Di penghujung SMA, Pak Deden sebagai guru Sastra Indonesia
sekaligus “bapak kami” karena rela dua tahun berturut-turut menjadi wali kelas
pelajar badung seperti kami di SMA Bina Muda Cicalengka, dia memberikan tugas
akhir untuk menulis puisi dan membacakannya di depan kelas. Lagi-lagi puisi,
hal yang selalu aku hindari, tetapi rasanya takdir selalu mempertemukanku dengannya.
Cukup banyak waktu luang yang diberikan guruku untuk menyusun puisi, sekitar
beberapa hari, wajar karena puisi tersebut adalah tugas akhir SMA, tugas paling
akhir selain ujian nasional. Aku sendiri tidak memanfaatkan waktu luang untuk
mengerjakannya di rumah. Pemalas, senangnya hanya main seharian penuh.
Akhirnya, ketika “hari penghakiman” tiba, kertasku masih kosong. Padahal
tugasnya cukup gila, karena di samping menulis puisi, guruku menyarankan untuk
menghiasi kertas dengan gambar yang dapat membantu penilaian.
Di saat kawan-kawan membacakan puisinya di depan kelas, aku
pun memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menyusun puisi. Untungnya Pak Deden
sangat baik, memberikan kesempatan kepadaku untuk menulis walaupun namaku sudah
dipanggil. Karena bingung menentukan tema puisi disebabkan dulu tidak suka
puisi, maka terlintas begitu saja di pikiran untuk menulis puisi tentang diriku
yang tidak suka puisi. Masalah hias-menghias dengan gambar di kertas bukanlah
masalah bagiku, walaupun sebenarnya aku ragu gambarnya sesuai atau tidak dengan
tema puisi. Bersyukur bisa menyelesaikan tugas akhir dalam waktu yang singkat.
Hampir semua kawan puisinya hebat-hebat, kebanyakan tentang
asmara, dan gaya bacanya pun sungguh hebat, berani berekspresi
sebebas-bebasnya. Adapun aku, Anda sendiri paham bahwa judul puisiku terkesan
konyol, dan gaya membacaku hanya duduk di kursi depan kelas. Maksudku biar
sesuai antara gaya membaca dengan isi puisi, kan aku tidak suka puisi, maka
ekspresinya pun seadanya. Alibi! Sebenarnya aku tidak bisa beraksi di panggung
pertunjukan, malunya kegedean.
Sebagian larik puisi yang ditulis lupa, begitu juga jumlah
bait dan urutan setiap larik. Lagi pula kertas tugas langsung disita guru
setelah selesai membaca, tanpa ada satu pun salinan buat kenang-kenangan.
Padahal dulu setelah aku selesai baca, suasana kelas cukup meriah, bahkan
sebagian kawan minta puisiku yang amburadul. Berikut beberapa penggalan larik
yang masih ingat:
AKU TIDAK SUKA PUISIAku tak suka puisiAku tak mau baca puisiBagiku puisi hanyalah luapan jiwaYang penuh dengan nyanyian sastraSeandainya ada tugas lain selain membaca puisiMungkin aku tidak akan grogi ..... (lupa)...... (lupa)Teman-teman yang ada di depankuIngin cepat-cepat kalau aku duduk di bangkuKatanya aku merusak bahasaYang penuh dengan nyanyian sastra
Alasan kenapa ditulis larik “katanya aku merusak bahasa”,
karena jurusanku di SMA adalah Bahasa. Jurusan terindah dan spesial, karena dari
sekian banyak siswa seangkatan dan banyak kelas, jurusan Bahasa hanya
disediakan satu kelas dengan siswa seadanya, kurang dari 50 siswa. Atau mungkin
kurang peminat dan tersisihkan? Entahlah, yang jelas aku bangga masuk jurusan
Bahasa. Adapun larik “yang penuh dengan nyanyian sastra”, alasannya karena
jurusan kami dua tahun berturut-turut diajarkan ilmu sastra, spesifiknya mata
pelajaran Sastra Indonesia. Maka dari itu, pada dua larik terakhir secara tidak
langsung aku meminta maaf kepada seluruh kawan, terutama kepada Pak Deden
selaku guru Sastra Indonesia sekaligus wali kelas kebanggaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar