Sabtu, 19 Maret 2016

PUISI “AKU TIDAK SUKA PUISI”

Di penghujung SMA, Pak Deden sebagai guru Sastra Indonesia sekaligus “bapak kami” karena rela dua tahun berturut-turut menjadi wali kelas pelajar badung seperti kami di SMA Bina Muda Cicalengka, dia memberikan tugas akhir untuk menulis puisi dan membacakannya di depan kelas. Lagi-lagi puisi, hal yang selalu aku hindari, tetapi rasanya takdir selalu mempertemukanku dengannya. Cukup banyak waktu luang yang diberikan guruku untuk menyusun puisi, sekitar beberapa hari, wajar karena puisi tersebut adalah tugas akhir SMA, tugas paling akhir selain ujian nasional. Aku sendiri tidak memanfaatkan waktu luang untuk mengerjakannya di rumah. Pemalas, senangnya hanya main seharian penuh. Akhirnya, ketika “hari penghakiman” tiba, kertasku masih kosong. Padahal tugasnya cukup gila, karena di samping menulis puisi, guruku menyarankan untuk menghiasi kertas dengan gambar yang dapat membantu penilaian.

Di saat kawan-kawan membacakan puisinya di depan kelas, aku pun memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menyusun puisi. Untungnya Pak Deden sangat baik, memberikan kesempatan kepadaku untuk menulis walaupun namaku sudah dipanggil. Karena bingung menentukan tema puisi disebabkan dulu tidak suka puisi, maka terlintas begitu saja di pikiran untuk menulis puisi tentang diriku yang tidak suka puisi. Masalah hias-menghias dengan gambar di kertas bukanlah masalah bagiku, walaupun sebenarnya aku ragu gambarnya sesuai atau tidak dengan tema puisi. Bersyukur bisa menyelesaikan tugas akhir dalam waktu yang singkat.

Hampir semua kawan puisinya hebat-hebat, kebanyakan tentang asmara, dan gaya bacanya pun sungguh hebat, berani berekspresi sebebas-bebasnya. Adapun aku, Anda sendiri paham bahwa judul puisiku terkesan konyol, dan gaya membacaku hanya duduk di kursi depan kelas. Maksudku biar sesuai antara gaya membaca dengan isi puisi, kan aku tidak suka puisi, maka ekspresinya pun seadanya. Alibi! Sebenarnya aku tidak bisa beraksi di panggung pertunjukan, malunya kegedean.

Sebagian larik puisi yang ditulis lupa, begitu juga jumlah bait dan urutan setiap larik. Lagi pula kertas tugas langsung disita guru setelah selesai membaca, tanpa ada satu pun salinan buat kenang-kenangan. Padahal dulu setelah aku selesai baca, suasana kelas cukup meriah, bahkan sebagian kawan minta puisiku yang amburadul. Berikut beberapa penggalan larik yang masih ingat:
AKU TIDAK SUKA PUISI

Aku tak suka puisi
Aku tak mau baca puisi
Bagiku puisi hanyalah luapan jiwa
Yang penuh dengan nyanyian sastra

Seandainya ada tugas lain selain membaca puisi
Mungkin aku tidak akan grogi ..... (lupa)
...... (lupa)

Teman-teman yang ada di depanku
Ingin cepat-cepat kalau aku duduk di bangku
Katanya aku merusak bahasa
Yang penuh dengan nyanyian sastra
Alasan kenapa ditulis larik “katanya aku merusak bahasa”, karena jurusanku di SMA adalah Bahasa. Jurusan terindah dan spesial, karena dari sekian banyak siswa seangkatan dan banyak kelas, jurusan Bahasa hanya disediakan satu kelas dengan siswa seadanya, kurang dari 50 siswa. Atau mungkin kurang peminat dan tersisihkan? Entahlah, yang jelas aku bangga masuk jurusan Bahasa. Adapun larik “yang penuh dengan nyanyian sastra”, alasannya karena jurusan kami dua tahun berturut-turut diajarkan ilmu sastra, spesifiknya mata pelajaran Sastra Indonesia. Maka dari itu, pada dua larik terakhir secara tidak langsung aku meminta maaf kepada seluruh kawan, terutama kepada Pak Deden selaku guru Sastra Indonesia sekaligus wali kelas kebanggaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar