetapi maknanya mungkin sama. Sedekah yang aku pahami adalah membelanjakan harta dalam kebaikan sesuai ketetapan Allah—lengkapnya Anda cari sendiri dalam al-Qur`an siapa saja penerima sedekah yang diutamakan—dengan harapan mendapat rida-Nya, dan penerima tidak dibatasi fakir miskin atau yang lainnya. Aku juga tidak membatasi harta hanya dalam bentuk uang, tetapi setiap apa yang aku punya—sebagian di antaranya tenaga dan ilmu—adalah harta. Berarti menggunakan segala yang aku punya dalam hal baik dan berdampak pada pihak lain sama dengan membelanjakan harta.

Banyak cara untuk bersedekah. Jika tidak punya uang, aku bisa melakukan apapun hal baik di bumi, dan lebih baik lagi jika yang dilakukan berdampak baik bagi pihak lain. Sudah lama aku ingin bersedekah, khususnya menyalurkan sebagian uang untuk keperluan pihak lain yang membutuhkan. Tertarik ketika memahami isi al-Qur`an. Namun, hal tersebut lama ditunda, entah alasannya apa, dan beruntung belum lama ini sedekah uang bisa dilaksanakan. Mungkin secara tenaga dan ilmu aku pernah melakukan sedekah, tetapi tidak secara uang. Itu juga ragu, apakah sedekahku diterima oleh Tuhan atau tidak. Menyisihkan uang 10 % di setiap bulan bukanlah masalah bagiku, tetapi sangat berat dilakukan, ada saja alasan yang diada-adakan. Tidak semudah membelanjakan uang untuk rokok bungkusan.

Akhir-akhir ini hidupku merasa jenuh. Padahal secara harta dan kesehatan tidak ada masalah, bahkan sepertinya tidak ada masalah yang bisa membuat jidatku berkerut. Tidak terpikirkan olehku penyebab utamanya. Mungkin karena hubunganku dengan Tuhan sedang jauh. Rasa jenuh pun berkurang ketika aku memutuskan sedekah. Keputusan tersebut bukan didasari atas rasa jenuh yang aku rasakan, dan memang sedekah adalah rencana lama yang aku tunda. Dengan kata lain, sedekah adalah aksi yang aku lakukan untuk mempraktekkan hal yang aku pahami dari al-Qur`an.

Sedekah berupa tenaga ataupun uang aku lakukan. Tidak banyak, bahkan bisa dikatakan bahwa aksi sedekahku masih sangat kurang. Tak perlu dijelaskan bentuk lengkap sedekahnya seperti apa, takut terjebak dalam ria. Yang jelas, hasilnya cukup bisa mengubah hidup, khususnya mengurangi rasa jenuh yang—untuk sementara—menjadi persoalan hidupku. Aku merasakan orang-orang di sekitar bersikap lebih baik kepadaku. Dulu juga baik, tetapi yang aku rasakan lebih nikmat setelah melakukan sedekah. Bahkan ada saat di mana aku tersenyum lama, dan mungkin tidurku juga sambil tersenyum, haha... Perlu dijelaskan, bahwa kebaikan—yang aku kira—hasil dari sedekah, tidak semuanya langsung begitu saja dirasakan setelah sedekah dilakukan. Namun, bertahap, dan sebagian dirasakan langsung setelah sedekah dilakukan yang ditandai dengan rasa senang.

Segala kesenangan adalah rahmat Allah dengan segala kemisteriusan-Nya. Mudah-mudahan kesenangan adalah balasan dari-Nya karena aktifitasku sebelumnya, bukan cobaan yang berpotensi membuatku tenggelam dalam kesenangan sampai melupakan Tuhan. Mudah-mudahan semua orang sebagai salah satu faktor yang membuatku senang selalu diberi keberkahan tiada tara.

Alasan apalagi yang menahanmu untuk bersedekah. Jangan ditunda. Karena aku sudah merasakan bukti kebaikan dari aktifitas sedekah. Mendapatkan banyak timbal balik kebaikan, walaupun sebenarnya aku tidak sedikit pun berharap imbalan. Dan sekali lagi jangan anggap aku bersikap ria. Aku hanya ingin berbagi bukti dengan harapan manfaat bagi siapa pun yang membaca. Bersedekahlah, karena itu merupakan salah satu perintah Allah.

---
Sedekahkanlah hartamu, baik harta berupa uang, tenaga, ilmu, atau apapun yang kau punya. Jangan pernah kotori sedekah dengan harapan imbalan, walaupun bentuknya adalah surga. Dasarilah sedekah atas nama Allah, ikhlas sepenuhnya sebagai bentuk berserah diri, dengan harapan mendapatkan rida-Nya. Lalu perhatikan perubahan hidupmu yang menjadi lebih baik. Jangan lupa tetap bersyukur ketika senang meliputi diri, jangan pernah lupakan Tuhan.
---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar