Sabtu, 19 Maret 2016

PUISI “MAKAN”

Dulu aku tidak suka puisi. Rasanya geli jika dihadapkan puisi. Maka dari itu, jangankan menulis puisi, baca puisi saja dihindari. Sayangnya di SMP dan SMA selalu ada saja tugas membuat puisi. Entah berapa judul yang pernah dibuat, yang teringat hanyalah dua judul dengan bahasa Indonesia. Puisi bahasa Sunda pun pernah ditulis, tetapi benar-benar lupa, aku tidak pandai menyimpan berkas.

Salah satu puisi yang pernah ditulis di SMA berjudul Makan. Lupa ditulis untuk tugas mata pelajaran apa, mungkin pelajaran Seni atau Sastra Indonesia. Sebagian larik dan urutannya pun lupa. Puisi Makan ditulis dengan sedikit terpaksa. Wajar karena dulu tidak suka puisi. Daripada menulis puisi cinta yang membuatku merasa geli, lebih baik menulis puisi yang bisa meluapkan keresahan jiwa tanpa ada unsur asmara. Memang puisi Makan masih ada unsur cinta, tetapi bukan asmara, karena cinta yang ditujukan bagi setiap orang yang sengsara dikarenakan makan. Realitasnya di dunia ini masih banyak yang kelaparan, padahal bumi sangatlah kaya.

Berikut beberapa penggalan larik yang masih ingat:
MAKAN

Makan
Kenapa kita butuh makan?
Di sini kelaparan
Di sana kelaparan
Kenapa makan sangatlah kejam?
Jika dipikir lagi, rasanya puisi tersebut terkesan konyol. Wajar jika ditertawakan kawan-kawan ketika dibacakan olehku di depan kelas. Sebenarnya tidak bermaksud bertindak konyol, hanya saja mungkin dianggap konyol oleh kawan-kawanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar