Dulu aku tidak suka puisi. Rasanya geli jika dihadapkan
puisi. Maka dari itu, jangankan menulis puisi, baca puisi saja dihindari.
Sayangnya di SMP dan SMA selalu ada saja tugas membuat puisi. Entah berapa
judul yang pernah dibuat, yang teringat hanyalah dua judul dengan bahasa
Indonesia. Puisi bahasa Sunda pun pernah ditulis, tetapi benar-benar lupa, aku
tidak pandai menyimpan berkas.
Salah satu puisi yang pernah ditulis di SMA berjudul Makan.
Lupa ditulis untuk tugas mata pelajaran apa, mungkin pelajaran Seni atau Sastra
Indonesia. Sebagian larik dan urutannya pun lupa. Puisi Makan ditulis dengan
sedikit terpaksa. Wajar karena dulu tidak suka puisi. Daripada menulis puisi
cinta yang membuatku merasa geli, lebih baik menulis puisi yang bisa meluapkan
keresahan jiwa tanpa ada unsur asmara. Memang puisi Makan masih ada unsur
cinta, tetapi bukan asmara, karena cinta yang ditujukan bagi setiap orang yang
sengsara dikarenakan makan. Realitasnya di dunia ini masih banyak yang
kelaparan, padahal bumi sangatlah kaya.
Berikut beberapa penggalan larik yang masih ingat:
MAKANMakanKenapa kita butuh makan?Di sini kelaparanDi sana kelaparanKenapa makan sangatlah kejam?
Jika dipikir lagi, rasanya puisi tersebut terkesan konyol.
Wajar jika ditertawakan kawan-kawan ketika dibacakan olehku di depan kelas.
Sebenarnya tidak bermaksud bertindak konyol, hanya saja mungkin dianggap konyol
oleh kawan-kawanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar